By Paman BED
Auditor itu menarik napas dalam-dalam—lebih panjang dari biasanya. Bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang terasa janggal, tapi belum sepenuhnya terdefinisi. Di hadapannya, lima kontrak jasa konsultan tersusun rapi. Terlalu rapi untuk sebuah proyek renovasi gedung perkantoran milik anak perusahaan BUMN.
Di dunia audit, kerapian kadang bukan pertanda ketertiban. Ia justru bisa menjadi tanda bahwa sesuatu telah disusun agar tampak wajar.
Dan sering kali, yang tampak wajar itulah yang paling perlu dicurigai.
Modus Lama, Bahasa Baru
Dalam praktik industri—terutama yang pernah bersinggungan dengan skema Production Sharing Contract—kontrak konsultan bukan barang asing. Ia sudah lama dikenal sebagai “pembungkus”: cara halus untuk menyelundupkan biaya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Golf. Jamuan makan. Hiburan. Relasi. Bahkan hal-hal yang terlalu sensitif untuk disebutkan dalam laporan resmi.
Semua itu tidak pernah ditulis apa adanya. Ia diterjemahkan menjadi “kajian teknis”, “studi lapangan”, atau “analisis strategis”.
Padahal sering kali, “kajian” itu sudah ada. Disusun oleh internal. Lalu dipoles ulang, dipinjamkan ke pihak eksternal, dan dikembalikan dalam bentuk kontrak.
Sisanya? Mengalir ke tempat yang tidak pernah tercatat secara jujur.
Allah telah mengingatkan dengan nada yang sangat jelas:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…”
(QS. An-Nisa: 29)
Yang batil tidak selalu hadir sebagai pencurian terang-terangan. Kadang ia datang dalam bentuk yang sangat administratif—lengkap, rapi, dan tampak sah.
Membongkar Kontainer
Kasus renovasi ini memang tidak terkait cost recovery. Tapi pola pikirnya terasa serupa: sesuatu yang ingin dibungkus agar tidak terlihat sebagaimana adanya.
Auditor itu pun berhenti membaca “judul”. Ia mulai masuk ke dalam.
Seperti petugas Bea Cukai yang tidak cukup puas hanya melihat PIB. Karena ia tahu—kebenaran tidak pernah tinggal di halaman pertama.
Ia akan membuka Packing List. Di sanalah isi sebenarnya berbicara:
- jenis barang yang spesifik,
- jumlah dan bentuk kemasan,
- berat bersih dan kotor,
- bahkan posisi barang dalam kontainer.
Dari situ, ia bisa tahu: mana yang sesuai dokumen, dan mana yang diselundupkan di antara yang legal.
Audit bekerja dengan cara yang sama.
Auditor itu tidak lagi sekadar membaca kontrak. Ia mulai mempertanyakan:
- apakah pekerjaan ini benar ada?
- apakah ruang lingkupnya unik, atau sekadar didaur ulang dengan judul berbeda?
- apakah nilainya masuk akal—atau hanya angka yang disepakati?
Ia tidak lagi menyebutnya sebagai completeness, existence, atau valuation.
Ia menyederhanakannya menjadi satu kata: kejujuran.
Dan ketika kelima kontrak itu dibuka satu per satu, isinya terasa ganjil. Judulnya berbeda. Tapi nadinya sama.
Seperti lima kontainer yang dikirim terpisah—namun membawa muatan identik.
Sunyi yang Tidak Biasa
Temuan itu sebenarnya cukup jelas: ada duplikasi pekerjaan dengan nilai yang tidak kecil.
Yang tidak biasa justru reaksinya.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada upaya menjelaskan.
Semuanya diterima—datar. Seolah-olah perdebatan tidak lagi relevan.
Padahal dalam banyak kasus, mereka yang merasa benar akan berusaha menjelaskan.
Akan mencari celah untuk mempertahankan argumen.
Ketika tidak ada itu semua, auditor justru semakin yakin:
ini bukan soal salah paham.
Ini soal sesuatu yang memang tidak bisa dijelaskan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menipu, maka ia bukan golonganku.”
(HR. Muslim)
Dan penipuan yang paling berbahaya adalah yang tidak melawan ketika ditemukan.
Setelah Laporan Diserahkan
Laporan Hasil Pemeriksaan disusun.
Berita Acara Permintaan Keterangan dilengkapi.
Semua bukti dirapikan.
Semua narasi dipastikan berdiri di atas fakta.
Lalu berkas itu diserahkan.
Dan di situlah, anehnya, banyak hal justru berhenti.
“Sedang diproses.”
“Masih dalam tindak lanjut.”
Kalimat-kalimat itu berulang, seperti rekaman yang macet di titik yang sama.
Auditor itu akhirnya memahami satu hal yang jarang diajarkan:
menemukan kebenaran tidak selalu berarti melihat keadilan terjadi.
Dan di titik itu, pekerjaan berubah menjadi ujian.
Amanah yang Tidak Selesai di Meja Kerja
Ada godaan yang halus dalam profesi ini:
menganggap tugas selesai ketika laporan selesai.
Padahal amanah tidak pernah sesederhana itu.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa: 58)
Amanah bukan hanya soal menyampaikan.
Ia juga tentang menjaga agar hati tidak ikut beradaptasi dengan kebiasaan yang salah.
Karena yang paling berbahaya bukanlah sistem yang rusak—
melainkan manusia yang perlahan menjadi terbiasa.
Di Balik Bungkus
Ini bukan sekadar cerita tentang lima kontrak.
Ini tentang bagaimana yang salah bisa tampak benar—selama dibungkus dengan cukup rapi.
Tentang bagaimana prosedur dipenuhi, sementara substansi diam-diam dilanggar.
Dan tentang bagaimana kebenaran bisa berhenti di meja yang tidak kita kuasai.
Lalu pertanyaannya menjadi sederhana—tapi tidak pernah ringan:
Apakah kita bagian dari yang membungkus, atau yang membongkar?
Allah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu campuradukkan yang benar dengan yang batil…”
(QS. Al-Baqarah: 42)
Penutup: Menjaga yang Tak Terlihat
Integritas tidak diuji saat semuanya terlihat.
Ia diuji justru ketika sesuatu bisa disembunyikan—dan kita tahu caranya.
Maka yang perlu dijaga bukan hanya sistem, bukan hanya prosedur,
melainkan sesuatu yang lebih sunyi:
ketidaknyamanan terhadap yang salah.
Karena pada akhirnya:
tidak semua yang dibungkus akan selamanya tersembunyi.
dan tidak semua yang diam berarti selesai.
Menipu orang lain mungkin bisa.
Berkomplot secara sistematis—bahkan melibatkan banyak pihak—pun mungkin terjadi.
Namun ada satu hal yang hampir mustahil:
menipu hati nurani sendiri.
By Paman BED























