Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta, FusilatNews – Cukup lama tak terlihat wira-wiri di ruang publik, ternyata Marzuki Alie kembali ke habitatnya sebagai seorang pendidik.
Ya, semula Marzuki Alie, yang akrab disapa MA, merupakan seorang pendidik. Lalu terjun ke dunia politik, dan kini kembali menjadi seorang pendidik.
Tercatat, begitu pensiun dari jabatan Ketua DPR RI 2009-2014, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat 2005-2010 ini langsung menjadi Rektor Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) di Palembang, Sumatera Selatan. Tentu saja ia juga menjadi seorang dosen alias pendidik di universitasnya itu.
Pendidikan adalah dunia yang bukan baru lagi bagi MA. Sebelum menjadi Ketua DPR, MA adalah Direktur Komersial PT Semen Baturaja, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang merangkap sebagai dosen vokasi di Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang.
Saat Indonesia dilanda krisis ekonomi yang berujung pada krisis multidimensional tahun 1998, MA melihat masalah utamanya adalah sumber daya manusia (SDM), sehingga pada 5 Oktober 1998 ia mendirikan Yayasan Pendidikan Indo Global Mandiri, dan pada tahun 1999, MA mendirikan Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika IGM, cikal bakal UIGM.
Pada saat yang sama, MA membangun Pondok Pesantren IGM Al Ihsania, sekarang berlokasi di Gandus, Sumsel, yang dilengkapi dengan Museum Al Qur’an Akbar.
Tahun 2002, MA mendirikan SMA Life Skill Teknologi Informatika, disusul tahun 2004 mendirikan SMP Life Skill Teknologi Informatika, juga di Palembang.
Tahun 2005, MA mendirikan SD Plus, dan tahun berikutnya giliran mendirikan Taman Kanak-kanak (TK).
Tahun 2003, MA mulai aktif di dunia politik demi memperbaiki kondisi bangsa melalui partai politik, sehingga pada 2005 ia menjadi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat.
Di Demokrat, MA lebih banyak bekerja di balik meja sebagai seorang konseptor. Banyak konsep-konsep yang ia telorkan sehingga partai politik berlambang Mercy ini sempat “booming” dan menjadi pemenang Pemilu 2009 saat MA menjabat sekjen.
Sayangnya, pria “low profile” kelahiran Palembang 1955 ini pada 2021 berselisih pendapat dengan Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga keduanya akhirnya pisah jalan. MA memilih hengkang dari Demokrat. Ia kini menjadi sosok independen.
Saat diminta wawancara sebagai rektor, dengan rendah hati mantan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Keuangan ini berkilah. “Saya tidak di dunia politik lagi, tapi di dunia pendidikan. Kurang menarik kalau diekspos,” ujarnya, Kamis (4/4/2025).
Memang, semasa menjabat Ketua DPR dan juga Sekjen Partai Demokrat, MA terlihat kalem. Tutur katanya santun dan terukur, dan gaya bicaranya tak meledak-ledak. Ia memang lebih cocok menjadi seorang pendidik daripada politikus.
Menurut suami Asmawati, mantan anggota DPD RI, ini menjadi rektor lebih banyak bersentuhan dengan urusan internal, sehingga ia sering menghindari wawancara dengan media. Apalagi yang bermuatan politik.
Sosok Bersih
Selain low profile, MA yang juga berlatar sebagai pengusaha ini juga dikenal sebagai sosok yang bersih. Karakter bersih terbentuk sejak menjadi PNS dan kemudian direksi PT Semen Baturaja dan puncaknya adalah Ketua DPR RI.
Dalam usianya yang sudah menjelang 70 tahun, MA kian mantap untuk berkiprah di dunia pendidikan. Ia seperti menemukan habitatnya kembali. Ibarat ikan menemukan airnya.
Ia selalu total dalam bekerja. Sebagai rektor dan pendidik pun, MA total dalam bekerja. “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”, sebuah ungkapan Jawa yang artinya kurang lebih “sedikit bicara, banyak bekerja.”
Dengan menjadi pendidik, MA memang telah naik kasta, dari kasta Ksatria ke kasta Brahmana, sebuah kasta tertinggi dalam struktur sosial agama Hindu.
Kini, MA telah “madeg pandhita” (menjadi guru bangsa).
























