• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketua MA dan Ustaz di Kampung Maling

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
February 10, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Ketua MA dan Ustaz di Kampung Maling
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024

Jakarta – Jika Abdul Rahman Saleh, Jaksa Agung 2004-2007 mendapat julukan dari anggota DPR sebagai “ustaz di kampung maling”, gegara banyak jaksa nakal, kini barangkali Ketua Mahkamah Agung (MA) Sunarto pun akan mendapat julukan yang sama jika ia menggelar rapat kerja dengan Komisi III DPR, gegara banyak hakim nakal.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini menggelar operasi tangkap tangan dan menangkap Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, I Wayan Eka Mariarta dan Bambang Setyawan, terkait kasus suap.

Ketua MA Sunarto mengaku sangat kecewa dengan dua hakim yang terkena OTT KPK itu.

Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada PN Jakarta Pusat, Djuyamto saat ini juga sedang diadili dalam kasus korupsi. Padahal ia sering memimpin persidangan kasus korupsi.

Sebelumnya, KPK juga melakukan OTT terhadap hakim PN Surabaya, Jawa Timur, dalam kasus suap terdakwa kasus pembunuhan Ronald Tannur.

Teranyar, MA dalam laporan tahunannya, Selasa (10/2/2026), menyampaikan bahwa sepanjang 2025, lembaga peradilan tertinggi di Indonesia itu menjatuhkan 220 sanksi disiplin kepada hakim dan aparatur peradilan, yang terdiri dari sanksi berat 50 orang, 56 orang sanksi sedang dan 114 orang sanksi ringan.

OTT yang dilakukan KPK terhadap hakim dan banyaknya hakim yang mendapat sanksi disiplin dari MA cukuplah menjadi bukti bahwa masih banyak hakim nakal di Indonesia.

Adapun maksud ustaz di kampung maling itu adalah Jaksa Agung sudah banyak melakukan pembinaan dan menceramahi anak buahnya, tapi masih tetap saja banyak jaksa nakal.

Ketua MA Sunarto pun mungkin demikian. Ia telah banyak melakukan pembinaan dan memberikan ceramah kepada hakim-hakim dan aparat peradilannya seperti panitera, tetapi tetap saja masih banyak hakim dan panitera yang nakal.

Pagar Makan Tanaman

Banyaknya jaksa dan hakim nakal tersebut menunjukkan kebenaran pepatah “seperti pagar makan tanaman”. Pagar yang seharusnya menjaga tanaman, justru memakan tanaman itu sendiri.

Jaksa dan hakim yang seharusnya menjaga dan menegakkan hukum, justru merusak dan melanggar hukum itu sendiri.

Faktor Pemicu

Mengapa masih banyak saja jaksa dan hakim nakal? Bukankah gaji, tunjangan kinerja, dan remunerasi mereka sudah cukup tinggi?

Ada dua motif korupsi. Yakni, corruption by need (korupsi karena kebutuhan), dan corruption by greed (korupsi karena keserakahan). Corruption by greed inilah yang memicu oknum jaksa dan hakim melakukan korupsi.

Itu faktor pertama mengapa banyak Jaksa dan hakim melakukan korupsi.

Faktor kedua, hukuman terhadap koruptor relatif rendah. Rata-rata hukuman koruptor di Indonesia adalah 3,5 tahun penjara. Ini belum dipotong remisi kelakuan baik, remisi 17 Agustus dan remisi hari raya keagamaan.

Dengan kata lain, pengadilan gagal menciptakan detterent effect (efek jera) dan shock therapy (terapi kejut). Padahal tujuan penegakan hukum dan pemidanaan dalam pemberantasan korupsi adalah menciptakan efek jera bagi koruptor itu sendiri, dan menimbulkan tetapi kejut bagi calon koruptor lainnya.

Sebab itu, ada koruptor yang setelah bebas kemudian ditangkap lagi dalam kasus korupsi lainnya. Namanya residivis koruptor. Atau seorang koruptor terlibat dalam lebih dari satu kasus.

Pun, ada saja koruptor yang ditangkap, padahal baru saja rekan sejawatnya ditangkap dalam kasus korupsi. Mereka tidak takut. Mereka merasa sedang apes saja ketika tertangkap.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo dan Ilusi Perdamaian: Saat “Damai” Menjadi Alat Penghapusan Palestina

Next Post

Operasional Mesin Olah Runtah di Jawa Barat Dihentikan Usai Dikritik Menteri Lingkungan Hidup

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Operasional Mesin Olah Runtah di Jawa Barat Dihentikan Usai Dikritik Menteri Lingkungan Hidup

Operasional Mesin Olah Runtah di Jawa Barat Dihentikan Usai Dikritik Menteri Lingkungan Hidup

Gini Rasio Mengintai: Ketimpangan yang Diam-Diam Menggerogoti Bangsa

Gini Rasio Mengintai: Ketimpangan yang Diam-Diam Menggerogoti Bangsa

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...