Fusilatnews – Di negeri bernama Republik ini, mimpi bisa jadi kenyataan, bahkan mimpi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan logika. Dari vokalis band ke kursi komisaris, dari teriak “presiden 2024” ke ruang rapat Dewan Komisaris BUMN. Selamat datang Giring Ganesha, komisaris independen baru PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI). Sebuah BUMN strategis yang tengah sempoyongan secara keuangan, tapi justru kedatangan penumpang baru—tanpa koper kompetensi.
Pertanyaannya sederhana dan tak perlu not balok: apakah kehadiran Giring adalah solusi atas kerugian atau justru tambahan beban bagi perusahaan?
GMFI bukan sedang bermain-main. Ini perusahaan yang mengelola pemeliharaan armada udara. Kesalahan kecil bisa berujung tragedi besar. Tapi sayangnya, GMFI juga sedang tenggelam dalam tumpukan utang dan defisit. Dalam laporan keuangan terakhir, perusahaan ini mencatat kerugian yang bukan hanya memekakkan telinga, tapi juga menyesakkan dada: ratusan miliar rupiah dalam neraca merah.
Dalam kondisi seperti ini, lazimnya perusahaan memanggil ahli. Mereka yang paham aviasi, teknik mesin, manajemen risiko, dan strategi pemulihan keuangan. Tapi GMFI malah menunjuk Giring—seorang mantan vokalis band Nidji yang lebih dikenal karena teriakannya di panggung politik dibanding jejak profesionalnya di industri aviasi atau korporasi.
Apa pertimbangannya? Loyalitas politik? Popularitas media? Atau memang jabatan komisaris kini tidak lebih dari panggung kedua bagi mereka yang gagal dalam panggung utama politik?
Kita tak anti musisi. Musik adalah seni. Tapi saat seorang musisi ditunjuk mengawasi perusahaan vital yang mengurusi keselamatan penerbangan nasional, kita harus bertanya dengan lantang: apakah ini solusi atau sekadar beban baru?
Giring tidak dikenal publik sebagai profesional di bidang aviasi atau perawatan pesawat. Ia tak punya rekam jejak di bidang keuangan korporasi, apalagi turnaround strategy. Maka, publik berhak mencurigai bahwa penunjukannya adalah bentuk pelestarian budaya patronase politik yang menyaru dalam bungkus meritokrasi palsu.
Kalau kehadirannya tidak bisa menyumbang strategi, tidak bisa mendorong efisiensi, tidak bisa membantu restrukturisasi—maka jabatan itu bukan solusi. Itu beban. Beban ganda, karena dibayar oleh perusahaan yang sedang berdarah-darah keuangannya, dan dibayar oleh rakyat sebagai pemilik sejati BUMN.
Lebih buruk lagi, penunjukan seperti ini mengirim sinyal buruk bagi profesional muda di industri. Bahwa kerja keras, pendidikan tinggi, dan kompetensi tak lagi relevan. Yang penting viral, loyal, dan vokal di momen yang tepat.
Jadi mari kita tanya ulang: Apakah Giring adalah harapan baru GMFI? Atau justru seperti menambah gitaris ke dalam tim teknisi pesawat—terdengar keren, tapi tak ada gunanya saat mesin pesawat butuh overhaul, bukan soundcheck?
BUMN tidak butuh cheerleader, tapi troubleshooter. Negeri ini sudah terlalu lama memberi panggung kepada yang pandai tampil, bukan yang ahli memperbaiki. Dan GMFI, sayangnya, kini tengah jadi panggung terbaru eksperimen itu.
Kalau ke depan pesawat Garuda terbang lebih lambat, mungkin bukan karena mesinnya rusak—tapi karena terlalu banyak beban di kabin komisarisnya.

























