Fusilatnews – Ia berkata ia sehat. Ia muncul, dan mengatakan tubuhnya hanya terserang alergi. Sebentuk gangguan kecil, seperti debu yang singgah sebentar lalu hilang ditiup angin.
Tapi pernyataan itu datang dari seorang mantan presiden. Seseorang yang tak pernah benar-benar pergi dari pusaran kekuasaan, bahkan ketika masa jabatannya telah selesai. Dan ketika tubuhnya absen, politik bertanya. Rakyat bertanya. Negara bertanya dalam diamnya.
Tubuh pemimpin adalah tubuh yang bukan lagi sepenuhnya milik pribadi. Ia telah menjadi lambang, ia telah menjadi layar tempat orang membaca isyarat. Maka ketika ia tampak rapuh, kabar tentang tubuhnya bukan sekadar gosip, tapi pertanyaan tentang arah. Tentang masa depan yang masih digenggam oleh bayangan kekuasaannya.
Mengapa bukan dokter yang bicara? Mengapa negara tak bersuara, padahal negara memiliki protokol? Ketika presiden jatuh sakit di negara yang sehat secara demokratis, suara pertama bukan datang dari sang presiden itu sendiri, tapi dari institusi. Dari profesional. Dari sistem yang menjamin bahwa tak ada ruang bagi tafsir liar yang bisa berubah jadi ketidakpercayaan.
Kita hidup di sebuah republik yang katanya modern, tapi kadang terlalu feodal untuk membedakan mana tubuh personal dan mana tubuh publik. Ketika seorang pemimpin berbicara tentang dirinya sendiri tanpa disertai legitimasi institusional, kita bertanya-tanya: apakah ini narasi atau kebenaran?
Di zaman ini, kebenaran bisa tampak seperti suara yang paling nyaring, bukan yang paling sahih.
Klarifikasi sang mantan presiden pun terasa seperti sebaris kalimat dari panggung yang sepi. Ia hadir bukan untuk menjawab, tapi untuk meredam. Bukan untuk membuka, tapi untuk menutup jendela pertanyaan yang justru mengundang lebih banyak tanya.
Tubuh itu, pada akhirnya, adalah metafora dari kekuasaan. Ia bisa tampak kuat, bisa pula ringkih. Ia bisa dilindungi oleh tembok protokol, tapi juga bisa ditelanjangi oleh spekulasi. Dan ketika kekuasaan pernah hidup dalam tubuh itu, tubuh itu tak bisa lagi sembunyi dalam privasi.
Kita hidup di antara yang tersirat dan yang tersurat. Antara yang dikatakan dan yang tidak diucapkan. Dan barangkali, dalam kasus ini, kita sedang menyaksikan bagaimana kekuasaan yang belum selesai justru menunjukkan wajahnya yang paling rapuh: ketakutan akan keterbukaan.
Mungkin bukan tubuh yang sakit. Tapi sistem yang tak lagi percaya pada kejujuran yang datang dari luar dirinya.
Atau seperti kata seorang penyair:
“Yang sakit bukan tubuhnya, tapi jarak antara kata dan kenyataan.”
























