• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Konflik Internal Keraton Surakarta: “Rebut Balung Tanpa Isi”?

Redaktur Senior 01 by Redaktur Senior 01
December 25, 2022
in Feature
0
Indonesia Negeri Para Bedebah
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI) 

JAKARTA – “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet,” kata William Shakespeare (1564-1616), pujangga terbesar Inggris, yang artinya kurang lebih, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”

Itu bagi Shakespeare. Belum tentu bagi yang lain. Bagi para penggawa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah, misalnya, sebuah nama atau gelar amatlah penting. Nama/gelar Paku Buwono, misalnya. Sebab pada nama/gelar itu melekat jabatan, yakni Raja atau Sunan atau Sri Susuhunan. Pada jabatan melekat otoritas/kekuasaan. 

Namun otoritas/kekuasaan itu sesungguhnya sombolik belaka, karena Sunan tidak punya kekuasaan politik apa pun. Sunan sekadar simbol budaya, pemangku adat.

Akibat perebutan nama/gelar itulah hingga kini konflik internal terus mendera keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Teranyar, Jumat (23/12/2022) petang lalu terjadi bentrokan fisik antara dua kubu yang mengakibatkan lima orang terluka dari dua kubu yang berbeda.

Kubu pertama adalah Paku Buwono XIII (Hangabehi), dan kubu kedua adalah Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton pimpinan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah atau akrab disapa Gusti Moeng.

Konflik berpangkal dari “kelalaian” Paku Buwono (PB) XII yang hingga mangkatnya pada 12 Juni 2004 tidak mengangkat putra mahkota sebagai calon penggantinya, karena ia tidak memiliki permaisuri. PB XII seakan menanam bom waktu. Bom waktu itu akhirnya meledak. Dua putranya dari dua selir yang berbeda mendeklarasikan diri masing-masing sebagai Sri Susuhunan Paku Buwono XIII. Keduanya adalah Hangabehi, yang kala itu didukung kerabat Keraton lainnya, dan Tedjowulan. 

Hangabehi yang merupakan putra tertua dari selir ketiga PB XII mendeklarasikan diri sebagai PB XIII pada 31 Agustus 2004.

Sedangkan Tedjowulan, yang juga putra PB XII namun dari selir yang berbeda, mendeklarasikan diri sebagai PB XIII pada 9 November 2004. Sejak itu, terdapat raja kembar di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ada matahari kembar di sana.

Dualisme yang berlarut-larut itu akhirnya memaksa pemerintah melakukan “intervensi”, atas permintaan pihak keraton, mulai dari Walikota Surakarta (saat itu) Joko Widodo, hingga Presiden (saat itu) Susilo Bambang Yudhoyono. 

Setelah 8 tahun terjadi dualisme, akhirnya pada 2012, Hangabehi dan Tedjowulan sepakat berdamai dan menandatangani akta rekonsiliasi. Hangabehi yang merupakan putra tertua PB XII tetap menjadi raja/sunan, sedangkan Tedjowulan menjadi mahapatih atau perdana menteri dengan gelar KGPH (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo) Panembahan Agung.

Namun, meski sudah ada rekonsiliasi, konflik internal Keraton Surakarta belum juga berakhir. Sejumlah keturunan PB XII menolak rekonsiliasi dan mendirikan Lembaga Dewan Adat Keraton. Lembaga itu kemudian memberhentikan sang raja. 

Lembaga Dewan Adat Keraton berpandangan selama memerintah, Hangabehi beberapa kali melakukan pelanggaran. Salah satu pelanggaran yang sempat jadi perhatian adalah raja tersebut tersangkut tindak pidana pelecehan seksual.

Lembaga Dewan Adat Keraton pun melarang raja dan pendukungnya memasuki keraton. Sejumlah pintu masuk raja menuju gedung utama keraton dikunci dan ditutup dengan pagar pembatas. Akibatnya, PB XIII Hangabehi yang sudah bersatu dengan Tedjowulan tak bisa bertakhta di Sasana Sewaka Keraton Surakarta.

Konflik internal pun terus berlanjut. Bentrokan fisik yang terjadi Jumat (23/12/2022) petang lalu itu dipicu oleh isu pencurian dan penganiayaan yang melibatkan pihak dalam keraton.

Pertanyaannya, apa sesungguhnya yang mereka perebutkan sehingga terus berkonflik? Mereka berebut takhta, nama atau gelar. Padahal, semua itu cuma simbol budaya dan prestise belaka. Sunan tak punya kekuasaan politik apa pun. Keraton pun cuma sebagai pemangku budaya, tidak punya kekuasaan politik. Dengan kata lain, mereka ibarat “rebut balung tanpa isi” (berebut tulang tanpa sumsum). Benarkah?

Tidak benar-benar amat. Sebab, sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, keraton adalah cagar budaya. Sebagai cagar budaya, Keraton Surakarta mendapat bantuan keuangan dari pemerintah, baik pusat, Provinsi Jawa Tengah, maupun Kota Surakarta.

Sunan juga dilayani “abdi dalem” yang jumlahnya mencapai 400-an orang. Mereka mendapat gaji meskipun relatif kecil, yakni antara Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan. Jika gaji mereka tertunggak, penyebabnya antara lain konflik internal sehingga pemerintah sementara menghentikan bantuan, Sunan harus merogoh kocek pribadi. Sebab itu, istilah “rebut balung tanpa isi” tersebut tidak salah-salah amat.

Dikutip dari Wikipedia, semula Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan Lembaga Istana (Imperial House) yang mengurusi Sri Susuhunan dan keluarga kerajaan, di samping menjadi pusat pemerintahan. 

Setelah tahun 1946, peran Keraton Surakarta tidak lebih hanya sebagai Pemangku Adat Jawa khususnya garis/gaya Surakarta. Begitu pula Sri Susuhunan tidak lagi berperan dalam urusan kenegaraan sebagai seorang raja dalam artian politik, melainkan sebagai Baginda Yang Dipertuan Pemangku Takhta Adat, simbol dan pemimpin informal kebudayaan. Fungsi keraton pun berubah menjadi pelindung dan penjaga identitas budaya Jawa, khususnya gaya Surakarta. 

Walaupun dengan fungsi yang terbatas pada sektor informal, namun Keraton Surakarta tetap memiliki kharisma tersendiri di lingkungan masyarakat Jawa khususnya di bekas wilayah Kesunanan Surakarta (Kota Surakarta, Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sukoharjo). 

Selain itu, Keraton Surakarta juga memberikan gelar kebangsawanan kehormatan (honoris causa) kepada mereka yang mempunyai perhatian kepada budaya Jawa, khususnya budaya Jawa gaya Surakarta maupun perhatian dan sumbangsih mereka terhadap eksistensi Keraton Surakarta, di samping mereka yang berhak karena hubungan darah maupun karena posisi mereka sebagai pegawai (abdi dalem) keraton.

Mungkin karena itulah mereka berjibaku berebut takhta hingga 18 tahun lamanya, meski takhta itu kini hanya sekadar mahkota tanpa kuasa.

Sarat Konflik

Dihimpun dari berbagai sumber, Keraton Surakarta adalah Istana dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dibangun pada 1744. Keraton ini dibangun oleh Susuhan Paku Buwono II (Sunan PB II) sebagai pengganti Keraton Kartasura yang hancur akibat “Geger Pecinan” pada 1743. Geger Picinan adalah pemberontakan kaum Tionghoa karena PB II memihak Belanda.

Dalam perjalanannya, Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dikenal sebagai Kerajaan Mataram Islam pertama, memang sarat konflik sejak mula. Pasalnya, kasunanan ini di masa pemerintahan PB II sempat berkolaborasi dengan VOC atau pemerintah kolonial Belanda. Lalu Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said memberontak.

Pemberontakan Mangkubumi resmi diakhiri ketika Perjanjian Giyanti ditandatangani pada 13 Februari 1755, yang isinya membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Nagari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat diberikan kepada Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I, sementara Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi hak Paku Buwono III.

Raden Mas Said, yang tidak terlibat dalam Perjanjian Giyanti dan merasa belum mendapatkan haknya, semakin gencar melakukan perlawanan terhadap Hamengku Buwono I, Paku Buwono III, dan VOC.

Di saat yang sama, VOC terus menawarkan solusi dengan jalan perundingan, yang akhirnya diterima oleh Raden Mas Said. Pihak-pihak terkait kemudian berkumpul di Salatiga, Jawa Tengah, 17 Maret 1757 untuk menyepakati perjanjian. Dalam perjanjian ini, Raden Mas Said diakui sebagai pangeran merdeka dengan wilayah otonom berstatus kadipaten yang disebut Praja Mangkunegaran.

Perjanjian Salatiga menandai berdirinya Mangkunegaran. Mangkunegaran merupakan kadipaten yang posisinya di bawah kasunanan dan kasultanan, sehingga penguasanya tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan.

Kini, dengan adanya konflik internal yang berlarut-larut, bahkan hingga 18 tahun, apakah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat perlu dibagi menjadi dua lagi?

Kita tidak tahu. Yang jelas, konflik internal tersebut menjadikan rencana renovasi bangunan keraton yang sudah mengalami kerusakan di sana-sini terhambat. Pihak keraton sudah minta untuk segera renovasi, tapi pihak pemerintah mengajukan syarat konflik internal diselesaikan dulu baru kemudian dilakukan renovasi.

Bantuan keuangan dari pemerintah juga akan terhambat jika konflik internal tak kunjung berakhir. Abdi dalem yang notabene “wong cilik” akan lebih menderita. 

Alhasil, jika kedua kubu tak ada yang mau mengalah, maka nasibnya akan seperti yang digambarkan Ajisaka, yakni “ma ga ba tha nga” (kedua pihak akan sama-sama menjadi “bangkai”) alias “sampyuh”. Lebih tragis dari “rebut balung tanpa isi”. Itulah!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Gembong (PDIP) Gundah Dengan Kebijakan Pj. Gubernur Heru Budi – Ancam Ribuan Pengangguran Baru

Next Post

Paus Fransiskus Kutuk Perang, Kemiskinan Dan Konsumerisme Dalam Pesan Natal

Redaktur Senior 01

Redaktur Senior 01

Related Posts

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup
Economy

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar
Feature

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip
Feature

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Next Post
Paus Fransiskus Kutuk Perang, Kemiskinan Dan Konsumerisme Dalam Pesan Natal

Paus Fransiskus Kutuk Perang, Kemiskinan Dan Konsumerisme Dalam Pesan Natal

Menyimak Instagram Bangsa Miring

Evaluasi Akhir Tahun 22; Demokrasi Menurun, IKN Jadi Masalah Baru Perlu Dimitigasi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

April 25, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

Negara Katanya Sehat, Tapi Mengapa Terlihat Sesak Napas?

April 25, 2026
Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist