BANDUNG, Fusilatnews — Puluhan warga di kawasan Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat masih dinyatakan hilang setelah longsor besar yang terjadi Sabtu (24/1) dini hari. Bencana ini belum hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memicu kritikan keras dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mendesak pemerintah agar melakukan investigasi yang transparan dan akuntabel terhadap penyebab sebenarnya longsor tersebut.
Data terbaru dari tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Nasional menunjukkan bahwa puluhan orang masih belum ditemukan, dengan jumlah korban hilang diperkirakan lebih dari 70 jiwa yang tertimbun material longsor. Situasi di lokasi pencarian masih penuh tantangan karena medan yang tidak stabil serta potensi hujan susulan yang memperlambat akses alat berat dan tim penyelamat.
Anggota DPR dari Komisi IV, yang membidangi lingkungan hidup dan mitigasi bencana, menyatakan keprihatinannya atas kejadian ini. Mereka menilai bahwa penanganan awal bencana dan mitigasi risiko sebelum longsor terjadi belum optimal. “Kita tidak hanya meratapi korban, tetapi perlu mengetahui apakah ada **kelalaian dalam tata ruang, pengelolaan lahan, atau praktik pembangunan yang melanggar aturan sehingga memperparah risiko longsor,” ujar salah satu wakil rakyat di Jakarta, Minggu (25/1). (Sumber: Pernyataan DPR)
Sorotan DPR makin tajam karena menurut mereka penyebab bencana tidak semata karena hujan deras, tetapi kemungkinan juga dipicu oleh perubahan penggunaan lahan di daerah rawan longsor. Aktivis lingkungan sebelumnya sudah memperingatkan bahwa area lereng yang longsor termasuk dalam Zona Perlindungan Air dan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai buffer kawasan Bandung. Namun berbagai kegiatan pembangunan, termasuk pembukaan lahan tanpa pengawasan ketat, diduga telah melemahkan struktur vegetasi penahan tanah.
Sementara itu, tim SAR gabungan terus melakukan pencarian dengan peralatan sederhana di lorong-lorong material longsor, didampingi anjing pelacak dan drone untuk mencari titik-titik panas. Basarnas memperingatkan bahwa ancaman hujan lanjutan bisa memperbesar risiko runtuhan material lagi, sehingga operasi dilakukan dengan sangat hati-hati demi keselamatan tim penyelamat.
Relawan dan warga sekitar juga membentuk barisan untuk membantu evakuasi, mengangkat korban, serta menyiapkan daftar warga yang belum ditemukan untuk disampaikan kepada keluarga yang menunggu kabar. “Kami harap pemerintah segera membuka data seluruh warga yang hilang, termasuk identitasnya, sehingga proses pencarian bisa lebih cepat dan tertata,” kata ketua rukun warga setempat. (Sumber Warga)
DPR menegaskan bahwa setelah operasi pencarian selesai, pihaknya akan mendorong terbentuknya tim independen yang terdiri dari pakar geologi dan tata ruang untuk mengungkap akar penyebab longsor. Hasil investigasi ini dinilai penting sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana di masa depan — khususnya untuk kawasan yang sering mengalami hujan ekstrem dan kerentanan tanah longsor tinggi.
























