FusilatNews – Dalam lanskap politik dan keagamaan Indonesia, KH Ma’ruf Amin menampilkan sosok yang khas: seorang ulama dengan pengalaman panjang di ranah akademik, keislaman, dan pemerintahan. Paska sebagai Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, Ma’ruf tidak larut dalam hiruk-pikuk politik praktis yang kerap menjebak banyak mantan pejabat. Sebaliknya, ia memilih kembali kepada akar pengabdiannya: mengajar, membimbing umat, dan meneguhkan tradisi intelektual Islam.
Kontras dengan Ma’ruf, Presiden Joko Widodo (Jokowi) paska-kepemimpinannya masih belum menunjukkan arah yang jelas dalam kiprahnya. Kehadirannya wara-wiri di berbagai forum dan pertemuan politik lebih banyak menimbulkan tanda tanya daripada memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Berbeda dengan Ma’ruf yang langsung kembali ke dunia keilmuan dan dakwah, Jokowi tampak sibuk dengan pergerakan politik yang tidak jelas ujungnya.
Salah satu bentuk nyata dedikasi Ma’ruf Amin terhadap dunia intelektual Islam adalah keterlibatannya dalam kajian kitab-kitab klasik, seperti yang baru-baru ini digelar oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada 3 Maret 2025, Ma’ruf membuka kajian kitab Arrisalah Jam’iatul Maqashid karya Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, yang menjadi bagian dari pengajian rutin Ramadhan PKB. Dalam forum ini, ia menekankan pentingnya manhajil hayat ala manhajillah, yaitu menjalani kehidupan sesuai dengan jalan Allah. Dengan kembali kepada tradisi intelektual Islam, Ma’ruf Amin memberikan contoh bahwa pengabdian seorang pemimpin tidak harus berakhir bersama jabatannya.
Sebagai seorang ulama sekaligus negarawan, Ma’ruf Amin memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga keteladanan. Pengajaran yang ia lakukan bukan sekadar ritual simbolik, melainkan bagian dari upaya membangun kembali tradisi keilmuan Islam yang mulai tergerus oleh pragmatisme politik. Ia tidak terjebak dalam politik transaksional, tetapi justru memperkuat akar spiritual dan intelektual yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Sikap Ma’ruf yang tetap mengabdi melalui dakwah dan pendidikan juga membedakan dirinya dari banyak pejabat lain yang setelah lengser lebih sibuk membangun dinasti politik atau mencari keuntungan ekonomi. Dengan kesederhanaannya, ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati tetap memiliki peran dalam masyarakat, bahkan setelah tidak lagi berada di kursi kekuasaan.
Dengan demikian, KH Ma’ruf Amin memberi kita pelajaran penting tentang makna kepemimpinan yang sejati. Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin yang memiliki kompetensi akan tetap bermanfaat bagi umat, bahkan paska dari jabatannya. Sementara itu, fenomena mantan pemimpin yang sibuk tanpa arah yang jelas seharusnya menjadi refleksi bagi bangsa ini: bahwa jabatan hanyalah sarana untuk mengabdi, bukan tujuan akhir. Ketika seseorang meninggalkan jabatan tetapi masih bisa memberikan ilmu dan manfaat bagi masyarakat, itulah bukti sejati dari kepemimpinan yang sesungguhnya.
























