Jakarta-Fusilatnews.- Regime Jokowi ituseperti phobia dengan kata “perubahan”. Padahal setiap pergantian Presiden dan Pemerintahan, “called” nya adalah, inherent beragendakan sebagai Perubahan kearah yang lebih baik. Ini sunatullah. Terjadi dalam setiap diri orang dan kehidupan, bahwa hari esok adalah hari yang harus lebih baik daripada hari yang lalu.
“Sekarang kita sudah ketemu pattern (pola) untuk menjadi negara high income country, itu saya kira bisa kita lakukan, karena juga dari segi demografi bonus, kekayaan alam, downstream industry, digitalisasi, kemudian dana desa, itu ingredients daripada untuk membuat Indonesia hebat,” kata Luhut di sela Jakarta Geopolitical Forum ke-7 di Jakarta, Rabu (14/6).
“Saya berharap siapapun presiden ke depan harus melakukan ini, tidak usah bicara perubahan lah, bagaimana menyempurnakan, mempercepat proses ini, supaya generasi kalian juga bisa nanti melihat itu, karena kalau tidak kita fokus pada pekerjaan ini, belok-belok, nanti tidak jalan,” katanya.
LBP sepertinya abai terhadap laporan angka-angka teknis yang disampaikan oleh Menteri Bappenas Monorafa, ada 10 prgram yang tidak mencapai target jangka Panjang, antara lain stunting dan di bidang Kesehatan lainnya.
Baca : https://fusilatnews.com/menteri-bappenas-monoarfa-10-program-jokowi-gagal/
Konsep Hilirisasi Industri bukan dilahirkan diregime Jokowi, Menristek BJ Habibi, diawal telah memperkenalkan Istilah “proses nilai tambah”, yang kini disebut dengan apa yang sering diutarakan oleh Jokowi sebagai hilirisasi itu.
Habibi memberi contoh yang sederhana, harga sekilo besi, bila diubah menjadi sebauh baud, akan jauh lebih mahal harganya. Ituah yang kemudian melahirkan konsep industri strategis, yang dibangun oleh ORBA. Salah satu diantaranya adalah pembangunan pabrik industry baja Krakatau steel di Cilegon. Dibangun untuk memperkuat industry hilir sebagai proses nilai tambah tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Indonesia telah menemukan pola untuk masuk kelompok negara berpenghasilan tinggi (high income country). Statemen tersebut, terjadi dari proses sejak Indonesia mulai dibangun secara berksesinambungan dan bertahap sejak ORBA
Ia menyebut kebijakan seperti hilirisasi industri merupakan salah satu resep terwujudnya pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk bisa mencapai high income country.
“Sekarang kita sudah ketemu pattern (pola) untuk menjadi negara high income country, itu saya kira bisa kita lakukan, karena juga dari segi demografi bonus, kekayaan alam, downstream industry, digitalisasi, kemudian dana desa, itu ingredients daripada untuk membuat Indonesia hebat,” kata Luhut di sela Jakarta Geopolitical Forum ke-7 di Jakarta, Rabu (14/6).
Luhut berharap presiden selanjutnya meneruskan resep yang dimiliki Indonesia untuk menjadi high income country. Menurutnya, jika tidak fokus, tujuan itu tidak akan tercapai.
“Saya berharap siapapun presiden ke depan harus melakukan ini, tidak usah bicara perubahan lah, bagaimana menyempurnakan, mempercepat proses ini, supaya generasi kalian juga bisa nanti melihat itu, karena kalau tidak kita fokus pada pekerjaan ini, belok-belok, nanti tidak jalan,” katanya.
LBP lupa, bahwa persoalan pokok bangsa Indonesia itu, penyebabnya adalah soal Korupsi, Nepotisme dan Kolusi yang menjadi-jadi, seperti yang pernah diungkapkan oleh Menkopolhukam Mahfud MD, KKN itu menggila di era sekarang. Pecah belah di masyarakat yang mengancam kesatuan dan persatuan, sehingga ujung kesimpulannya justru diperlukan “strong leader”

























