FusilatNews – Dalam sebuah kritik yang cukup tajam, Prof. Ferry Latuhin pernah melontarkan sebuah ungkapan sederhana namun menggugah logika ekonomi: “Masuk di mulut, keluar di toilet.” Kalimat itu bukan sekadar sindiran biologis tentang proses makan, tetapi sebuah metafora untuk mempertanyakan arah kebijakan publik yang menghabiskan anggaran sangat besar tanpa meninggalkan jejak investasi yang jelas.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai investasi masa depan bangsa. Narasinya terdengar sangat mulia: memperbaiki gizi anak, mencegah stunting, serta menyiapkan generasi emas Indonesia. Tidak ada yang menolak tujuan tersebut. Bahkan hampir semua orang sepakat bahwa kualitas gizi anak memang harus menjadi perhatian negara.
Namun, dalam logika ekonomi publik, niat baik tidak cukup. Setiap rupiah dari uang negara harus bisa dipertanggungjawabkan dalam kerangka nilai jangka panjang.
Di sinilah kritik Prof. Ferry Latuhin menemukan relevansinya.
Makanan, secara alamiah, adalah barang konsumsi yang sifatnya habis pakai. Ia tidak meninggalkan aset, tidak membangun infrastruktur, dan tidak menciptakan sistem produksi baru. Ia hanya memberikan efek sementara: kenyang, energi sesaat, lalu selesai.
Masuk di mulut.
Dicerna tubuh.
Keluar di toilet.
Jika negara menghabiskan anggaran puluhan hingga ratusan triliun rupiah untuk sesuatu yang sifatnya habis dalam hitungan jam, maka pertanyaan kritis menjadi tidak terelakkan: di mana sebenarnya letak investasinya?
Dalam teori pembangunan, investasi negara biasanya diarahkan pada sektor yang meninggalkan warisan jangka panjang. Jalan tol dibangun untuk puluhan tahun. Bendungan mengairi sawah selama generasi. Sekolah melahirkan ilmu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tetapi makanan tidak memiliki sifat itu. Ia harus dibeli lagi besok, dibayar lagi minggu depan, dan dibiayai lagi tahun depan. Program seperti ini bukan investasi dalam arti ekonomi klasik, melainkan program distribusi konsumsi yang berulang tanpa akhir.
Artinya, negara masuk dalam siklus pembiayaan yang tidak pernah selesai.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah transparansi anggaran. Program sebesar MBG tentu melibatkan rantai pengadaan yang sangat panjang: penyedia bahan makanan, distribusi logistik, pengolahan makanan, hingga pengawasan pelaksanaannya.
Publik berhak mengetahui secara jelas:
siapa yang mendapat kontrak, bagaimana mekanisme pengadaannya, dan apakah sistemnya benar-benar efisien.
Tanpa transparansi, program sebesar apa pun akan mudah memunculkan pertanyaan.
Bukan karena masyarakat ingin bersikap sinis, tetapi karena pengalaman panjang menunjukkan bahwa anggaran besar selalu menarik kepentingan besar.
Di sinilah satire menjadi cara untuk menyederhanakan kritik yang sebenarnya sangat serius. Ungkapan Prof. Ferry Latuhin—“masuk di mulut, keluar di toilet”—mengajak kita kembali pada logika dasar ekonomi publik.
Apakah uang negara sedang digunakan untuk membangun masa depan, atau sekadar untuk membiayai siklus konsumsi yang habis dalam sehari?
Karena investasi yang sejati selalu meninggalkan jejak.
Sementara makanan, betapapun bergizinya, hanya meninggalkan rasa kenyang yang tidak pernah bertahan lama.
























