Kemarin kejadian hasil ilmu falak, bisa memprediksi detik demi detik, posisi Bulan, Matahari dan Bumi. Kepastian itu, menjelaskan kapan ramadhan berakhir dan 1 syawal dimulai. Lalu kita mengerti kapan seharusnya bisa mulai melaksankan ibadah-ibadah yang berkaitan dengan itu. Artinya, sudah tidak perlu lagi repot-repot-repot mengintai sang rembulan muncul. Pada pukul 11.15, bulan sudah terlihat. Artinya itu adalah akhir ramdhan jatuh pada tanggal 20 April 2023.
Tetapi hasil sudang Isbath menetapkan, 1 Syawal 1444 jatuh pada hari sabtu, tanggal 22/2023, dan Habib Rizieq menghimbau untuk mengikuti hari raya, berdasarkan ketetapan Perintah. Tetapi tanggal 21/4/23, tidak boleh berpuasa, karena hukumnya haram berpuasa di hari tasrik.
Dibahas kemudian oleh para BuzzerRp. Mempertanyakan seperti pada diri HRS ada perubahan. Ada apa dengan Habib Rizieq Shihab, sehingga menghimbau jamaahnya untuk berlebaran pada hari Sabtu. Lalu ramailah pulalah, sebagian awam mengecam fatwa HRS tersebut. Seolah-olah HRS sudah berubah haluan. Ia menjadi bagian dari regime Jokowi. Betul, bila mereka yang tidak faham fiqih (syari’ah), bisa dibaca secara harfiyah, keputusan Imam itu, seperti yang ada dalam benak si awam tadi. Ikut keputusan Pemerihan Jokowi.
Sesungguhnya, tidak demikian. HRS berdasar pada qur’an dan sunnah. Tidak semata-mata mengikuti keputusan Pemerintah. Ada dalil dan hujjahnya.
Perbedaan NU dan Muhammadiayah dalam menentukan akhir ramdhan dan 1 syawal seringkali terjadi. Tentu saja bagi warga NU, keputusan oganisasisnya, menjadi kewajiban untuk diikuti. Pun bagi warga Muhammadiyah. Tarjih adalah landasannya. Perbedaan menjalankan keyakinan, dijamin oleh konstitusi. Negara tidak boleh melarang orang yang hendak beribadah, berdasrkan keyakinannya. Ini adalah prinsip.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana bila mereka yang bukan warga Muhammadiyah pun bukan Nahdiyin? Hendak memilih idul fitri, versi Muhammadiyah atau versi NU!? Habib memberi fatwa, ikuti hari raya menurut versi Pemerintah. Apakah Habib ikut NU? Tidak. Apakah Habib anti Muhammadiyah, juga tidak.
Dalam situasi seperti sekarang, pilihan hari raya pada hari Jum’at (Muhammadiyah) dan Hari Sabtu (Pemerintah), maka pilihan itu sejatinya, jatuh pada hari Sabtu, karena ini keputusan Pemerintah. Jadi bukan keputusan NU.
Apa dalilnya?
Ketaatan kepada Ulil Amri (Pemimpin) merupakan suatu kewajiban umat, selama tidak bertentangan dengan nash yang zahir. Adapun masalah ibadah, maka semua persoalan haruslah didasarkan kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya menyebutkan ada empat pendapat dalam mengartikan kalimat “ulul amri” pada QS An-Nisa:59. Pertama, ulil amri bermakna umara (para pemimpin yang konotasinya adalah pemimpin masalah keduniaan). Ini merupakan pendapat Ibn Abbas, as-Sady, dan Abu Hurairah serta Ibn Zaid.
Sebagai catatan, apakah taat kepada ulil amri sama dengan taat kepada Allah?
Mengutip buku Kosakata Keagamaan karya M. Quraish Shihab, perintah taat kepada ulil amri bersifat tidak mutlak, berbeda dengan taat kepada Allah dan Rasul. Umat Islam harus memastikan bahwa ajaran yang dibawa ulil amri adalah kebenaran, sehingga ia bisa menaatinya
Perintah taat kepada Allah, Rasul, dan ulil amri tercantum dengan jelas dalam Alqur;an dan sunnah. Ini menjadi landasan utama bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan beragamanya. Dalam surat an-Nisa ayat 59, Allah Swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” Kata al-amr dalam ayat di atas berarti urusan, yang meliputi bidang keagamaan serta duniawi
Adapun ulil amri keagamaan meliputi para ahli ijtihad dan ahli fatwa.
Sedangkan ulil amri duniawi ialah para raja dan penguasa yang memimpin manusia. Melalui ayat tersebut, Allah Swt memerintahkan hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya, Rasul, serta ulil amri yang memimpin mereka.
Selain ayat tersebut, ada pula hadits tentang taat kepada Allah, Rasul, dan ulil amri yang bisa Anda jadikan pedoman. Apa saja?
Hadits tentang Taat Kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amr
Taat kepada Allah, Rasul, dan ulil amri adalah bagian dari iman seorang Muslim. Ini bisa menjadi pedoman serta landasan dalam menjalani kehidupan beragama dan bermasyarakat. Sebab, Allah, Rasul, dan ulil amri adalah sumber kebenaran.
Melalui firman-Nya, Allah Swt memerintahkan sesuatu yang baik dan melarang yang buruk. Begitu pula dengan Rasul dan ulil amri yang senantiasa mengajarkan hal baik kepada manusia melalui sabda dan fatwanya.
Tentunya, ajaran tersebut harus bersumber pada Alquranul Karim.
Umat Islam harus memastikan bahwa ajaran yang dibawa ulil amri adalah kebenaran, sehingga ia bisa menaatinya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk kalau perintahnya merupakan pelanggaran terhadap Allah (dan Rasul)” (HR. Ahmad)
Secara tersirat, hadsit tersebut memerintahkan umat Islam untuk tidak menaati ulil amri yang berbuat maksiat atau pelanggaran terhadap Allah.
























