• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mengapa Kita Menuntut Toleransi, Jika Kita Mengkhianati Keyakinan Sendiri?

fusilat by fusilat
February 6, 2026
in Feature, Spiritual
0
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Setiap tahun di Bali, kita disuguhi sebuah pemandangan yang magis sekaligus kontemplatif. Saat Nyepi tiba, denyut nadi pulau itu seolah berhenti. Tanpa cahaya, tanpa kebisingan, tanpa aktivitas. Yang paling menakjubkan bukanlah ketatnya aturan formal, melainkan kesadaran kolektif warganya. Seorang pemuda di gang sempit hingga penghuni rumah mewah, dengan sukarela memilih patuh. Tanpa paksaan. Tanpa rasa terzalimi.

Lebih dari itu, penganut agama lain pun ikut meluruh dalam sepi. Mereka menghormati kesucian hari itu tanpa perlu pengawasan ketat aparat. Toleransi di Bali bukan sekadar jargon administratif atau tinta di atas kertas Perda—ia telah menjelma menjadi napas sosial, mengalir alami dalam keseharian.

Kini, mari kita geser pandangan ke wilayah di mana Islam menjadi mayoritas. Saat Ramadhan tiba, pemandangan yang tersaji justru sering kontras dan mengusik nalar. Siang hari berjalan nyaris tanpa perbedaan berarti. Restoran, warung makan, hingga lapak kaki lima tetap terbuka lebar, bahkan tanpa penutup kain sekadar simbol penghormatan.

Ironisnya, sebagian besar pengunjungnya adalah mereka yang mengaku Muslim. Duduk santai, mengunyah hidangan, tanpa rasa sungkan—apalagi malu—di tengah kewajiban suci yang sedang dijalankan saudara seimannya. Seakan Ramadhan hanyalah nama bulan, bukan peristiwa iman.


Refleksi di Balik Piring Makan

Ramadhan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 185, adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an dan bulan diwajibkannya puasa bagi yang menyaksikannya. Logikanya sederhana: jika kita sebagai “tuan rumah iman” saja tidak menghormati ruang suci kita sendiri, dengan hak moral apa kita menuntut orang lain untuk menghormatinya?

Sulit berharap toleransi dari luar, bila dari dalam barisan sendiri komitmen terhadap syariat tampak rapuh. Masalah ini bukan semata soal “warung yang buka”, melainkan cermin retaknya pilar keimanan. Syahadat yang menjadi gerbang Islam seolah berubah menjadi janji yang mudah diingkari.

Jika shalat—tiang agama—sering ditinggalkan, maka puasa Ramadhan menjadi ujian kejujuran yang telanjang. Ia membuka kualitas spiritual kita apa adanya, tanpa riasan simbolik.


Mengintip Cermin Nifaq

Dalam perspektif Al-Qur’an dan hadits, sikap abai terhadap syariat ini setidaknya mendekati ciri nifaq amali—kemunafikan dalam perbuatan. Rasulullah ﷺ mengingatkan (HR. Bukhari dan Muslim) bahwa salah satu tanda munafik adalah ketika berjanji lalu mengingkari. Bukankah menjadi Muslim adalah janji setia kepada Allah?

Al-Qur’an bahkan lebih tajam membedah fenomena ini:

  • QS. Al-Baqarah: 8–16 menggambarkan mereka yang mengaku beriman, namun hatinya ingkar, merasa berbuat kebaikan padahal justru merusak tatanan nilai.

  • QS. An-Nisa: 142 menyentil mereka yang beribadah dengan malas dan penuh kepura-puraan.

  • QS. At-Taubah: 67 serta 38–39 memberi peringatan keras tentang karakter yang membalikkan nilai: menyuruh kemungkaran, melarang kemakrufan, dan meremehkan perintah Tuhan demi kepentingan duniawi.

Namun, melabeli orang lain sebagai munafik bukanlah sikap yang bijak. Yang lebih jujur adalah bertanya pada diri sendiri: di mana letak kegagalan kita? Apakah metode dakwah kita telah menyentuh kesadaran, atau justru berhenti pada simbol dan seruan kosong?


Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Toleransi sejati tidak bermula dari tuntutan agar “orang lain menghormati kita”, melainkan dari kesungguhan kita menghormati keyakinan sendiri. Fenomena Ramadhan di ruang publik menunjukkan bahwa tantangan terbesar Islam di Indonesia bukanlah tekanan dari luar, melainkan krisis integritas iman dari dalam. Kita mengalami defisit toleransi internal terhadap aturan Tuhan yang kita akui sendiri.

Saran

  1. Muhasabah Kolektif
    Berhentilah sibuk mengawasi warung makan; mulailah mengawasi niat dan disiplin diri. Puasa bukan tentang memaksa orang lain menutup usaha, tetapi tentang kemampuan menahan diri meski godaan terbuka lebar.

  2. Pendidikan Berbasis Kesadaran
    Ulama dan tokoh masyarakat perlu menegaskan kembali bahwa syariat bukan beban hukum, melainkan identitas dan kehormatan seorang mukmin.

  3. Malu sebagai Bagian dari Iman
    Mari menumbuhkan kembali rasa haya’: malu kepada Tuhan, dan malu kepada lingkungan ketika kita secara sadar mengkhianati kesepakatan spiritual yang telah kita ucapkan saat bersyahadat. Memelihara rasa malu sejatinya adalah menguatkan iman.

Toleransi itu indah bila lahir dari kekuatan iman, bukan dari paksaan aturan. Jika warga Bali mampu setia pada sunyi, seharusnya Muslim mampu teguh dalam lapar—tanpa kehilangan martabat di hadapan piring makanan.


Referensi

  • Al-Qur’anul Karim (QS. Al-Baqarah: 185; QS. An-Nisa: 142; QS. At-Taubah: 67, 38–39)

  • Hadits Riwayat Bukhari No. 33 & Muslim No. 59 (Tanda-tanda Munafik)

  • Observasi Sosial Budaya: Nyepi di Bali dan Fenomena Ramadhan di Perkotaan Indonesia

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menteri LH Pungut Sampah di Tangsel, Pengamat: Tak Selesaikan Akar Masalah

Next Post

PUI–Korea Muslim Federation Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Penguatan Umat Lintas Negara

fusilat

fusilat

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
PUI–Korea Muslim Federation Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Penguatan Umat Lintas Negara

PUI–Korea Muslim Federation Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Penguatan Umat Lintas Negara

BONBIN BANDUNG, IZIN KONSERVASI, DAN PERAMPOKAN RUANG PUBLIK

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...