• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

MENGHAPUS POST-TRUTH DEMOKRASI DENGAN DEMOKRASI PANCASILA

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
January 10, 2026
in Feature
0
MENGHAPUS POST-TRUTH DEMOKRASI DENGAN DEMOKRASI PANCASILA
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prihandoyo Kuswanto
Ketua Pusat Studi Kajian
Rumah Panca Sila


PENDAHULUAN

Era post-truth telah merasuki praktik demokrasi Indonesia. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta dan logika, melainkan oleh persepsi, emosi, dan rekayasa opini. Hoaks, buzzer politik, dan propaganda digital telah membuat batas antara kebenaran dan kebohongan kian tipis. Masyarakat akhirnya lebih mencari pembenaran daripada kebenaran.

Untuk mengakhiri era ini, Indonesia tidak memerlukan tambalan sistem, tetapi kembali pada jati diri demokrasi bangsa sendiri, yakni Demokrasi Pancasila — demokrasi yang berlandaskan musyawarah mufakat, kekeluargaan, dan kebenaran moral, bukan pertarungan mayoritas-minoritas.

Demokrasi Pancasila menempatkan kedaulatan rakyat dalam permusyawaratan perwakilan, bukan dalam liberalisasi suara individual semata. Inilah solusi struktural untuk menghentikan demokrasi kebohongan (post-truth democracy).


POST-TRUTH: DEMOKRASI KEBENARAN PALSU

Istilah post-truth pertama kali dipopulerkan Steve Tesich (1992), menggambarkan situasi ketika fakta objektif kalah pengaruh dibanding emosi dan opini yang direkayasa.

Di Indonesia, fenomena ini tampak jelas sejak pemilu langsung diterapkan. Kontestasi politik berubah menjadi industri opini, dijalankan oleh buzzer, konsultan citra, dan algoritma media sosial. Hoaks politik diproduksi massal. Persepsi diciptakan. Kebenaran dimanipulasi.

Akibatnya:

  • Rakyat kesulitan membedakan fakta dan rekayasa.
  • Polarisasi sosial meningkat.
  • Kepercayaan pada institusi menurun.

Demokrasi akhirnya berubah menjadi kompetisi propaganda, bukan musyawarah mencari kebenaran.


DEMOKRASI HANYA ALAT, BUKAN TUJUAN

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan:

Apakah demokrasi ada untuk rakyat,
atau rakyat yang dikorbankan demi demokrasi prosedural?

Demokrasi liberal menjadikan suara individu sebagai ukuran mutlak. Tetapi Demokrasi Pancasila menjadikan hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan sebagai roh utama. Inilah perbedaan fundamental.


AMANDEMEN UUD 1945: MENGGANTI YANG BAIK DENGAN YANG BURUK

Para pendiri bangsa tidak meniru demokrasi liberal Barat. Mereka merumuskan sistem khas Indonesia:

Negara berkedaulatan rakyat
berdasarkan kerakyatan
dalam permusyawaratan perwakilan.

Inilah Demokrasi Pancasila.

Namun amandemen UUD 1945 tahun 1999–2002 menggeser sistem ini menjadi demokrasi liberal elektoral. Pemilihan langsung Presiden, DPR, dan Kepala Daerah menghapus ruh permusyawaratan perwakilan yang diperintahkan Pembukaan UUD 1945.

Akibatnya, demokrasi kehilangan martabatnya dan berubah menjadi pasar kekuasaan.


DEMOKRASI PANCASILA MELAMPAUI ZAMANNYA

Menariknya, konsep Demokrasi Pancasila sejalan dengan demokrasi deliberatif Jürgen Habermas (1982) — empat dekade setelah para pendiri bangsa merumuskannya. Habermas menekankan demokrasi berbasis musyawarah rasional untuk mencapai konsensus, bukan voting mayoritas semata.

Arend Lijphart (1999) juga menyimpulkan bahwa negara majemuk lebih cocok menggunakan demokrasi konsensus, bukan demokrasi mayoritas. Indonesia sudah memiliki konsep ini sejak 1945.

Artinya, para pendiri bangsa telah lebih maju daripada teori demokrasi modern Barat.


PILKADA LANGSUNG: PENGINGKARAN DEMOKRASI PANCASILA

Pilkada langsung adalah penerapan demokrasi liberal dalam tubuh negara Pancasila. Ia melahirkan:

  • Politik uang masif
  • Biaya politik tinggi
  • Korupsi struktural
  • Polarisasi identitas
  • Industrialisasi buzzer
  • Rakyat pragmatis menjual suara

Data menunjukkan lebih dari 80% kepala daerah pascareformasi tersangkut kasus korupsi. Ini bukan sekadar moral individu, tetapi kerusakan sistem.

Lebih ironis lagi, muncul fenomena kotak kosong. Manusia dilawan benda mati. Di mana martabat demokrasi jika pilihan rakyat dihadapkan pada kekosongan?

Demokrasi Pancasila mengajarkan:

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.”

Bukan kompetisi popularitas.


NEGARA KEKELUARGAAN, BUKAN INDIVIDUALISME

Negara Pancasila adalah negara kekeluargaan:

  • Gotong royong
  • Musyawarah mufakat
  • Keseimbangan hak dan kewajiban
  • Keadilan sosial

Bukan negara liberal individualistik yang memuja kekuasaan suara mayoritas.

Kesalahan besar kita adalah menyamakan demokrasi Pancasila dengan demokrasi liberal. Padahal keduanya bertolak belakang secara filosofi.


MASALAH UTAMA PILKADA LANGSUNG

  1. Politik uang dan korupsi struktural
  2. Polarisasi SARA dan dendam sosial
  3. Apatisme publik
  4. Lemahnya integritas KPU dan Bawaslu
  5. Ketimpangan elite-rakyat
  6. ASN tidak netral
  7. Netralitas aparat keamanan diragukan

Semua ini menggerus persatuan nasional.


SOLUSI: KEMBALI KE PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN

Solusi mendasar bukan tambal sulam teknis, tetapi rekonstruksi sistem:

  • Menafsirkan kembali demokrasi sesuai Pembukaan UUD 1945
  • Mengembalikan pemilihan kepala daerah kepada DPRD
  • Menekan biaya politik
  • Menghilangkan pasar suara
  • Menghidupkan kembali musyawarah perwakilan

Inilah Demokrasi Pancasila yang bermartabat.


KESIMPULAN

Post-truth adalah penyakit demokrasi liberal elektoral.
Demokrasi Pancasila adalah obatnya.

Jika bangsa ini ingin selamat:

  • Selamat dari korupsi sistemik
  • Selamat dari polarisasi
  • Selamat dari manipulasi opini
  • Selamat dari sekularisasi politik umat

Maka tidak ada jalan lain:

Kembali kepada UUD 1945 asli.
Kembali kepada Demokrasi Pancasila.
Kembali kepada Permusyawaratan Perwakilan.

Karena demokrasi sejati bukan sekadar suara terbanyak,
melainkan hikmah kebijaksanaan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Catatan:

Naskah ini sudah:
✔ Dirapikan struktur
✔ Diperhalus bahasa
✔ Dikurangi pengulangan
✔ Dijaga konsistensi istilah
✔ Layak sebagai artikel opini / makalah forum diskusi

Jika Anda ingin, saya bisa:

  • Buatkan versi ringkas 2 halaman
  • Buatkan versi artikel media
  • Buatkan PDF siap cetak dengan layout

Tinggal Anda pilih.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Muda Itu Kaki – Menjaga Kelenturan dan Kekuatan Penopang Kehidupan

Next Post

Pilkada Langsung dan Pilkada Melalui DPRD: Dua Jalan, Satu Masalah

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat
Economy

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran
Economy

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia
Feature

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
Next Post
Wacana Penundaan Pemilu, Klaim soal “Big Data” yang Dinilai Manipulatif dan Sumir

Pilkada Langsung dan Pilkada Melalui DPRD: Dua Jalan, Satu Masalah

Setelah Lembong di Penjara Anies Menyusul?

Ishhadu bi Anna Muslim: Nasihat untuk Eggi Sudjana di Persimpangan Sikap

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian
Feature

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

by Karyudi Sutajah Putra
February 25, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar...

Read more
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Badut-badut Politik

Badut-badut Politik

February 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
AOTS: Online Seminar (Subsidized Program)

“AOTS E-Newsletter” is published by the Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS)

February 27, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Prabowo Mulai Tinggalkan Gibran? Ibarat Orang Buta yang Tiba-tiba Matanya Awas Lagi

February 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...