Ada kegelisahan yang tumbuh di benak banyak orang akhir-akhir ini. Kabar pertemuan Eggi Sudjana dengan Presiden Jokowi di Solo, betapapun disebut sebagai silaturahmi, memantik pertanyaan yang wajar: apakah ini sekadar perjumpaan manusiawi, atau tanda perubahan arah perjuangan?
Pertanyaan itu lahir dari sejarah. Eggi Sudjana selama ini dikenal sebagai sosok yang lantang menyuarakan kritik, berdiri di barisan yang berani menantang kekuasaan ketika kebenaran dirasa dikhianati. Maka wajar bila publik yang pernah menaruh harapan, kini merasa cemas: jangan-jangan sebuah perjuangan panjang berakhir di meja kompromi.
Di titik inilah nasihat perlu disampaikan. Bukan sebagai vonis, melainkan sebagai pengingat akan amanah iman. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ
(QS. An-Nisā’ [4]: 135)
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.”
Ayat ini adalah panggilan keberanian moral. Seorang muslim tidak boleh goyah ketika berhadapan dengan kekuasaan, tidak boleh melemah ketika kebenaran menuntut pengorbanan. Menjadi saksi kebenaran adalah jihad yang paling sunyi, tetapi paling berat timbangannya.
Identitas muslim bukan sekadar status sosial, melainkan komitmen hidup. Allah menegaskan:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
(QS. Al-An‘ām [6]: 162–163)
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang berserah diri (muslim).”
Inilah makna ishhadu bi anna muslim — tunjukkanlah bahwa engkau seorang muslim, bukan hanya di lisan, tetapi di arah langkah dan keteguhan sikap.
Bangsa ini tengah mengalami krisis keteladanan. Banyak suara kritis yang perlahan menjadi lunak ketika disentuh kekuasaan. Banyak keberanian yang memudar atas nama rekonsiliasi. Padahal rekonsiliasi tanpa keadilan hanyalah pemutihan ingatan kolektif.
Eggi Sudjana tentu memiliki hak pribadi untuk bertemu siapa pun. Namun seorang tokoh publik memikul beban simbolik. Setiap langkahnya adalah isyarat. Setiap perjumpaannya dibaca sebagai arah angin. Maka wajar bila publik berharap: jangan biarkan sejarah mencatat bahwa suara perlawanan akhirnya berteduh di bawah kekuasaan yang dahulu ia kritik.
Nasihat ini sederhana: tetaplah menjadi saksi kebenaran. Jangan lelah berdiri di sisi rakyat yang berharap keadilan. Jangan biarkan keberanian masa lalu menjadi sekadar nostalgia.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan kepada siapa kita mendekat,
tetapi pada nilai apa kita bertahan hingga akhir.
Ishhadu bi anna muslim.
Tunjukkan jati dirimu.
Jihadmu adalah konsistensimu.
Dan kebenaran selalu membutuhkan penjaganya.


























