Jakarta, Fusilatnews.–Lagi-lagi Jokowi menyampaikan pernyataan yang bisa menyesatkan. “Seingat saya, kalau enggak nomor 1, ya nomor 2 kita di antara negara-negara besar,” ujar Jokowi dalam perayaan Imlek Nasional di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (29/1/2023). Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III tahun 2022 termasuk yang tertinggi di antara negara anggota G20. Menurut Jokowi, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,72 persen, dan inflasi di angka 5,51 persen. “Coba bandingkan dengan negara-negara besar G20”.
Membandingkan pertumbuhan eknomi dengan negara-negara (developed countries) yang ekonominya tidak tumbuh, kan aneh!?.
Dalam Buku Ekonomi 2 Kelas XI IPS SMA dan MA yang ditulis oleh Chumidatus Sa’diyah dan Dadang Argo P., dijelaskan antara lain:
1. Perekonomian negara maju sudah stabil dan hampir semua sumber daya telah digunakan secara optimal. Hal ini membuat peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak mencolok. Sedangkan di negara berkembang cenderung berlaku sebaliknya.
Itulah mengapa pertumbuhan ekonomi di negara maju lebih rendah dibandingkan negara berkembang.
2. Rumus pertumbuhan ekonomi hanya melihat besar tambahan PDB satu tahun dibanding PDB tahun sebelumnya dan tidak melihat nilai PDB suatu negara.
Sejatinya, Indonesia dibanding-bandingkan dengan negara-negara sekawasan ASEAN. Coba kita simak ini; Pertumbuhan Ekonomi Malaysia pada periode Juli- September 2022 melesat di atas 14% karena tingginya permintaan ekspor dan konsumsi domestik. Selain itu, tingginya pertumbuhan ekonomi Negeri Jiran pada triwulan III 2022 secara tahunan akibat rendahnya dasar statistik pada tiwulan III-2021. Dengan capaian ini, Negeri Jiran memimpin pertumbuhan ekonomi negara-negara kawasan ASEAN lainnya.
Sebagai referensi informasi tambahan, ekonomi Vietnam pada kuartal III 2022 tumbuh 13,67% (yoy). Diikuti ekonomi Filipina tumbuh 7,6% (yoy). Sedangkan Ekonomi Indonesia tumbuh 5,72% (yoy) dan ekonomi Singapura tumbuh 4,4% (yoy).
Berikutnya, ekonomi Thailand pada triwulan II 2022 tumuh 2,5% (yoy), sedangkan ekonomi Brunei Darussalam mengalami kontraksi sedalam 4,4% (yoy).
Adapun ekonomi Laos dan Kamboja masing-masing tumbuh sebesar 3,5 dan sebesar 3% pada 2021. Sedangkan, ekonomi Myanmar mengalami kontraksi sedalam 18% pada 2021.
Meski demikian, tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak dapat dipakai untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat negara, akan lebih tepat jika memakai tingkat pendapatan per kapita.
Adik-adik kita yang duduk disekolah SMA, sudah belajar bagaimana memahami PDB. Pendapatan per kapita = PDB tahun x / Jumlah penduduk tahun x Umumnya, pendapatan per kapita negara maju jauh lebih tinggi dibanding di negara berkembang.
Sebab PDB yang dicapai juga jauh lebih tinggi. Sementara, jumlah penduduk di negara-negara maju umumnya tidak terlalu besar, sehingga pendapatan per kapita mereka menjadi tinggi.
Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
Ada berbagai faktor yang bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi dari suatu negara. Mengutip dari buku berjudul Ekonomi 2 untuk SMA Kelas XI yang disusun Leni Permana dkk., faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi.
Berikut uraiannya:
Faktor ekonomi, terdiri dari:
Sumber alam
Akumulasi modal
Organisasi
Kemajuan teknologi
Pembagian kerja
Skala produksi.
Faktor non-ekonomi, terdiri dari:
Manusia
Sosial
Budaya
Politik dan administratif.
























