• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Merevolusi Lembaga Penegakan Hukum

fusilat by fusilat
August 24, 2022
in Feature
0
Merevolusi Lembaga Penegakan Hukum

Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/AndreyPopov

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rendi Yudha Syahputra

Drama pembunuhan berencana yang ramai diperbincangkan dan memenuhi lini masa beberapa pekan terakhir,harusnya membuat rakyat mulai tersadar bahwa psiko-hierarki dan psiko-politik dalam penegakan hukum adalah nyata dan merupakan ancaman serius bagi supremasi hukum di negeri ini.

Istilah psiko-hierarki secara sederhana dapat digambarkan sebagai suatu keadaan batin yang terbelenggu akibat adanya posisi atau kedudukan yang lebih rendah, sehingga cenderung tidak mampu berbuat apapun selain mengikuti atau menuruti keinginan pihak yang posisinya lebih tinggi. Sedangkan psiko-politik secara sederhana dapat digambarkan sebagai suatu keadaan batin yang terbelenggu akibat adanya relasi kelompok atau kubu, sehingga cenderung tidak mampu berbuat apapun selain mengikuti atau menuruti keinginan kelompok tersebut. Psiko-politik secara spesifik mungkin dapat juga disebut dengan psiko-grup.

Menyeruaknya istilah psiko-hierarki dan psiko-politik ke permukaan tentu tidak lepas dari potret penegakan hukum pidana yang dirasa telah mencampakkan keadilan dengan dua bentuk khasnya, yaitu penegakan hukum “tebang pilih” dan “tajam ke bawah”. Seakan-akan prinsip persamaan di muka hukum (equality before the law) sudah tidak berlaku lagi di negeri ini.

Ketika suatu lembaga penegakan hukum gemar mempertontonkan praktik tebang pilih dan tajam ke bawah, maka itu sebenarnya menjadi sebuah tanda bahwa sistem tata kelola dan tata kerja organisasi lembaga tersebut perlu dievaluasi karena tidak mampu memberikan jaminan penegakan hukum yang adil. Artinya, sistem tata kelola dan tata kerja organisasi yang digunakan, cenderung melahirkan praktik-praktik ketidakadilan di lapangan penegakan hukum.

Lembaga penegakan hukum mestinya menjadi contoh bagaimana prinsip-prinsip hukum direalisasikan dalam tata kelembagaan, seperti misalnya dengan membangun sistem tata kelola dan tata kerja organisasi yang mengarah pada terwujudnya “budaya hukum”. Budaya ini dimaksudkan untuk menciptakan insan-insan penegak hukum yang menjunjung tinggi dan setia kepada hukum (menempatkan hukum sebagai sentral). Bukan malah melestarikan budaya yang sebaliknya, yaitu “budaya kekuasaan”. Sebuah budaya dogmatis yang menempatkan pemegang tampuk kekuasaan sebagai sentral. Budaya ini lebih banyak melahirkan “hamba-hamba” yang terlampau setia pada “Raja”nya dan sangat rentan dengan penyalahgunaan kekuasaan.

Jika budaya hukum melihat segala sesuatu dengan kacamata hukumnya (peraturan perundang-undangan), maka budaya kekuasaan melihatnya sesuai dengan kacamata orang yang berkuasa. Lalu bagaimana ketika misalnya yang berkuasa pada suatu lembaga penegakan hukum adalah “oknum”? Apakah lembaga lain seperti Kepresidenan atau Kementerian atau Komisi Nasional atau bahkan rakyat sendiri harus ikut mengawal setiap perkara di Negeri ini supaya keadilan dapat terjaga dan hak-hak rakyat dapat terlindungi?

Budaya Hukum versus Budaya Kekuasaan

Membangun tata kelola dan tata kerja organisasi berbudaya hukum pada lembaga penegakan hukum, lebih menjamin kepastian akan hak-hak rakyat dibandingkan dengan tata kelola dan tata kerja organisasi berbudaya kekuasaan. Hal ini disebabkan adanya prinsip kesetaraan dalam budaya hukum yang tidak dimiliki oleh budaya kekuasaan. Budaya kekuasaan menganut prinsip ketidaksetaraan yang tercermin dari adanya pembagian golongan, kasta, serta tingkatan derajat yang membentuk suatu hierarki dan bersifat sentralistik.

Berawal dari pembedaan tersebut, kemudian disematkan anggapan bahwa golongan/kasta/derajat yang lebih tinggi selalu benar dan yang lebih rendah selalu salah. Anggapan ini secara tidak langsung memunculkan konsep “raja” (selaku pihak yang benar) dan “hamba” (selaku pihak yang salah), di mana seorang hamba harus tunduk pada rajanya (satya haprabu).

Lalu secara psikologis menyebabkan adanya penegak hukum dengan status raja dan penegak hukum dengan status hamba, yang di kemudian hari menjadi cikal bakal gangguan psiko-hierarki dan psiko-politik. Artinya, penegakan hukum yang notabene dimaksudkan untuk melindungi hak-hak rakyat, menjadi kabur arahnya karena peran raja maupun raja-raja kecil dalam tata kelola dan tata kerja organisasi penegak hukum itu sendiri.

Berbeda halnya dengan budaya hukum. Budaya ini tidak mengenal adanya pembagian kasta maupun derajat. Tidak mengenal adanya penegak hukum berstatus hamba maupun penegak hukum berstatus raja. Malahan, setiap insan penegak hukum menempatkan dirinya pada posisi yang sejajar yaitu sama-sama sebagai “hamba” yang mengabdikan diri pada hukum (menjadikan hukum sebagai rajanya). Jadi, hukum betul-betul memegang peranan sentral dalam penegakan hukum, sehingga hak-hak rakyat menjadi lebih terlindungi.

Dalam tata kelola dan tata organisasi berbudaya kekuasaan, kejahatan yang dilakukan oleh raja, kelompok raja ataupun yang mendapat restu dan dilindungi raja akan amat sangat sulit dibongkar. Mengapa? Karena “kebenaran” mutlak ada di tangan sang raja. Walaupun kejahatan itu terang benderang dan jelas-jelas mengangkangi hak-hak rakyat, tetap akan dianggap sebagai sesuatu hal yang benar.

Kemudian ketika hamba ataupun kelompok hamba mencoba melakukan penegakan hukum terhadap kejahatan tersebut (baca: tanpa pandang bulu), akan dianggap sebagai sesuatu hal yang salah. Selanjutnya, hamba-hamba “bersalah” ini akan diberikan label radikal, pengkhianat, pembangkang, dan sebagainya oleh sang raja. Setelah itu, penyandang label-label tersebut akan dihukum tanpa melalui proses beracara yang layak dengan tindakan kekerasan maupun administratif seperti pemukulan, penyiraman air keras, penembakan, penjara, mutasi dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, keadaan ini akan membuat penegakan hukum menjadi tebang pilih dan tajam ke bawah, karena semangat penegakan hukum sudah bukan lagi untuk memberantas semua kejahatan, melainkan hanya untuk membasmi mereka yang berseberangan atau menjadi lawan dari sang raja. Law enforcement is not for killing the criminals, but for killing the opponents.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa psiko-hierarki dan psiko-politik yang dipopulerkan oleh Menkopolhukam sejatinya merupakan “anak kandung” dari budaya kekuasaan. Kemudian, pengembangbiakan budaya kekuasaan dalam tata kelola dan tata kerja organisasi lembaga penegakan hukum, melahirkan dua macam penegak hukum yaitu penegak hukum dengan status “selalu benar” dan penegak hukum dengan status “selalu salah”, yang menjadi faktor penyebab adanya ketidakadilan dalam penegakan hukum.

Supaya dapat menegakkan hukum dengan adil, lembaga penegakan hukum yang menganut budaya kekuasaan harus senantiasa mendapat pengawalan langsung dari lembaga lain maupun rakyat. Artinya, lembaga lain maupun rakyat harus rela meluangkan waktu (atau bisa dikatakan mendapat pekerjaan tambahan) untuk selalu dan selalu mengawasi secara langsung setiap penegakan hukum yang dilakukan oleh lembaga penegakan hukum tersebut. Jika pengawasan semacam itu mustahil untuk dilakukan, maka mau tidak mau harus dilakukan revolusi budaya dalam lembaga penegakan hukum tersebut. Panjang umur keadilan, panjang umur perjuangan!

Rendi Yudha Syahputra, praktisi dan pemerhati hukum.

Dikutip dari detik.com, Selasa 23 Agustus 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Batuk Lenyap di Mahad Askar Kauny Cinere

Next Post

Berisiko Kebakaran: Kia SUV Hyundai Harus Parkir di Lapangan Terbuka

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Next Post
Berisiko Kebakaran: Kia SUV Hyundai Harus Parkir di Lapangan Terbuka

Berisiko Kebakaran: Kia SUV Hyundai Harus Parkir di Lapangan Terbuka

Indonesia Negara yang “Kurang Baik”

Dunia Menghadapi Risiko Resesi Yang Meningkat Karena Tingginya Inflasi Memukul Konsumen

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist