• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

fusilat by fusilat
April 24, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Kawan Nazar

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan ritual tahunan: kebaya, sanggul, dan pidato tentang emansipasi yang memuja Raden Ajeng Kartini sebagai simbol tunggal kebangkitan perempuan. Legitimasi ini berakar kuat pada Keppres No. 108 Tahun 1964. Namun, di balik seremonial tersebut, tersimpan ironi sejarah yang jarang dikupas tuntas: Kartini adalah sosok yang secara tragis tak mampu memutus belenggu adatnya sendiri. Ia akhirnya menyerah pada poligami—menjadi istri keempat Bupati Rembang demi harmoni sosial keluarga. Realitas ini memicu gugatan krusial: mengapa sejarah kita begitu kokoh memancang Kartini sebagai satu-satunya mercusuar, sementara ia sendiri terjebak dalam pusaran tradisi yang ia kritik?

Gugatan ini bukanlah bentuk kebencian personal, melainkan kritik historiografi yang mendalam. Sejarawan Tiar Anwar Bahtiar dan sosiolog Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar telah lama mengidentifikasi bahwa penokohan Kartini bukanlah pertumbuhan organik dari kesadaran nasional, melainkan hasil kurasi kolonial. Dalam Satu Abad Kartini (1990), Harsja menegaskan: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini.”

Membaca Kartini tanpa memahami konteks Politik Etis adalah kekeliruan fatal. Ia dipromosikan secara sistematis oleh elite Belanda seperti J.H. Abendanon dan C.Th. van Deventer, dengan supervisi intelektual dari Snouck Hurgronje. Snouck bukan sekadar ilmuwan, melainkan arsitek kebijakan kolonial yang memiliki misi menjinakkan pengaruh Islam di ruang publik. Dalam Politik Islam Hindia Belanda (Aqib Suminto, 1985), dijelaskan bahwa strategi Snouck adalah “membaratkan” elite pribumi melalui pendidikan agar mereka merasa lebih dekat dengan nilai-nilai Eropa ketimbang identitas Islamnya.

Dalam bingkai strategis ini, Kartini adalah prototipe ideal: seorang priyayi yang terdidik secara Barat, mengagumi modernitas, namun tidak memiliki basis massa untuk melakukan perlawanan fisik. Surat-suratnya yang dikumpulkan dalam Door Duisternis tot Licht (1911) menjadi proyek kebudayaan untuk membuktikan bahwa “kemajuan” pribumi hanya mungkin terjadi di bawah bimbingan peradaban Barat. Hubungan Kartini dengan Snouck bahkan terekam dalam suratnya tanggal 18 Februari 1902, di mana ia meminta penjelasan hukum Islam kepada Snouck. Ironisnya, sosok yang ia puji sebagai “pakar Islam” itu adalah orang yang sama yang merancang pemisahan agama dari politik demi kelestarian kolonialisme.

Kontras dengan narasi “emansipasi surat-menyurat” Kartini, sejarah kita sebenarnya memiliki para pejuang aksi yang mandiri dan progresif. Di Bandung, Dewi Sartika melampaui wacana dengan mendirikan Sakola Kautamaan Istri (1910). Di Sumatera Barat, Rohana Kudus tak hanya mendirikan sekolah, tetapi menjadi jurnalis perempuan pertama yang menggunakan pena sebagai senjata politik. Lebih jauh lagi, ada Rahmah El Yunusiyyah yang mendirikan Diniyah Putri pada 1923—sebuah institusi pendidikan perempuan mandiri pertama yang kurikulumnya bahkan diakui dan diadopsi oleh Universitas Al-Azhar, Kairo.

Berbeda dengan Kartini yang “aman” bagi Belanda, tokoh-tokoh seperti Rahmah El Yunusiyyah atau Rohana Kudus membangun kekuatannya di luar sistem kolonial. Namun, mengapa sejarah resmi lebih memuja Kartini? Jawabannya jelas: Kartini menawarkan citra perempuan terpelajar yang patuh dan tidak mengancam struktur kekuasaan. Narasi ini kemudian dilanggengkan oleh Orde Baru melalui seremoni Hari Kartini yang domestik dan apolitis—menekan semangat perlawanan menjadi sekadar peragaan busana.

Kini, sudah saatnya kita menempatkan Kartini secara proporsional. Menghormati pemikirannya adalah satu hal, namun menjadikannya mitos tunggal sambil meminggirkan pejuang yang benar-benar melakukan kerja nyata dan perlawanan struktural adalah pengkhianatan terhadap kebenaran sejarah. Kita perlu memulihkan ingatan kolektif pada sosok-sosok seperti Rahmah El Yunusiyyah, Rohana Kudus dan Dewi Sartika yang bergerak atas dasar iman, kedaulatan, dan kemerdekaan penuh.

Bangsa yang terus memuja simbol hasil konstruksi penjajah tanpa berani membongkar rekayasa di baliknya, sejatinya adalah bangsa yang belum benar-benar merdeka secara pemikiran.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist