Jakarta – Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda, atau duo A.
Dulu duo F suka menyerang Joko Widodo dan membela Prabowo Subianto. Sedangkan duo A suka menyerang Prabowo dan membela Jokowi.
Kini, duo F dan dua A sama-sama berada di satu kubu, yakni kubu Prabowo-Jokowi. Sejak Pemilu 2024, kubu Jokowi menyatu dengan kubu Prabowo, hingga kini.
Jika pada era Presiden Jokowi, duo A itu sakti mandraguna, apakah kini di era Presiden Prabowo keduanya tetap sakti mandraguna? Biarlah waktu yang akan mengujinya.
Diketahui, Ade Armando dan Abu Janda alias Permadi Arya dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penghasutan dan provokasi buntut potongan ceramah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat berceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, 5 Maret lalu.
Laporan itu dibuat Aliansi Profesi Advokat Maluku (APAM) dan teregister dengan nomor LP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA.
Apakah polisi akan memeriksa keduanya? Setelah diperiksa apakah keduanya akan jadi tersangka? Terlalu jauh dan mengada-ada. Diyakini, polisi tidak akan berdaya menghadapi keduanya.
Maklum, duo A itu pendukung Prabowo. Sebagai Presiden, Prabowo bisa disebut sebagai “panglima tertinggi” Polri.
Kalau panglima tertinggi sudah bilang A, tentu Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pun akan bilang A. Apalagi Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri.
Saat Jokowi berkuasa pun duo A itu sakti mandraguna. Sebab ada invisible hands (tangan-tangan tak kelihatan) yang melindunginya.
Kini pun kondisinya setali tiga uang alias tak berbeda. Apalagi Abu Janda yang boleh dikatakan 100 persen sebagai pembela Prabowo tulen.
Sebegitunya membela Prabowo, sampai-sampai dalam konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran, Abu Janda terang-terangan membela AS dan Israel. Padahal mayoritas rakyat Indonesia membela Iran.
Prabowo juga cenderung membela AS dan Israel. Saat Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan militer gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, Prabowo tak menyampaikan ucapan duka cita bagi Pemimpin Tertinggi Iran itu.
Prabowo juga tak mengucapkan selamat atas pengangkatan Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahandanya itu sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Prabowo juga tak mengecam serangan militer AS-Israel ke Iran. Prabowo justru membawa Indonesia bergabung menjadi anggota Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump.
Lebih tragis lagi, Prabowo menyinggung rakyat Iran yang ia sebut keras kepala. Sebaliknya, Prabowo mengusulkan agar ada jaminan keamanan bagi Irsrael jika Timur Tengah mau damai.
Ade Armando kini sudah menjadi Komisaris PT Perusahaan Listrik Negara Nusantara Power (PLN NP), anak perusahaan PLN.
Abu Janda pun sempat dikabarkan menjadi Komisaris PT Jasamarga meskipun akhirnya dibantah.
Posisi tersebut makin menguatkan posisi duo A itu di pemerintahan. Taringnya pun semakin tajam. Polisi akan berpikir puluhan kali jika harus menjerat mereka.
Pendek kata, Ade Armando dan Abu Janda akan tetap sakti mandraguna di era Prabowo ini seperti pada era Jokowi. Begitulah kalau kekuasaan sudah bicara, akal sehat pun mau mengalah.






















