Makassar–FusilatNews Universitas Hasanuddin melalui Pusat Disabilitas Unhas (Pusdis Unhas) menggelar sosialisasi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) inklusif bagi peserta disabilitas, Senin (20/4/2026), di Kantor Pusdis Unhas.
Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapan layanan dan akomodasi yang dibutuhkan peserta disabilitas selama proses UTBK berlangsung di lingkungan kampus.
Sosialisasi dihadiri oleh peserta UTBK disabilitas, wali atau pendamping, relawan Pusdis, serta perwakilan mahasiswa disabilitas Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Divisi Layanan dan Mediasi Pusdis Unhas sebagai bagian dari komitmen kampus dalam mewujudkan pendidikan inklusif.
Koordinator Divisi Layanan dan Mediasi, Andi Nur Lela, menegaskan pentingnya kesiapan layanan yang aksesibel bagi seluruh peserta.
“Universitas Hasanuddin telah berkomitmen untuk menyiapkan pelayanan inklusif. Karena itu, seluruh kebutuhan peserta disabilitas selama proses ujian harus dapat diakomodasi dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemenuhan kebutuhan peserta bukan sekadar aspek teknis, tetapi bagian dari komitmen institusi.
“Kita perlu memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi karena ini sudah menjadi komitmen dari awal,” tambahnya.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Koordinator Divisi Layanan dan Mediasi, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi sosialisasi UTBK inklusif oleh relawan Pusdis, Diyah Aprilia.
Materi mencakup alur pelaksanaan UTBK, tata tertib ujian, serta pemahaman hak-hak peserta disabilitas. Sesi berikutnya diisi oleh mahasiswa disabilitas Unhas, Muh. Ilham, yang memaparkan hak peserta disabilitas.
Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan terkait mekanisme pendampingan, pembagian peran relawan, serta pemetaan kebutuhan individu peserta disabilitas selama ujian berlangsung.
Pada tahun 2026, tercatat sebanyak lima peserta disabilitas yang akan mengikuti UTBK di Universitas Hasanuddin, terdiri dari tiga peserta disabilitas sensorik pendengaran (teman Tuli) dan dua peserta disabilitas fisik.
Ujian dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 22 April 2026, sesi pagi pukul 07.45 hingga 11.30 WITA.
Sebanyak 12 relawan pendamping turut dilibatkan dalam kegiatan ini, yang berasal dari relawan Pusdis Unhas Batch 3 serta mahasiswa disabilitas angkatan 2025 yang telah memiliki pengalaman mengikuti UTBK sebelumnya.
Lokasi ujian bagi peserta disabilitas dipusatkan di Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Lokasi ini dipilih karena berada di lantai satu dan memiliki akses yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Fasilitas yang tersedia antara lain jalur kursi roda untuk pengguna kursi roda serta guiding block yang memudahkan navigasi bagi mahasiswa dengan disabilitas sensorik penglihatan.
Kegiatan ditutup dengan sesi peninjauan langsung atau cek lokasi ujian. Peserta dan relawan bersama-sama mengunjungi lokasi ujian untuk memastikan aksesibilitas serta memahami alur masuk ruang ujian.
Koordinator pelaksana, Muh. Ilham, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan kampus dalam menghadirkan layanan inklusif.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan kampus. Fasilitas seperti mobil golf untuk antar-jemput ke lokasi ujian sangat membantu dan menunjukkan komitmen nyata terhadap inklusivitas,” ujarnya.
Ia juga berharap seluruh peserta disabilitas dapat berhasil lolos seleksi.
“Harapannya, teman-teman disabilitas yang mengikuti UTBK di Unhas bisa lulus dan menjadi bagian dari keluarga besar Pusdis,” tambahnya.
Salah satu peserta UTBK 2026, Ali Syariati, penyandang disabilitas fisik cerebral palsy, mengaku terbantu dengan adanya kegiatan ini.
“Kegiatan hari ini sangat seru, saya dapat banyak teman baru,” ungkapnya.
Ia juga mengaku mendapatkan pengalaman baru saat mengikuti cek lokasi ujian.
“Saat cek lokasi, kami menggunakan mobil golf. Ini pengalaman pertama saya dan sangat menyenangkan bisa berkenalan dengan kakak-kakak relawan,” tambahnya.
Ali berharap dapat lolos di pilihan pertamanya di Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Hasanuddin.
Melalui kegiatan ini, Pusdis Unhas menegaskan komitmennya dalam menciptakan sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang inklusif, aksesibel, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh calon mahasiswa, termasuk individu dengan disabilitas.























