• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Ali Syarief by Ali Syarief
April 22, 2026
in Feature, Sejarah, Tokoh/Figur
0
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah hasil seleksi—siapa yang diangkat, siapa yang dilupakan, dan siapa yang “dibentuk” untuk memenuhi narasi kekuasaan. Dalam konteks Indonesia, kita patut mempertanyakan satu hal mendasar: mengapa nama R.A. Kartini begitu diagungkan sebagai simbol emansipasi perempuan, sementara sosok seperti Laksamana Keumalahayati nyaris tenggelam dalam kesadaran kolektif bangsa?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan Kartini, tetapi untuk menguji keadilan dalam konstruksi sejarah kita.

Kartini adalah seorang bangsawan Jawa, anak Bupati Jepara. Ia hidup dalam lingkungan feodal yang memberinya akses terhadap pendidikan dan korespondensi dengan dunia Barat. Pemikirannya tentang emansipasi perempuan, yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, memang memberi inspirasi. Namun, perlu dicatat: Kartini tidak pernah memimpin perlawanan fisik, tidak terjun langsung dalam medan konflik, dan gagasannya lebih banyak berkembang dalam ruang refleksi pribadi serta surat-menyurat dengan kalangan elite Eropa.

Sebaliknya, Keumalahayati adalah realitas yang jauh lebih keras. Ia bukan sekadar pemikir, melainkan pelaku sejarah dalam arti yang paling konkret. Ia memimpin armada laut Kesultanan Aceh, bahkan dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia. Dalam abad ke-16, ketika perempuan di banyak belahan dunia masih terkungkung, Keumalahayati sudah memimpin pasukan Inong Balee—pasukan janda-janda pejuang—melawan kolonialisme Portugis dan Belanda.

Ia bukan hanya simbol, tetapi aksi.

Perbedaan ini menjadi penting karena sejarah sering kali lebih menghargai simbol daripada tindakan. Kartini “aman” untuk dijadikan ikon: ia tidak mengancam struktur kekuasaan, bahkan narasinya mudah diadaptasi oleh kolonial Belanda sebagai wajah “kemajuan” yang mereka bawa ke Hindia. Sementara Keumalahayati adalah ancaman nyata bagi kekuatan kolonial. Ia adalah perlawanan hidup yang tidak bisa dikendalikan narasinya.

Di sinilah kita melihat bias sejarah: Jawa-sentris, kolonial-sentris, dan elit-sentris.

Kartini diangkat karena ia sesuai dengan konstruksi sejarah yang dibangun oleh penguasa—baik kolonial maupun pascakolonial. Ia menjadi wajah modernitas yang “jinak”. Sedangkan Keumalahayati, dengan keberanian dan militansinya, justru terlalu “liar” untuk dimasukkan dalam narasi yang ingin menampilkan Indonesia sebagai bangsa yang berkembang melalui “pencerahan”, bukan perlawanan.

Padahal jika kita berbicara tentang keberanian, kepemimpinan, dan kontribusi nyata dalam mempertahankan kedaulatan, Keumalahayati berada pada level yang jauh melampaui Kartini. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan—ia menciptakan perubahan dengan darah dan strategi.

Namun sejarah kita tampaknya lebih nyaman merayakan pena daripada pedang.

Ini bukan sekadar persoalan siapa yang lebih hebat, melainkan bagaimana kita menilai kontribusi. Apakah kita lebih menghargai gagasan yang belum sempat diwujudkan, atau tindakan nyata yang mengubah jalannya sejarah? Apakah kita ingin membentuk generasi yang mengagumi wacana, atau yang berani bertindak?

Mengangkat Keumalahayati bukan berarti menurunkan Kartini. Tetapi ini adalah upaya menyeimbangkan narasi, mengoreksi ketimpangan, dan membebaskan sejarah dari bias yang selama ini mengaburkan realitas.

Sudah saatnya sejarah Indonesia tidak hanya ditulis oleh mereka yang punya akses, tetapi juga oleh mereka yang benar-benar berjuang.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mengenang—tetapi yang berani mengoreksi ingatannya sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

Next Post

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya
News

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...