Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran. Tinggal Joko Widodo mau masuk arena atau tidak. Pertarungan langsung atau head to head. Bukan pertarungan fisik, tapi pertarungan hukum dan politik.
Ihwal JK membuka front pertempuran itu tercermin dari pernyataannya saat menggelar konferensi pers di kediamannya, Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
“Kasih tahu Termul-Termul itu, Jokowi menjadi Presiden karena saya,” kata JK dengan nada emosional.
Termul yang dimaksud adalah “Ternak Mulyono”, yakni para pendukung Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang punya nama kecil Mulyono.
Menurut JK, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak mau memberikan rekomendasi kepada Jokowi untuk menjadi calon presiden di Pemilihan Presiden 2014 jika bukan dirinya yang menjadi calon wakil presiden. Akhirnya Jokowi-JK terpilih.
Tak biasanya JK memilih diksi yang sarkastis seperti itu. Mungkin karena amarahnya sudah membuncah dan tak terbendung lagi. Musababnya, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu dituduh Rismon Sianipar sebagai dalang tuduhan ijazah palsu Jokowi, bahkan JK konon menggelontorkan uang hingga Rp5 miliar untuk Roy Suryo dan kawan-kawan.
JK pun melaporkan Rismon ke polisi. JK mengaku diajak bertemu Rismon dan Roy Suryo, namun dirinya menolak demi menjaga independensi dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi yang menyeret Roy Suryo dan Rismon serta enam orang lainnya sebagai tersangka.
Namun, Rismon kemudian sowan dan minta maaf ke Jokowi, menyusul dua tersangka lainnya, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Ketiganya pun mendapatkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari Polda Metro Jaya.
Nah, usai sowan Jokowi itulah Rismon mengumbar tuduhan ke JK.
Tuduhan itulah yang mungkin diyakini Jokowi. Wong Solo itu sebelumnya memang sempat mensinyalir ada orang besar di balik tuduhan ijazah palsu dirinya.
Nama Puan Maharani dan Susilo Bambang Yudhoyono memang sempat muncul. Namun seiring waktu, kedua nama itu mulai tenggelam. Nama JK pun mulai mencuat setelah disebut Rismon.
JK pun meradang. Ia yang biasanya datar-datar saja dan normatif, kali ini menunjukkan karakter aslinya sebagai seorang Bugis yang berani dan blak-blakan.
JK menyebut langsung nama Jokowi. JK juga menyebut Termul, sesuatu yang peyoratif bagi Jokowi.
Tak hanya itu. JK juga mendesak Jokowi agar menunjukkan ijazah aslinya demi mengakhiri polemik dan pertikaian publik yang sudah berlangsung dua tahun sehingga menguras energi bangsa ini.
Sementara sebagai seorang Jawa, Jokowi tetap menunjukkan karakter khasnya yang “diam-diam tapi menghanyutkan”. Sosok yang disebut Bahlil Lahadalia sebagai Raja Jawa ini nyaris tidak pernah mempertontonkan amarahnya di depan publik.
Seperti Keris, senjata tradisional etnis Jawa, yang selalu tersarung dan membawanya pun dengan sembunyi-sembunyi, disematkan di pinggang atau punggung, demikian pula Jokowi.
Artinya, kemarahan orang Jawa itu selalu tersembunyi, tak pernah ditampakkan di depan publik. Padahal hati panas dan membara.
Berbeda dengan etnis Bugis yang punya senjata tradisional Badik. Badik memang selalu tersarung. Tapi letaknya menempel di bagian depan perut. Jika marah, orang Bugis yang dikenal pemberani itu tak segan-segan menunjukkan kemarahannya. Seperti yang baru saja ditunjukkan JK.
Akan tetapi, jika benar nanti terjadi pertarungan politik dan hukum antara JK versus Jokowi, itu bukan soal Bugis versus Jawa. Itu soal harkat dan martabat diri mereka masing-masing.
JK juga sudah dilaporkan ke polisi oleh orang-orang yang disinyalir sebagai pendukung Jokowi. Ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta 5 Maret lalu yang menyinggung soal mati syahid dalam Islam dan martir dalam Kristen dianggap menistakan agama.
Belakangan, JK juga vokal terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang didukung Jokowi.
JK memang pernah menjadi wapresnya Jokowi, yakni tahun 2014-2019. Tapi, ini politik Bung. Di dunia politik, tak ada kawan atau lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan. Kepentingan JK dan Jokowi kini sudah berbeda.
Kini, JK sudah membuka front pertempuran. Akankah Jokowi masuk palagan perang?
Kita tunggu saja tanggal mainnya. Yang jelas, publik berharap ada “tabayyun” (klarifikasi) di antara keduanya.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















