• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

fusilat by fusilat
April 19, 2026
in Feature, Spiritual
0
Share on FacebookShare on Twitter

Anwar Husen
Pemerhati Sosial/ Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

Dan sebagai interpreter hari itu, saya bukan hanya menerjemahkan bahasa. Saya sedang diterjemahkan—dari seseorang yang memahami agama sebagai identitas, menjadi seseorang yang mulai melihat bertuhan sebagai kesadaran

Menarik membaca tulisan Ali Syarief, seorang journalist and cross-culture lecturer di medianya, Fusilatnews [19/4]. Judulnya, Makna Bertuhan: Belajar dari Sebuah Sembahyang di Bali. Potongan pembukanya di atas.

Ini ketika, di suatu kesempatan di Bali, beliau mendapatkan peran yang tak biasa: menjadi interpreter dalam sebuah upacara sembahyang Hindu. Pesertanya bukan orang lokal, melainkan rombongan dari Jepang. Pengakaunnya, beliau sendiri berdiri di antara dua dunia—bahasa yang berbeda, budaya yang tak sepenuhnya sama, namun dipersatukan oleh satu hal yang paling mendasar: kebutuhan manusia untuk bertuhan.

Dan anggap, atau sebut saja tulisan kali ini adalah esai kocak. Sebuah fakta ringan tentang ekspresi keberagamaan di sudut komunitas homogen. Dan saya sengaja mengutip tulisan di atas sebagai sebuah sudut diameteral.

Mumpung akhir pekan. Tak perlu terlalu serius membacanya. Yang harus lebih diseriusi adalah merenunginya setelah dibaca. Agar kita sama, sama-sama merenungi. Urusan salah-benar bagi saya itu perspektif. Karena esai inipun, buah dari sedikit renungan sore kemarin.

Inspirasinya saat menemani sang isteri menyelesaikan pekerjaan domestik rumah tangga. Di saat yang sama, bunyi pengajian muratal di menara masjid jelang waktu asar begitu memekakkan. Sebuah kebiasaan yang dilanggengkan sudah cukup lama, dengan segala silang pendapat yang menyertainya.

Jika diminta memilih urutan opsinya membilas hasil cucian dengan air yang sama, Anda memilih mana yang lebih dulu: pakaian yang paling disenangi dipakai atau semua jenis pakaian dalam.

Ini yang kedua. Kita bersepakat bahwa fungsi utama sesuatu benda itu, dikaitan dengan frekuensi atau intensitas paling dominan di gunakan. Fungsi utama rumah domisili adalah tempat tinggal dan berteduh. Begitu juga pasar, tempat transaksi jual beli. Dan masjid, gereja, pura, vihara dan kelenteng, adalah tempat atau bangunan yang dibuat dengan sengaja dan didedikasikan sebagai sarana beribadah. Dan, jika asumsinya orang beribadah di masjid itu rata-rata paling lama 10 menit, sedangkan bunyi pengajian di menaranya rata-rata 60 menit menjelangnya. Maka menurut Anda, fungsi tempat ibadah itu adalah logis sebagai tempat untuk beribadah, atau tempat mendengar bunyi pengajian? Istilah teman saya, toko kaset. Kalau logika ini keliru, Anda bisa memberi perspektif yang lebih logis.

Memilih satu diantara dua opsi sebagai contoh dalam kasus ini, dan memberi alasannya, bisa merupakan gambaran paling simpel bagaimana kualitas sebuah keputusan di pengaruhi oleh cara berpikir, mindset.

Dalam kasus pertama, orang yang rasional mungkin berpikir bahwa secara praktis, pakaian dalam harus diprioritaskan dalam urutan membilas, karena langsung melekat pada tubuh saat digunakan. Kondisi dan kebersihannya bisa secara sensitif memengaruhi kesehatan kulit.

Dan dalam kasus kedua, orang yang rasional akan berpikir tentang fungsi utama sesuatu itu. Bukan fungsi ikutan, tambahan, atau bahkan sengaja ditambah-tambah agar terkesan religius. Belum lagi akibat lainnya yang bisa mengganggu ketenteraman dan kenyamanan warga sekitar. Dan tulisan ini, ingin dikontekskan pada kasus kedua itu.

Saya mengutip artikel ini dari Detiknews. Teori lawas bahwa manusia hanya butuh 21 hari atau 3 minggu untuk mengubah dan membentuk sebuah kebiasaan dipatahkan oleh penelitian baru. Sebelumnya, ahli bedah plastik Maxwell Maltz merilis buku berjudul Psycho-Cybernetics pada 1960 yang kelak menjadi populer. Dalam interpretasinya di buku tersebut, Maltz menyatakan, manusia cuma perlu 21 hari untuk mengubah kebiasaan dan membentuk kebiasaan baru.
Kini, peneliti dari California Institute of Technology (Caltech), University of Chicago, dan University of Pennsylvania menemukan, ketimbang magic number 21 hari, orang membentuk kebiasaan lebih lama, yakni sekitar 4-7 bulan untuk terbiasa rutin berolahraga. Namun, sesuai konteksnya, tenaga kesehatan hanya butuh beberapa minggu untuk terbiasa mencuci tangan. Simpulannya, pembentukan kebiasaan baru tergantung pada tiap orangnya, perilakunya, lama waktu dan besar usaha yang dibutuhkan, serta seperti apa pemicunya. Tim peneliti berpendapat, temuan ini dapat digunakan untuk mengatur intervensi yang tepat terhadap kebiasaan orang sesuai konteks spesifiknya, dan beberapa hal lainnya.

Riset ini menunjuk kebiasaan spesifik dan personal pada kelompok orang “berpengetahuan”, yang membutuhkan 4-7 minggu untuk “berproses” mengubah kebiasaannya.

Dalam konteks sosial, kebiasaan atau pengulangan itu dibentuk oleh persepsi dan pengetahuan terhadap sesuatu nilai. Dan tak selalu berarti bahwa itu positif. Bisa saja negatif. Tata nilai sosial dibentuk oleh tingkat penerimaan individu-individu dalam skala kelompok sosial tertentu, variabel yang berpengaruh, dan dalam jangka waktu tertentu pula. Dari situlah proses awal terbentuknya pola pikir, meski mungkin tak disadari. Oleh orang terpelajar sekalipun. Pola pikir dogmatis secara simpel bisa diartikan bahwa segala perbuatan yang bersentuhan, atau menyangkut kepentingan agama, adalah benar dengan sendirinya. Tak perlu itu ada dalilnya atau tidak, akibatnya baik atau buruk. Bunyi pengajian murotal yang keras dan berdurasi lama di menara masjid, mendominasi perempatan jalan yang sibuk dengan kotak donasi dan bunyi musik yang keras, hingga keputusan melakukan berjihad atas nama Tuhan tanpa terpenuhi syarat-syaratnya secara syariat, adalah di antara perilaku keberagamaan yang dianggap benar dengan sendirinya.

Sebegitu pentingnya kebiasaan dalam proses pembentukan dan transformasi tata nilai positif dalam kehidupan sosial, hingga dikaitkannya dengan variabel kepemimpinan karena fungsinya yang strategis dalam mendorong transformasi sosial. Makanya, kepemimpinan di segala level tak bisa dipegang oleh orang bodoh, kurang berpengetahuan. Termasuk di level terendah, tetapi posisinya strategis sebagai garda terdepan transformasi tata nilai positif, pengelola tempat ibadah.

Variabel kebiasaan ini begitu kuat pengaruhnya dalam proses pembentukan, penerimaan, hingga upaya mempertahankan tata nilai di level komunitas sosial sederhana, dan rentan terjebak. Di samping variabel pengetahuan, cara berpikir dogmatis, dan taqlid buta.

Dan kutipan riset di atas, sekedar menegaskan bahwa yang namanya kebiasaan, itu terbentuk dari proses yang begitu mudah. Entah disadari ataupun tidak. Cukup tindakan pengulangan yang konsisten. Terlepas dari nilai baik-buruknya, produktif atau tidak, atau bahkan persepsi benar-salahnya. Tetapi yang pasti, proses penerimaan tata nilai, hanya akan melalui kesadaraan karena variabel pendidikan dan lingkungan sosial, atau pemaksaan [intervensi]. Pesannya, jika tak paham, maka bertanyalah. Jangan membiasakan diri dengan hal-hal buruk. Buruk itu bisa berarti tidak normatif, tidak logis, tidak produktif, mengejar ri’ya, menambah masalah, hingga mungkin menciptakan masalah baru.

Sebagai interpreter hari itu, saya bukan hanya menerjemahkan bahasa. Saya sedang diterjemahkan—dari seseorang yang memahami agama sebagai identitas, menjadi seseorang yang mulai melihat bertuhan sebagai kesadaran. Wallahua’lam

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

fusilat

fusilat

Related Posts

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...