Sore itu di Yoshikawa Minami, Prefektur Saitama, Jepang, udara terasa sejuk. Matahari perlahan turun di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang menenangkan. Dalam suasana santai itulah saya berbincang dengan seorang sahabat Jepang bernama Noriko T.
Di tengah obrolan ringan, tiba-tiba beliau mengajukan pertanyaan yang membuat saya terdiam sejenak.
“Bagaimana dengan rupiah yang terus melemah? Sekarang sudah di atas Rp18 ribu per dolar. Apakah itu berdampak kepada rakyat?”
Saya menjawab bahwa pelemahan nilai tukar tentu memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Harga barang impor menjadi lebih mahal, biaya produksi meningkat, dan pada akhirnya masyarakatlah yang sering kali merasakan dampaknya.
Namun yang membuat saya tersentuh bukanlah pertanyaannya semata, melainkan kepedulian yang menyertainya.
Beliau kembali bertanya, “Kalau rakyat tidak punya pekerjaan, bagaimana mereka makan? Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari?”
Pertanyaan itu begitu sederhana, tetapi mengandung empati yang mendalam. Di saat sebagian orang hanya melihat angka-angka ekonomi sebagai statistik, Noriko melihat manusia di balik angka tersebut. Ia membayangkan para pekerja yang kehilangan penghasilan, keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, dan anak-anak yang masa depannya bergantung pada kondisi ekonomi orang tuanya.
Saya terus memikirkan percakapan itu.
Ironisnya, kepedulian tersebut datang dari seorang warga negara asing yang tinggal ribuan kilometer dari Indonesia. Ia tidak memiliki hak pilih di Indonesia, tidak terlibat dalam politik Indonesia, dan tidak memiliki kepentingan ekonomi yang besar terhadap negeri ini. Namun hatinya terusik ketika mendengar kabar tentang melemahnya rupiah.
Yang lebih mengharukan, di akhir pertemuan beliau memberikan berbagai bibit tanaman dan bibit buah-buahan untuk saya bawa dan tanam di Indonesia. Mungkin nilainya tidak besar jika dihitung dengan uang. Namun maknanya jauh lebih besar daripada itu.
Bibit-bibit tersebut seolah menjadi simbol harapan.
Harapan agar tanah Indonesia tetap subur.
Harapan agar masyarakat dapat menghasilkan pangan dari tanahnya sendiri.
Harapan agar rakyat memiliki ketahanan ketika ekonomi sedang tidak baik-baik saja.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, saya menemukan pelajaran berharga dari seorang perempuan Jepang bernama Noriko Takahashi. Bahwa kepedulian tidak mengenal batas negara, bahasa, maupun kebangsaan. Rasa kemanusiaan mampu melampaui sekat-sekat geografis yang sering kali memisahkan manusia.
Percakapan sore itu mengingatkan saya bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya pertumbuhan ekonomi, bukan pula tingginya gedung pencakar langit atau megahnya proyek pembangunan. Kemajuan sejati juga diukur dari sejauh mana kita peduli terhadap nasib sesama manusia.
Dan hari itu, di sebuah sudut Yoshikawa Minami, Saitama, saya melihat wajah kemanusiaan itu dalam diri Noriko T. Ketika sebagian orang sibuk membahas kurs rupiah sebagai angka di layar monitor, beliau justru memikirkan satu hal yang paling mendasar:
“Kalau rakyat tidak punya pekerjaan, mereka makan apa?”
Pertanyaan sederhana yang sesungguhnya mengandung makna sangat besar tentang kemanusiaan, kepedulian, dan kasih sayang kepada sesama.Esai ini dibuat dengan nuansa reflektif-humanis, menonjolkan empati Noriko Takahashi dan pengalaman pribadi Anda di Yoshikawa Minami, Saitama.























