Makassar, FusilatNews – 8 Juni 2026 – Sebanyak 50 anak muda difabel netra mengikuti Green Justice Youth Program, sebuah kegiatan pembelajaran dan aksi lingkungan yang menggabungkan isu perubahan iklim, inklusi disabilitas, dan kepemimpinan generasi muda. Program yang diselenggarakan Yayasan PerDIK pada 6–7 Juni 2026 ini menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus rangkaian perayaan satu dekade berdirinya yayasan tersebut.
Kegiatan diawali dengan sesi penguatan kapasitas yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari perubahan iklim, ruang terbuka hijau, GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), kepemimpinan disabilitas, hingga peran generasi muda dalam aksi iklim. Para peserta memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan memperluas pemahaman mengenai keterkaitan antara isu lingkungan dan keadilan sosial.
Pada hari kedua, peserta mengikuti aksi penanaman mangrove di kawasan pesisir Lantebung, Kota Makassar. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama masyarakat setempat melalui kerja sama dengan Ikatan Keluarga Lantebung.
Sebanyak 13 relawan serta 12 fasilitator dan narasumber turut mendampingi peserta selama proses pembelajaran dan kegiatan lapangan berlangsung.
Berbeda dengan kegiatan penanaman pohon yang kerap bersifat seremonial, Green Justice Youth Program dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih partisipatif dan bermakna. Selain menanam mangrove, peserta juga mempelajari fungsi ekosistem pesisir, pentingnya kawasan mangrove dalam mitigasi perubahan iklim, serta peran masyarakat lokal dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat pesisir, bibit mangrove yang digunakan dalam kegiatan ini dibeli langsung dari petani mangrove di Lantebung. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga mendukung perekonomian warga yang selama ini berkontribusi dalam pelestarian kawasan pesisir.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan mengerahkan sekitar 10 personel. Selain itu, instansi tersebut juga menyerahkan 50 bibit pohon tabebuya dan sukun kepada masyarakat Lantebung sebagai bagian dari upaya penghijauan berkelanjutan.
Direktur Yayasan PerDIK, Nur Syarif Ramadhan, menegaskan bahwa penyandang disabilitas perlu dipandang sebagai bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan iklim.
“Difabel bukan hanya kelompok yang terdampak oleh perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Mereka juga memiliki hak dan kapasitas untuk terlibat, memimpin, dan berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Nur Syarif, partisipasi penyandang disabilitas dalam aksi lingkungan masih sering terabaikan, padahal pengalaman hidup yang mereka miliki dapat memberikan perspektif penting dalam mendorong pembangunan yang lebih inklusif.
Green Justice Youth Program terselenggara berkat dukungan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Program ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong keterlibatan generasi muda, termasuk penyandang disabilitas, dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan aksi iklim di Indonesia.
Melalui kegiatan tersebut, Yayasan PerDIK berharap semakin banyak ruang partisipasi yang terbuka bagi penyandang disabilitas dalam berbagai inisiatif lingkungan hidup. Sebab, masa depan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga oleh sejauh mana seluruh warga, tanpa terkecuali, dapat berpartisipasi dalam menjaga dan merawat lingkungan.























