Oleh banyak orang Indonesia, Jepang sering dipandang sebagai negeri yang unik. Teknologinya maju, masyarakatnya disiplin, dan bahkan hal-hal yang dianggap sepele oleh bangsa lain pun mendapat perhatian serius. Salah satu contohnya adalah toilet.
Muncul sebuah candaan yang cukup populer: “Toilet di Jepang ada lagunya, ada Tuhannya.” Kalimat itu terdengar lucu, bahkan terkesan berlebihan. Namun di balik candaan tersebut tersimpan sebuah kenyataan budaya yang menarik untuk dipahami.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, toilet sering dipandang sebagai tempat yang kotor, sekadar ruang pelengkap dalam sebuah bangunan. Tidak jarang kebersihannya diabaikan karena dianggap tidak terlalu penting. Di Jepang, pandangan seperti itu berbeda. Toilet justru menjadi cerminan karakter, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap lingkungan.
Candaan tentang “toilet ada lagunya” bukanlah isapan jempol. Toilet-toilet modern di Jepang memang banyak dilengkapi teknologi yang dirancang untuk menjaga kenyamanan dan privasi penggunanya. Tersedia tombol yang mengeluarkan suara gemericik air atau alunan musik lembut agar suara aktivitas di dalam toilet tidak terdengar oleh orang lain. Teknologi tersebut lahir dari budaya yang sangat menghargai rasa malu dan privasi individu.
Namun bagian yang lebih menarik justru terletak pada ungkapan “toilet ada Tuhannya.”
Dalam tradisi Shinto yang telah berakar selama berabad-abad di Jepang, terdapat konsep kami, yakni roh atau entitas spiritual yang dipercaya dapat bersemayam di berbagai tempat dan benda. Gunung, sungai, pohon, batu, hingga tempat-tempat tertentu dalam kehidupan sehari-hari dapat memiliki nilai kesakralan tersendiri.
Dari keyakinan inilah muncul sosok yang dikenal sebagai Kawaya no Kami, atau dewa penjaga toilet. Kepercayaan ini mengajarkan bahwa kebersihan bukan hanya soal kesehatan fisik, melainkan juga bagian dari keharmonisan hidup. Toilet yang bersih dipercaya membawa keberuntungan, kesehatan, dan kebaikan bagi penghuninya.
Tentu, bagi masyarakat modern Jepang sendiri, kepercayaan tersebut tidak selalu dipahami secara harfiah sebagai bentuk penyembahan. Namun nilai yang diwariskan tetap hidup: menjaga kebersihan toilet adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Pesan itu kemudian dipopulerkan kembali melalui lagu terkenal berjudul Toilet no Kamisama yang dibawakan oleh Kana Uemura. Lagu tersebut berkisah tentang seorang nenek yang berpesan kepada cucunya agar rajin membersihkan toilet karena di sana ada “dewa toilet” yang akan membawa keberuntungan dan kecantikan. Lagu itu menyentuh hati banyak orang Jepang karena sesungguhnya berbicara tentang penghormatan kepada orang tua, kerja keras, dan kesederhanaan hidup.
Di sinilah letak pelajaran yang menarik.
Barangkali yang membuat Jepang maju bukan semata-mata karena robot, kereta cepat, atau teknologi canggihnya. Kemajuan itu lahir dari cara pandang yang menghargai setiap detail kehidupan. Sesuatu yang dianggap remeh oleh orang lain justru diperlakukan dengan penuh kesungguhan.
Ketika sebuah bangsa mampu mengajarkan kebersihan bahkan melalui toilet, maka sesungguhnya mereka sedang membangun peradaban dari fondasi yang paling dasar.
Karena itu, candaan “toilet Jepang ada lagunya, ada Tuhannya” sebenarnya menyimpan makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar lelucon tentang teknologi atau kepercayaan tradisional. Ia menggambarkan sebuah masyarakat yang berhasil menanamkan penghormatan terhadap kebersihan hingga menjadi bagian dari budaya.
Mungkin kita tidak perlu memiliki toilet yang bisa bernyanyi. Kita juga tidak perlu mempercayai adanya dewa penjaga toilet. Namun ada satu hal yang layak dipelajari dari Jepang: kesadaran bahwa peradaban yang besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap remeh oleh kebanyakan orang.
Dan bisa jadi, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya terlihat dari gedung-gedung pencakar langitnya, melainkan juga dari bagaimana mereka memperlakukan tempat yang paling tersembunyi di rumah mereka: toilet.


















