• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

fusilat by fusilat
April 24, 2026
in Feature, Spiritual
0
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Ada peristiwa-peristiwa dalam sejarah manusia yang tidak hanya menguji kekuatan militer, tetapi juga menguji nurani. Gaza hari ini adalah salah satunya. Ia bukan sekadar wilayah yang dibombardir. Ia adalah cermin: memantulkan wajah dunia—apakah masih punya hati, atau sudah terbiasa hidup dengan angka-angka kematian.

Pertanyaannya sederhana, tapi berat: apakah ini genosida?
Dan lebih jauh lagi: bagaimana agama—khususnya Islam—memandang kezaliman semacam ini dan konsekuensinya?
Kita mulai dari fakta, bukan emosi.

Laporan berbagai lembaga internasional, termasuk Komisi Penyelidikan independen di bawah Dewan HAM PBB, menggambarkan sesuatu yang tidak ringan: pembunuhan warga sipil, kehancuran rumah dan rumah sakit, luka fisik dan trauma psikologis, hingga pembatasan bantuan kemanusiaan. Bahkan disebut adanya kondisi hidup yang “dihitung untuk menghancurkan suatu kelompok”.

Namun angka sering kali lebih jujur daripada narasi.
Puluhan ribu warga sipil dilaporkan tewas, dengan proporsi besar perempuan dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya terluka atau kehilangan tempat tinggal. Lebih dari seratus ribu bangunan rusak atau hancur. Rumah sakit tidak lagi menjadi tempat aman—ia berubah menjadi target, atau setidaknya tidak lagi mampu berfungsi. Bantuan kemanusiaan tersendat, sementara kebutuhan dasar seperti air, listrik, dan pangan menjadi barang langka.
Ini bukan sekadar konflik. Ini adalah penderitaan yang terstruktur.
Lalu apakah ini genosida?

Di sinilah wilayah abu-abu itu muncul. Sebagian laporan dan organisasi HAM menyatakan bahwa tindakan tersebut telah memenuhi unsur genosida, bahkan menunjukkan indikasi genocidal intent—niat untuk menghancurkan suatu kelompok. Namun di sisi lain, ada penolakan keras dari pemerintah Israel yang menyebut semua tindakan sebagai bagian dari pertahanan diri terhadap Hamas.

Beberapa pihak juga menilai istilah “genosida” digunakan terlalu jauh.
Maka secara hukum internasional, istilah itu masih diperdebatkan. Belum final. Belum bulat.

Namun ada satu hal yang tidak lagi bisa diperdebatkan:
penderitaan itu nyata.
kematian itu nyata.
dan kehancuran itu nyata.
Dan di titik inilah, agama masuk bukan sebagai pembenaran, tetapi sebagai pengingat.
Al-Qur’an tidak banyak bicara soal geopolitik. Ia bicara soal keadilan.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini tidak memberi pengecualian. Bahkan terhadap musuh sekalipun, keadilan tetap menjadi standar.
Artinya, jika benar ada penghancuran sistematis terhadap warga sipil, maka itu bukan sekadar pelanggaran hukum internasional—itu adalah pelanggaran moral yang paling mendasar.

Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras terhadap kezaliman:
“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim…” (QS. Ibrahim: 42)
Ini bukan ancaman emosional. Ini adalah hukum moral alam semesta dalam perspektif iman: kezaliman mungkin tampak menang dalam jangka pendek, tetapi ia menyimpan kehancurannya sendiri.

Dalam hadits, Nabi Muhammad SAW bahkan lebih tajam:
“Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.”
Di sini, tidak ada sistem pertahanan yang bisa menghalangi. Tidak ada diplomasi yang bisa menegosiasikan. Ketika kezaliman terjadi, yang bergerak bukan hanya politik—tetapi juga dimensi yang lebih dalam: doa, luka, dan harapan yang dipaksa diam.

Lalu bagaimana dengan “balasan”?
Sering kali kita salah memahami konsep ini. Dalam Al-Qur’an, balasan tidak selalu datang dalam bentuk yang instan atau spektakuler. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: keruntuhan moral, delegitimasi global, kehilangan kepercayaan, bahkan konflik internal yang perlahan menggerogoti dari dalam.
Sejarah penuh dengan contoh: kekuatan besar yang runtuh bukan karena serangan luar, tetapi karena akumulasi ketidakadilan yang mereka bangun sendiri.
Dalam perspektif ini, balasan bukan sekadar hukuman. Ia adalah konsekuensi.
Dan konsekuensi itu tidak bisa dihindari, hanya bisa ditunda.
Namun ada satu hal yang sering luput:
agama tidak hanya bicara tentang pelaku kezaliman, tetapi juga tentang mereka yang menyaksikan.

Apa posisi kita?
Apakah cukup dengan simpati?
Apakah cukup dengan kemarahan di media sosial?
Ataukah kita diam, karena merasa ini bukan urusan kita?
Dimana peran kita atas situasi Gaza kini menunjukkan posisi kita di akhirat kelak.
Diamnya kita bukan hanya selemah-lemahnya iman.
Bukan sekadar soal kadar dan kuantitas iman.
Ia lebih dari itu.
Ia menguji legalitas dan validitas keimanan kita.
Ia mempertanyakan—secara sunyi tapi tajam—apakah kita pantas menyebut diri beriman, atau sekadar merasa beriman.

Al-Qur’an pernah mengingatkan tentang satu kelompok yang celaka bukan karena berbuat zalim, tetapi karena membiarkan kezaliman terjadi tanpa sikap.

Di sinilah refleksi itu menjadi tidak nyaman.
Karena Gaza bukan hanya soal Israel dan Palestina. Ia adalah ujian bagi kemanusiaan global—termasuk kita.
Kini terbuka panggung jihad kita—bukan semata dalam makna sempit, tetapi dalam arti luas: berperan, berjuang, setidak-tidaknya dalam bentuk kemanusiaan.

Kesimpulan
Kekerasan, penderitaan, dan kehancuran di Gaza adalah fakta yang tidak bisa disangkal. Ada dasar bukti yang kuat untuk menyebutnya sebagai genosida, meskipun secara hukum internasional masih diperdebatkan. Dalam perspektif Al-Qur’an dan hadits, tindakan yang mengarah pada penghancuran dan ketidakadilan terhadap manusia adalah bentuk kezaliman yang serius—dan kezaliman tidak pernah dibiarkan tanpa konsekuensi.

Kalimat tantangan terhadap diri kita sendiri, refleksi diri, audit diri secara jujur, untuk menjawab secara tegas dan tepat posisi kita, bagaimana dan mengapa untuk membedah validitas iman diri kita sendiri, apakah bersikap diam atau peduli dengan berjihad kemanusiaan. Ditunggu jawabannya.

Saran
* Pertama, kita perlu menjaga kejujuran intelektual: membedakan antara fakta, opini, dan propaganda.
* Kedua, memperkuat empati yang tidak selektif—karena nilai kemanusiaan tidak boleh bergantung pada identitas.
* Ketiga, mengambil peran sesuai kapasitas: menyuarakan kebenaran, mendukung bantuan kemanusiaan, dan tidak membiarkan nurani mati oleh kebiasaan melihat penderitaan.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya: apa yang terjadi di Gaza?
Tetapi: apa yang terjadi pada kita ketika kita melihatnya?

Bukti nyata niat dan amal ibadah kita untuk membantu warga Palestina, menjadi modal amal yang kuat untuk bekal kita di akhirat kelak.

Referensi
* Laporan Komisi Penyelidikan Independen Dewan HAM PBB (OHCHR)
* Konvensi Genosida 1948
* Amnesty International Reports on Gaza
* Reuters: Investigasi dampak kemanusiaan konflik Gaza
* Analisis akademik terkait kerusakan infrastruktur (arXiv)
* Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 8; QS. Ibrahim: 42)
* Hadits Nabi Muhammad SAW tentang doa orang terzalimi

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

Next Post

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

fusilat

fusilat

Related Posts

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial
Feature

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Next Post
Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...