
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI
(Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Jakarta, 19 Februari 2026
Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI
(Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Di sejumlah grup WhatsApp saya, muncul perdebatan yang cukup seru: apakah Epstein Files itu asli atau sekadar scam. Banyak yang berargumen, “Mana mungkin ada orang dewasa tega memperkosa, membunuh, bahkan memakan daging anak-anak seusia cucu mereka sendiri?”
Menurut mereka, tak masuk akal jika orang-orang yang selama ini tampil terhormat, berpendidikan, kaya raya, dan berpengaruh, ternyata memiliki perilaku sebejât itu. “Ah, rasanya tidak logis,” begitu kira-kira bantahannya.
Begitulah argumen kubu pro-sekuler mencari pembenaran. Mereka membela junjungannya seolah-olah menjadi saksi mata—melihat, mendengar, dan mengalami langsung peristiwa itu.
Sebaliknya, kelompok kontra-sekuler justru meyakini bahwa Epstein Files adalah benar. Mereka pun menyusun argumen, sering kali dengan pola yang sama, hanya berbeda arah dan kesimpulan.
Padahal, baik yang percaya maupun yang tidak percaya, sesungguhnya berada pada posisi yang sama: sama-sama tidak tahu. Tidak melihat, tidak mendengar, apalagi mengalami langsung.
Maka, untuk memahami benar atau tidaknya informasi tersebut, kita sebenarnya tidak perlu terjebak dalam debat emosional atas sesuatu yang kita sendiri tidak ketahui faktanya. Yang lebih rasional adalah menganalisisnya dengan pendekatan skenario “jika” (if scenario).
Jika ada manusia yang tidak percaya kepada Tuhan—lalu menjadikan nafsunya sebagai Tuhan—
jika manusia itu sangat kaya,
memiliki kekuasaan besar,
memiliki jaringan dan pasukan bersenjata dengan senjata pamungkas,
yang setiap saat bisa diperintah untuk merampas harta orang lain,
membungkam, bahkan membunuh yang lemah,
maka jelaskan kepada saya:
apa yang tidak mungkin ia lakukan?























