• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

NEGARA BERTUHAN, AGAMA MEMBISU : Ketuhanan Yang Maha Siswa

M.Yamin Nasution by M.Yamin Nasution
June 27, 2025
in Feature, Politik
0
NEGARA BERTUHAN, AGAMA MEMBISU : Ketuhanan Yang Maha Siswa
Share on FacebookShare on Twitter
Muhammad Yamin Nasution

Oleh M. Yamin Nasution, S.H. – Pemerhati Hukum

“Tulisan ini adalah refleksi kritis atas rusaknya praktik politik hukum di Indonesia, khususnya ketika nilai Ketuhan dan keadilan sosial hanya sebagai simbol tanpa implementasi. Kritik ditujukan sebagai bentuk kepedulian terhadap hilangnya keberpihakan Negara dan tokoh agama terhadap rakyat”

INDONESIA bukan negara agama. Namun ia bukan pula negara sekuler dalam arti telanjang dari nilai-nilai Ketuhanan. Konstitusinya dimulai dengan kalimat: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Pancasila menempatkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” di puncak sebagai dasar bernegara. Artinya, Indonesia adalah Negara Agamis, hubungan tak terpisahkan antara negara dan agama.  Tuhan bukan hanya disebut, tapi dijadikan landasan moral negara.

Namun, ketika hukum tak berpihak pada yang lemah, tanah-tanah rakyat dirampas, aparat memukul mahasiswa, dan keadilan menjadi barang mahal, di manakah para penjaga suara Tuhan?

Negara telah kehilangan nurani, dan para pemuka agama justru memilih diam. Di tengah segala bentuk ketidakadilan sosial dan ekologis yang nyata, ulama, pendeta, pastor, bhiksu, dan tokoh-tokoh agama lebih banyak berdoa dalam sunyi daripada bersuara lantang membela mereka yang ditindas.

Ironisnya, justru mahasiswa ,  bukan para tokoh agama , yang turun ke jalan menolak kezaliman. Mereka dicap subversif, radikal, bahkan dituduh tidak bertuhan. Padahal dalam banyak hal, merekalah yang mewujudkan nilai Ketuhanan itu secara nyata: membela yang tak bersuara, menolak penindasan, dan menanggung resiko karena memperjuangkan kebenaran. Ini adalah perintah Tuhan.

Agama, dalam sejarahnya, bukanlah sekadar pengatur moral privat. Ia adalah kekuatan sosial yang melawan tirani. Musa menentang Firaun. Yesus menggulingkan meja para pedagang di bait Allah. Nabi Muhammad SAW menegakkan keadilan bagi kaum mustadh’afin di Mekah. Tapi di Indonesia hari ini, agama terjebak dalam ritualisme tanpa keberpihakan.

Para tokoh agama sibuk mengurus dosa pribadi, tapi lupa memperjuangkan keadilan publik. Mereka membicarakan surga, tapi membiarkan neraka sosial membakar rakyat kecil. Mereka berbicara soal amal, tapi takut mengutuk korupsi kekuasaan. Mereka lebih takut kehilangan pengaruh daripada kehilangan makna. Dan meraka sibuk meletakkan Tuhan dispanduk-spanduk kampanye Pemilu.

Inilah yang saya sebut sebagai cacat etika ilahiyah. Negara menyebut Tuhan dalam hukum, tapi berlaku zalim dalam kebijakan. Para pemuka agama menyebut nama Tuhan dalam ibadah, tapi membisu saat ketidakadilan meluas.

Ketika rakyat dikalahkan oleh hukum yang korup, ketika aparat menghajar mahasiswa di jalan, dan ketika tanah ulayat dirampas demi investasi, di mana suara gereja, masjid, wihara, dan pura? Dimana Persatuan Indonesia?

Ketika kezaliman dilembagakan dan keadilan dibisukan, yang tersisa adalah agama simbolik. Tuhan dijadikan ornamen hukum, bukan sumber moral dalam keputusan politik. Sementara itu, para pemuka agama berlindung di balik dalih spiritual: “Kita hanya mendoakan.” Tapi sejak kapan doa menggantikan keberanian? Sejak kapan ibadah tanpa keberpihakan disebut suci?

Para nabi tidak lahir untuk berdiam. Mereka berdiri melawan sistem yang menindas. Jika hari ini pemuka agama kehilangan suara kenabian, maka jangan salahkan jika mimbar moral itu diambil alih oleh mahasiswa. Mereka yang dihina sebagai radikal itu justru sedang menghidupkan ajaran profetik di zaman yang hampa.

Indonesia sedang bergerak mundur ke zaman Firaun, tapi para imam dan ulama justru sibuk menjaga dekorasi kuil. Ketika rakyat mencari pembela, yang mereka temukan hanya doa-doa kosong tanpa aksi. Agama seperti itu tidak membebaskan. Ia hanya memperkuat struktur penindasan.

Kita harus jujur mengakui: Ketuhanan telah menjadi proyek simbolik, dan agama tidak lagi menjadi kekuatan pembebas. Jika negara tetap mencantumkan nama Tuhan di konstitusinya, maka seharusnya ia bersikap seperti Tuhan yang Mahaadil, bukan Mahaotoriter. Jika tokoh agama mengaku pewaris ajaran kenabian, maka mereka wajib berpihak kepada yang tertindas, bukan kepada penguasa.

Hari ini, kita tidak melihat itu. Maka Tuhan pun berpihak kepada mahasiswa. Sebab mereka bersuara ketika semua yang lain memilih diam. Mereka berdiri ketika para tokoh spiritual justru berjongkok.

Jika negara tetap ingin disebut bertuhan, maka negara harus bernurani.

Jika tokoh agama ingin dihormati sebagai penjaga moralitas, maka mereka harus berani melawan kezaliman, bukan berdamai dengan kekuasaan.

Jika tidak, maka jangan salahkan jika masyarakat hanya mengingat satu nama yang jujur:

Ketuhanan yang Maha Siswa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Case Study PKS: “Ikan Mati dan Ideologi yang Larut”

Next Post

RUBEDA “KUTUK” ALAM  ATAS JOKOWI

M.Yamin Nasution

M.Yamin Nasution

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
RUBEDA “KUTUK” ALAM  ATAS JOKOWI

RUBEDA “KUTUK” ALAM  ATAS JOKOWI

Kerusakan Ekologis Menyumbang Kerugian Negara Terbesar dari Total Rp 300 T pada Kasus Korupsi Timah. Apa Dasarnya?

PERTENTANGAN UU MINERBA DENGAN UUD-NRI 1945

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...