• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Obesitas, Sains, dan Mitos “Cukup Diet dan Olahraga”

fusilat by fusilat
March 12, 2026
in Feature, Health
0
Obesitas, Sains, dan Mitos “Cukup Diet dan Olahraga”
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Dalam banyak percakapan publik, obesitas sering dipandang sebagai persoalan disiplin pribadi. Narasinya sederhana: makan terlalu banyak, bergerak terlalu sedikit. Solusinya juga dibuat sederhana: diet dan olahraga. Namun pandangan ini semakin dipertanyakan oleh perkembangan ilmu kedokteran modern. Salah satu suara penting dalam diskursus ini adalah Dr. Fatima Cody Stanford, seorang dokter spesialis obesitas dari Harvard yang selama bertahun-tahun menjelaskan bahwa obesitas bukan sekadar masalah kemauan, melainkan penyakit metabolik yang kompleks.

Pandangan Stanford mengguncang cara lama kita memahami tubuh manusia. Menurutnya, tubuh tidak bekerja seperti kalkulator sederhana yang hanya menghitung kalori masuk dan keluar. Ia adalah sistem biologis yang diatur oleh hormon, genetika, metabolisme, dan mekanisme pertahanan tubuh yang sangat rumit.

Obesitas Bukan Sekadar Pilihan Hidup

Dalam pendekatan medis modern, obesitas dipandang sebagai penyakit kronis, mirip dengan diabetes atau hipertensi. Banyak faktor biologis yang menentukan bagaimana tubuh seseorang menyimpan energi, mengatur rasa lapar, dan membakar kalori.

Genetika misalnya memainkan peran besar. Dua orang dengan pola makan dan aktivitas yang sama bisa memiliki hasil yang sangat berbeda. Tubuh seseorang mungkin lebih efisien menyimpan energi sebagai lemak, sementara yang lain membakar kalori lebih cepat.

Selain itu, tubuh manusia memiliki mekanisme “pertahanan berat badan”. Ketika seseorang menurunkan berat badan melalui diet ketat, tubuh sering merespons dengan memperlambat metabolisme dan meningkatkan rasa lapar. Secara evolusioner, mekanisme ini berguna untuk mencegah kelaparan. Namun dalam dunia modern, ia justru membuat penurunan berat badan menjadi sangat sulit dipertahankan.

Di sinilah Stanford menekankan bahwa menyuruh semua orang “cukup diet dan olahraga” adalah simplifikasi yang sering kali tidak adil.

Mengapa Diet dan Olahraga Tidak Selalu Cukup

Diet dan aktivitas fisik tetap penting bagi kesehatan. Namun bagi sebagian orang dengan obesitas berat, perubahan gaya hidup saja tidak cukup menghasilkan perubahan yang signifikan dan bertahan lama.

Tubuh memiliki sistem hormonal yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Hormon seperti leptin, ghrelin, dan insulin bekerja seperti sinyal biologis yang mengatur kapan kita merasa lapar atau puas. Pada sebagian penderita obesitas, sistem ini tidak bekerja secara normal.

Akibatnya, seseorang bisa terus merasa lapar meskipun sudah makan cukup. Dalam kondisi seperti ini, menyuruh seseorang “mengontrol diri” tanpa intervensi medis sama saja dengan meminta tubuh melawan biologi dasarnya sendiri.

Munculnya Terapi GLP-1

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia medis menyaksikan perkembangan obat baru yang menargetkan sistem hormonal tersebut. Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah obat berbasis hormon GLP-1 (glucagon-like peptide-1).

Obat seperti Ozempic dan Wegovy bekerja dengan meniru hormon alami tubuh yang membantu mengatur nafsu makan dan kadar gula darah.

Hormon GLP-1 memiliki beberapa efek penting:

  • memperlambat pengosongan lambung
  • meningkatkan rasa kenyang
  • mengurangi rasa lapar
  • membantu mengontrol kadar gula darah

Dengan mekanisme ini, pasien sering merasa kenyang lebih cepat dan tidak lagi memiliki dorongan makan berlebihan. Dalam uji klinis, obat-obatan ini dapat membantu penurunan berat badan yang signifikan, jauh lebih besar dibandingkan dengan perubahan gaya hidup saja.

Namun Stanford selalu menekankan bahwa obat ini bukan “jalan pintas”. Ia adalah terapi medis untuk penyakit kronis, sama seperti insulin bagi diabetes.

Mengubah Cara Kita Memahami Obesitas

Pesan utama Stanford sebenarnya sederhana tetapi radikal: obesitas harus dipahami sebagai penyakit, bukan kegagalan moral.

Stigma terhadap penderita obesitas sering kali membuat mereka diperlakukan seolah-olah kurang disiplin atau malas. Padahal banyak dari mereka telah mencoba berbagai diet, olahraga, bahkan program ekstrem tanpa hasil yang bertahan lama.

Ketika sains menunjukkan bahwa faktor biologis memainkan peran besar, pendekatan terhadap obesitas pun harus berubah. Perawatan dapat mencakup kombinasi:

  • perubahan pola makan
  • aktivitas fisik
  • terapi perilaku
  • obat-obatan
  • bahkan operasi bariatrik dalam kasus tertentu

Pendekatan ini menempatkan obesitas dalam kerangka medis yang lebih manusiawi dan berbasis ilmu pengetahuan.

Dari Moralitas ke Sains

Diskusi tentang obesitas sering kali sarat dengan penilaian moral. Namun kemajuan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa tubuh manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan disiplin pribadi.

Apa yang disampaikan oleh Fatima Cody Stanford pada akhirnya adalah ajakan untuk melihat obesitas melalui lensa sains, bukan stigma. Jika masyarakat dapat menerima bahwa obesitas adalah penyakit biologis yang kompleks, maka pendekatan pengobatannya pun akan menjadi lebih adil, rasional, dan efektif.

Dengan demikian, perdebatan tentang obesitas tidak lagi berhenti pada kalimat klise “kurangi makan dan lebih banyak bergerak”, tetapi berkembang menuju pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana tubuh manusia benar-benar bekerja.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tekanan Darah dan Rahasia Umur Panjang Catatan Kesehatan dari Dr. Tom Frieden tentang Enam Kebiasaan yang Menyelamatkan Hidup

Next Post

Professor Anjing: Saat Televisi Mengangkat Penghina Menjadi Narasumber

fusilat

fusilat

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Professor Anjing: Saat Televisi Mengangkat Penghina Menjadi Narasumber

Professor Anjing: Saat Televisi Mengangkat Penghina Menjadi Narasumber

Ketika Sejarah Menegur Bangsa: Dari Heather Cox Richardson hingga Rocky Gerung tentang Ingatan, Kekuasaan, dan Masa Depan Demokrasi

Ketika Sejarah Menegur Bangsa: Dari Heather Cox Richardson hingga Rocky Gerung tentang Ingatan, Kekuasaan, dan Masa Depan Demokrasi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist