Oleh White Lily
Kalau awet muda hanya urusan krim malam dan suplemen impor, mestinya para pemikir sudah lama keriput sebelum waktunya. Faktanya justru sebaliknya. Banyak orang yang rambutnya memutih lebih dulu, tapi akalnya tetap lincah, kata-katanya masih bisa bikin orang gelisah, dan pikirannya belum mau pensiun.
Di sinilah kita mulai curiga: jangan-jangan obat awet muda itu bukan di apotek, tapi di kepala.
Secara teoritis—dan ini bisa dipertanggungjawabkan tanpa harus memanggil profesor—otak adalah organ yang paling malas kalau tidak dipaksa bekerja. Begitu dia dibiarkan menganggur, ia akan berperilaku seperti pegawai negeri yang terlalu lama tanpa pekerjaan: datang pagi, pulang cepat, dan pelan-pelan kehilangan fungsi. Dari situlah penuaan dimulai, bukan dari keriput, tapi dari kebiasaan berhenti berpikir.
Ilmu saraf modern menyebutnya neuroplasticity: otak yang dipakai akan membentuk sambungan baru, sementara otak yang dibiarkan akan berkarat dengan sendirinya. Dalam bahasa warung kopi: kalau otak jarang dipakai, jangan kaget kalau cepat pikun. Itu bukan takdir, itu kelalaian.
Menariknya, penuaan sering disalahpahami sebagai urusan umur. Padahal, banyak orang yang sudah tua di usia muda karena lebih rajin menghafal gosip ketimbang gagasan. Otaknya penuh, tapi isinya bukan pikiran—melainkan kebiasaan. Di titik itu, tubuh tinggal mengikuti: bahu turun, langkah melambat, dan semangat hidup diganti dengan keluhan.
Sebaliknya, orang yang otaknya masih sibuk bertanya biasanya lupa untuk merasa tua. Ia masih ribut soal keadilan, masih gelisah membaca berita, masih tergoda untuk menulis atau berdebat. Hormon tubuhnya ikut kebingungan: “Ini orang sebenarnya sudah umur berapa?” Dopamin dan serotonin tetap bekerja karena pikiran belum menyerah pada rutinitas.
Dalam kerangka teori sosial, ini masuk akal. Manusia adalah makhluk berpikir. Begitu fungsi berpikir dikurangi, manusia kehilangan sebagian kemanusiaannya. Ia hidup, tapi tidak lagi mengalami hidup. Ia berjalan, tapi tidak lagi menuju apa-apa. Penuaan biologis lalu datang sebagai konsekuensi, bukan sebab.
Maka jangan heran kalau banyak pensiunan yang mendadak cepat uzur. Bukan karena berhenti bekerja, tapi karena berhenti merasa perlu berpikir. Otak diberi libur permanen, padahal ia tidak pernah mengajukan cuti.
Di titik ini, kita bisa menyimpulkan secara agak sembrono tapi masuk akal: orang yang awet muda adalah orang yang otaknya belum mau tutup kantor. Ia mungkin lelah, tapi belum selesai. Ia mungkin tua di KTP, tapi muda di rasa ingin tahunya.
Jadi, kalau ada yang bertanya apa rahasia awet muda, jawab saja dengan sopan:
“Pakai otak. Jangan disimpan. Itu bukan barang antik.”
























