• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Paradox Langit dan Perut: Ketika Doa Tak Menurunkan Harga Beras

Ali Syarief by Ali Syarief
June 25, 2025
in Feature, Spiritual
0
Paradox Langit dan Perut: Ketika Doa Tak Menurunkan Harga Beras
Share on FacebookShare on Twitter

Konon katanya, semakin banyak umat bersujud, semakin makmur negeri itu. Semakin lantang azan dikumandangkan, semakin runtuhlah ketimpangan. Dan bila tiap rumah dihiasi kitab suci, maka takkan ada lagi kemiskinan, pengangguran, apalagi korupsi. Tapi itulah katanya. Fakta di lapangan sering kali menertawakan teori.

Lihatlah sekeliling kita. Di negeri-negeri yang jemaah subuhnya penuh sesak, yang khatibnya menggelegar menyerukan takwa tiap Jumat, yang siangnya diisi pengajian, sorenya tadarus, dan malamnya zikir hingga dini hari — ternyata angka kemiskinan tetap enggan menyingkir. Bahkan kadang makin setia. Negara-negara seperti Afghanistan, Somalia, Sudan, atau bahkan Yaman—tempat azan mungkin lebih merdu daripada suara burung pagi hari—adalah juga negara yang ekonominya terseok-seok, infrastrukturnya compang-camping, dan nasib warganya seperti dadu: tergantung siapa yang melempar.

Sebaliknya, negeri-negeri yang mesjidnya jarang terlihat, mushafnya tersimpan rapi di museum, bahkan nama Tuhannya hanya disebut dalam pidato kenegaraan setiap tahun sekali — justru ekonominya menggeliat. Tengoklah Swedia, Denmark, Jepang, atau Jerman. Negara-negara ini bisa jadi tidak hafal ayat-ayat langit, tapi sangat hafal bagaimana menjaga bumi: bersih, tertib, efisien, dan saling menghargai. Mereka tidak banyak berdoa di pinggir jalan, tapi juga tidak membuang sampah sembarangan. Mereka tidak menangis dalam sujud panjang, tapi juga tidak menindas rakyat kecil. Mereka tidak menggembar-gemborkan surga, tapi menciptakan “nirwana” kecil di dunia.

Apa yang salah?

Mungkin kita terlalu sibuk mengejar pahala, hingga lupa mengejar keadilan. Terlalu fokus pada surga, hingga abai pada nasib tetangga. Terlalu getol membangun rumah ibadah, namun enggan membangun sistem sosial yang berpihak pada kaum lemah. Agama menjadi ritual, bukan lagi perilaku. Menjadi lencana di dada, bukan sikap hidup.

Di sinilah letak paradoksnya: semakin tinggi mata kita ke langit, semakin kosong isi kantong di perut. Kita memuja Tuhan dengan khidmat, tapi mencurangi sesama manusia dengan cekatan. Kita bicara soal neraka, tapi lupa bahwa korupsi adalah api dunia yang nyata.

Lalu orang bertanya: apa harus jadi ateis dulu agar makmur? Tentu tidak. Tapi mungkin kita harus belajar dari mereka yang tak terlalu sibuk membahas Tuhan, namun sibuk memanusiakan manusia. Yang tidak menggertak orang dengan ayat, tapi menebar kasih lewat kerja nyata.

Agama seharusnya bukan penghalang bagi kemajuan, melainkan kompas. Tapi bila kompas itu hanya dipajang di lemari, sementara arah langkah kita ditentukan hawa nafsu, maka wajar bila negeri yang paling religius sekalipun tetap terjerembab dalam lubang kemiskinan, kebodohan, dan kezaliman.

Langit dan bumi memang dua hal yang berbeda. Tapi tugas manusia adalah menjembatani keduanya — agar doa tidak hanya melayang, tapi menjelma menjadi tindakan. Agar sujud tak hanya menyentuh sajadah, tapi juga menyentuh hati dan akal. Supaya kelak kita tidak cuma dikenal sebagai bangsa paling taat beragama, tapi juga bangsa yang paling adil, makmur, dan beradab.

Sebab Tuhan tak hanya diam di langit. Ia juga hadir di pasar, di jalan raya, dan di meja makan yang kosong.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Siapa yang Salah Kalau Tanah Jadi Mahal?

Next Post

Exclusive: Damai Hari Lubis Dipanggil Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE dan Pasal Penghasutan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG
Economy

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara
Feature

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026
Next Post
Hasto Testimonium De Aiditu  “Anies Dikriminalisasi, Beranikah Melawan Kedzaliman?”

Exclusive: Damai Hari Lubis Dipanggil Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE dan Pasal Penghasutan

Jokowi Ajarkan Moral Kemunafikan Kepada Gibran? – Learning By Doing

APA BISA GIBRAN MEMIKUL BEBAN SEJARAH?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026
Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

March 26, 2026

MUNGKINKAH PENJAJAHAN DIHAPUSKAN DARI MUKA BUMI?

March 26, 2026
Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

Harga BBM Mahal, Rakyat Terjepit: Membandingkan Jepang dan Indonesia dari Sudut Daya Beli

March 26, 2026
Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

Japan Lepas Cadangan Minyak Negara untuk Stabilkan Pasokan Energi

March 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...