Bandung – Fusilatnews – Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi yang terjadi di Sukabumi pada Ahad kemarin disebabkan oleh pecahnya Lempeng Indo-Australia dan sesar aktif di dasar laut. Gempa tersebut tercatat dengan magnitudo 5,1 dan 4,1.
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa gempa dengan magnitudo 5,1 merupakan hasil dari deformasi batuan dalam Lempeng Australia, yang dikenal sebagai gempa intra-slab. Selain itu, gempa menunjukkan pergerakan geser naik. Getaran gempa dirasakan di Sukabumi, Cimahi, Lembang, Kabupaten Bandung, hingga Kota Bandung, namun tidak menimbulkan potensi tsunami.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pada Senin pagi, gempa kembali melanda wilayah Sukabumi dengan magnitudo 4,1, yang kali ini disebabkan oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut pada kedalaman lebih dangkal, yakni 27 kilometer.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Bandung, Virga Librian, menekankan bahwa gempa dengan magnitudo 5,1 berskala menengah tidak menimbulkan kerusakan signifikan, sedangkan magnitudo 4,1 memiliki dampak yang lebih kecil.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengingatkan bahwa jenis gempa akibat pecahnya Lempeng Australia ini perlu diwaspadai, karena menghasilkan gerakan tanah yang lebih kuat dibandingkan gempa dengan magnitudo serupa dari sumber lain. Groundmotion yang dihasilkan oleh gempa intra-slab ini dapat menyebabkan pergerakan tanah yang lebih kuat.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiagaan dan mitigasi bencana, baik secara struktural maupun non-struktural, serta tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG untuk mencegah tersebarnya berita hoaks yang dapat memicu kepanikan.


























