M Yamin Nasution, S.H.
𝐻𝑎𝑔𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑃ℎ𝑖𝑙𝑜𝑠𝑜𝑝ℎ𝑦 𝑜𝑓 𝐿𝑎𝑤
𝐷𝑖𝑠𝑘𝑙𝑎𝑖𝑚𝑒𝑟: 𝑇𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑘𝑠𝑢𝑑𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑡𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑆𝑎𝑡𝑗𝑖𝑝𝑡𝑜 𝑅𝑎ℎ𝑎𝑟𝑑𝑗𝑜, 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑢𝑝𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑐𝑎 𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛 𝑔𝑎𝑔𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑒𝑘𝑠 ℎ𝑢𝑘𝑢𝑚 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑒𝑚𝑝𝑜𝑟𝑒𝑟. 𝑆𝑒𝑔𝑎𝑙𝑎 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑟𝑢𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑝𝑖𝑛𝑖 𝑎𝑘𝑎𝑑𝑒𝑚𝑖𝑠 𝑝𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑑𝑒𝑏𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑖𝑙𝑚𝑖𝑎ℎ. 𝐾𝑟𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑜𝑟𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝 𝑤𝑎𝑟𝑖𝑠𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑆𝑎𝑡𝑗𝑖𝑝𝑡𝑜 𝑅𝑎ℎ𝑎𝑟𝑑𝑗𝑜 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 ℎ𝑢𝑘𝑢𝑚 𝑝𝑟𝑜𝑔𝑟𝑒𝑠𝑖𝑓 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖.
Kita patut mengakui kedalaman pemikiran Satjipto Rahardjo ketika menyatakan bahwa undang-undang sebagai produk hukum sering kali “𝐜𝐚𝐜𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐡𝐢𝐫” karena ia dilahirkan dari pergulatan dan kepentingan politik (Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif, 2006). Hukum memang tidak pernah lahir di ruang hampa, hukum selalu merupakan hasil kompromi, tarik-menarik kepentingan, dan pilihan-pilihan politik.
Namun, menurut saya, persoalan yang lebih mendasar di Indonesia bukanlah bahwa hukum lahir dari politik. Hukum tanpa politik adalah 𝐮𝐭𝐨𝐩𝐢𝐚, sebagaimana politik tanpa hukum adalah 𝐮𝐭𝐨𝐩𝐢𝐚, Persoalan sesungguhnya adalah bahwa politik hukum di Indonesia belum mampu melahirkan hukum sebagai 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐧𝐚 𝐫𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐬𝐚 𝐬𝐨𝐬𝐢𝐚𝐥 (𝑙𝑎𝑤 𝑎𝑠 𝑎 𝑡𝑜𝑜𝑙 𝑜𝑓 𝑠𝑜𝑐𝑖𝑎𝑙 𝑒𝑛𝑔𝑖𝑛𝑒𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔) sebagaimana dikemukakan Roscoe Pound (𝐴𝑛 𝐼𝑛𝑡𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑡𝑜 𝑡ℎ𝑒 𝑃ℎ𝑖𝑙𝑜𝑠𝑜𝑝ℎ𝑦 𝑜𝑓 𝐿𝑎𝑤, 1922).
Sejak kemerdekaan hingga hari ini, Indonesia telah menghasilkan ribuan peraturan perundang-undangan, tetapi belum banyak hukum yang benar-benar berhasil 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐬𝐚𝐫. Hukum kita masih 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥 mengubah budaya serampangan menjadi budaya tertib, gagal mengubah permisivitas terhadap pelanggaran menjadi kepatuhan, gagal membentuk disiplin sosial yang berkelanjutan, gagal merubah perilaku politik yang korup.
Dengan kata lain, problem hukum Indonesia bukan semata-mata karena hukum lahir dari kepentingan politik, melainkan karena 𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐞𝐥𝐦𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐤𝐞𝐤𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐭𝐫𝐚𝐧𝐬𝐟𝐨𝐫𝐦𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥. 𝐇𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐭𝐞𝐤𝐬 𝐧𝐨𝐫𝐦𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐝𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐬𝐭𝐫𝐮𝐦𝐞𝐧 𝐤𝐞𝐤𝐮𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐧𝐬𝐭𝐫𝐮𝐦𝐞𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐬𝐨𝐬𝐢𝐚𝐥.
Karena itu, tesis yang mungkin perlu diajukan sebagai pengembangan atas Satjipto Rahardjo adalah: “𝐔𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠-𝐮𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐜𝐚𝐜𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐡𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐩𝐨𝐥𝐢𝐭𝐢𝐤, 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢, 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐜𝐚𝐜𝐚𝐭 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥 𝐦𝐞𝐰𝐮𝐣𝐮𝐝𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐭𝐞𝐫𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐬𝐨𝐬𝐢𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐣𝐮𝐚𝐧 𝐮𝐭𝐚𝐦𝐚 𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢.”
M Yamin Nasution, S.H.




















