Pemilu tahun 2024 akan dilaksanakan serentak dalam dua tahapan, tahap pertama tanggal 14 Februari 2024 yaitu pemilihan Presiden, Legislatif dan DPD RI. Tahap kedua pada tanggal 27 November 2024 yaitu pemilihan Kepala Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Pemilih milenial dan pemilih pemula menurut berbagai literasi, kajian, penelitian juga hasil survey akan mendominasi jumlah pemilih yang menentukan nasib bangsa Indonesia lima tahun ke depan. Dikaitkan dengan bonus demografi, dimana usia produktif lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan jumlah usia yang tidak produktif. Menurut survey BPS, jumlah usia produktif (15-64) tahun pada 2020 mencapai 191.08 juta jiwa 70,72% dari total jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270.20 juta jiwa.
Bonus demografi yang sudah berjalan sejak tahun 2012 dan akan berakhir pada tahun 2030 diprediksi tahun 2024 mengalami puncaknya. Yang berarti pemilu 2024 didominasi oleh pemilih dari generasi Y (milenial) dan generasi Z (internet).
Mengapa penting untuk merebut suara kelompok ini? Sebagai kelompok pemilih terbesar di Indonesia, kelompok pemilih ini belum mendapatkan ruang lebih terbuka dalam aktivitas politik nasional, ketertarikan pada politik masih rendah padahal dengan karakter sangat melek informasi dan terkoneksi melalui jejaring media sosial yang terhubung melalui internet punya potensi besar untuk terlibat dalam politik elektoral dan politik substansial. Kelompok pemilih ini berpotensi besar mempengaruhi proses demokrasi nasional. Oleh karena itu pentingnya para stakeholder politik untuk mendorong munculnya gerakkan konsolidasi afirmasi action untuk kepentingan jangka panjang dalam membangun bangsa juga kepentingan jangka pendek yaitu pemilu 2024 yang berintegritas.
Optimalisasi harus terus menerus dilakukan oleh pemerintah, terkhusus oleh penyelenggara pemilu (KPU, Bawaslu, DKPP), partai politik maupun akademisi dengan sosialisasi dan advokasi (partisipasi, pengetahuan dan relasi kepentingan) karena suara pemilih kelompok ini sangat signifikan untuk menentukan pemimpin Indonesia ke depan.
Hal ini menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa sebagai pemilik kedaulatan utama bagi kelompok pemilih pemula agar mereka tidak alergi bicara politik di ruang demokrasi. Dalam hal ini partai politik memiliki fungsi dasar yaitu pendidikan politik bagi masyarakat. Penting bagi partai politik untuk melakukan upaya terbaik bagaimana memberikan pendidikan politik yang mencerahkan dengan metode yang tepat. Mengingat generasi pemilih pemula identik dengan gadget, mereka sangat aktif untuk mencari berbagai informasi dari internet, berkarakter kreatif, informatif, dengan ciri serba cepat, mudah berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, dinamis, sangat akrab dengan laptop, games dan lain-lain yang melahirkan generasi cerdas dan inovatif. Konsumsi internet penduduk kelompok usia 15-34 tahun jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia yang lebih tua (Penelitian dari Alvara Research Center, 2014). Hal ini menunjukkan ketergantungan terhadap internet sangat tinggi bagi generasi ini dan menjadi peluang besar bagi partai politik untuk melakukan pendidikan politik melalui media sosial. Media sosial telah menjadi mesin politik yang sangat efektif bagi kehidupan demokrasi.
Di sisi lain kelompok usia ini menjadikan keluarga sebagai pusat pertumbuhan dan pengambil keputusan sehingga tanggung jawab orangtua sangat penting dalam membimbing putra/putri agar dapat memahami makna politik sesungguhnya sebagai hak yang dimiliki orang dewasa yang sudah terpenuhi syarat politik untuk dipilih dan memilih dalam pemilu.
Kesadaran untuk memberikan suara pada pemilu adalah hak untuk menentukan perjalanan kehidupan bangsa Indonesia, jika hak ini tidak digunakan maka peran dan fungsi sebagai warga negara menjadi lemah. Partisipasi pemilih pemula pada pemilu merupakan sikap bela negara di era damai untuk mewujudkan kehidupan bangsa Indonesia lebih bermartabat.
Agar seluruh proses demokrasi berjalan dengan kualitas yang baik menuju pemilu 2024, utama bagi pemerintah agar memberi ruang seluas-luasnya bagi warga negara dalam menyatakan pikiran dan pendapat serta dapat direspon secara cepat dan ramah oleh stakeholder politik maka akan menambah rasa percaya diri serta keyakinan penuh untuk tertarik pada politik kenegaraan.
Untuk dapat merebut suara pemilih pemula dalam pemilu 2024, partisipasi pemilih pemula sebagai perwujudan kekuatan politik di tanah air dapat memilih pemimpin yang memiliki kebijakan yang sesuai dengan aspirasi pemilih pemula agar sejalan dengan kehendak milineal sehingga match dan efektif yang didasari oleh potensi partisipasi politik dan kemantapan pilihan, sensitifitas pada isu sosial dan kebijakan serta preferensi terhadap kandidat dan pilihan politiknya.
























