• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pengabdian di Tengah Ketidakadilan: Potret Guru Honorer Di Gaji Rp300 Ribu/Bulan

Ali Syarief by Ali Syarief
March 9, 2025
in Feature, Pendidikan
0
Pengabdian di Tengah Ketidakadilan: Potret Guru Honorer Di Gaji Rp300 Ribu/Bulan
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Vinsensia Ervina Talluma, seorang guru honorer berusia 32 tahun, setiap hari harus berjalan kaki sejauh enam kilometer demi mengajar anak-anak di daerah terpencil. Dengan gaji hanya Rp300 ribu per bulan, hidupnya jauh dari kata sejahtera. “Tentu sangat tidak cukup sekali. Tapi mau bagaimana, demi anak-anak,” ucapnya dengan lirih namun penuh keteguhan.

Potret seperti Vinsensia bukanlah cerita baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Ribuan guru honorer di berbagai daerah harus menghadapi kondisi serupa—gaji yang tak layak, fasilitas minim, dan jalan terjal menuju sekolah. Ironisnya, mereka adalah garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa, tetapi kesejahteraan mereka seolah diabaikan oleh negara yang seharusnya menjamin hak mereka.

Guru Honorer: Pahlawan Tanpa Jaminan

Menjadi guru honorer di daerah terpencil berarti menghadapi berbagai keterbatasan. Selain harus berjalan kaki jauh setiap hari, Vinsensia juga harus mengajar dengan fasilitas seadanya. Sekolah tempatnya mengabdi mungkin hanya memiliki papan tulis yang sudah usang, buku pelajaran yang terbatas, dan ruang kelas yang jauh dari kata nyaman. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Baginya, anak-anak yang ia didik memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Namun, semangat saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Dengan gaji Rp300 ribu per bulan, mustahil untuk memenuhi kebutuhan dasar. Uang itu bahkan tidak cukup untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya, apalagi biaya kesehatan dan transportasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Beberapa guru honorer bahkan harus mencari pekerjaan tambahan seperti bertani atau berdagang kecil-kecilan demi menutupi kebutuhan hidup mereka.

Ironi Sistem Pendidikan

Di satu sisi, pemerintah gencar berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru. Namun, kenyataan di lapangan jauh dari janji-janji tersebut. Program sertifikasi guru hanya mengakomodasi sebagian kecil guru honorer, sementara seleksi pegawai negeri sipil (PNS) atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) masih belum mampu menampung seluruh tenaga pendidik yang ada. Akibatnya, ribuan guru honorer tetap hidup dalam ketidakpastian.

Selain itu, alokasi anggaran pendidikan sering kali tidak berpihak kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Alih-alih digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, dana pendidikan lebih banyak tersedot ke proyek-proyek infrastruktur yang sering kali kurang efektif. Dalam kondisi seperti ini, para guru honorer seperti Vinsensia harus bertahan dengan ketulusan semata, meskipun hak-hak mereka terus diabaikan.

Harapan yang Tak Pernah Padam

Meski demikian, harapan tetap ada. Masyarakat mulai sadar akan pentingnya peran guru honorer dalam dunia pendidikan. Gerakan sosial untuk membantu mereka mulai bermunculan, dari penggalangan dana hingga desakan kepada pemerintah untuk segera bertindak. Namun, tanggung jawab utama tetap berada di tangan pemerintah. Jika pendidikan benar-benar menjadi prioritas bangsa, maka kesejahteraan guru honorer harus menjadi perhatian utama.

Kisah Vinsensia Ervina Talluma adalah cerminan dari banyak guru honorer di pelosok negeri. Mereka tetap mengabdi meski dihimpit oleh ketidakadilan. Pengorbanan mereka seharusnya tidak hanya menjadi cerita inspiratif semata, tetapi juga menjadi dorongan bagi negara untuk memberikan penghargaan yang layak bagi para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sebab, tanpa guru, tak ada generasi masa depan yang bisa diandalkan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pejabat Pemprov Jabar Ikutan Nyemplung ke Sungai Penuh Sampah Saat Gubernur Dedi “Nyebur” ke Sungai Penuh Sampah,

Next Post

Dianggap Merusak Lingkungan, Jembatan Gantung Terpanjang Dunia di EAL Bogor, Disegel Gubernur Jabar

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Dianggap Merusak Lingkungan, Jembatan Gantung Terpanjang Dunia di EAL Bogor, Disegel Gubernur Jabar

Dianggap Merusak Lingkungan, Jembatan Gantung Terpanjang Dunia di EAL Bogor, Disegel Gubernur Jabar

500 Ton Beras Bulog “Hilang”, DPR Desak Proses Hukum

KEREN, BERAS SPHP BULOG ADA LAGI

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist