Oleh Imtya Rahmi Lazuardini
TOKYO, Ramadhan adalah bulan Islam yang paling suci. Saat itulah jutaan umat Islam berpuasa, berdoa, dan merenung. Di Jepang, menjalankan Ramadhan bisa jadi sulit, mengingat status Islam sebagai minoritas. Sebagai seorang Muslim asal Indonesia yang kini tinggal di Jepang, menjalankan ibadah Ramadhan telah menjadi perpaduan antara mencari ke dalam dan memahami konteks budaya baru.
Antara Ramadhan di Indonesia, dengan kumandang azan di saat matahari terbenam, dan kehidupan saya saat ini di Jepang, saya sedang dalam perjalanan pengembangan spiritual dan pribadi. Pada artikel kali ini, saya berbagi pengalaman pribadi saya merayakan Ramadhan di Jepang.
Tantangan terbesar saya saat mempersiapkan Ramadhan adalah menemukan makanan halal. Hal ini membuat saya melirik bisnis lokal, yang kemudian menjadi cara yang baik untuk menyatu dengan budaya Jepang. Saya menyadari bahwa masyarakat Jepang sangat memperhatikan sumber dan penyiapan makanan mereka, dan dengan melakukan hal tersebut, saya menemukan peluang untuk mengeksplorasi makanan bersertifikat halal dan bahan-bahan yang dikonfirmasi halal seperti kecap Kikkoman.
Saya bahkan menyiapkan masakan Jepang yang bisa diubah menjadi menu buka puasa dan sahur (makan pagi sebelum puasa). Saya membuat sushi dan karaage (ayam goreng Jepang) dengan ayam halal dan tepung dipadukan dengan sambal (saus sambal Indonesia). Menyenangkan rasanya memadukan cita rasa Indonesia dengan masakan Jepang.
Berbeda dengan Indonesia yang jam puasanya relatif konsisten setiap tahunnya, jam puasa di Jepang sangat bervariasi sesuai musim. Misalnya, jika Ramadhan jatuh pada musim panas, waktu puasanya akan lebih lama. Namun, saya belum merasakan perbedaan jam puasa yang signifikan, karena selama ini saya menjalankan Ramadhan di Jepang hanya di awal musim semi, ketika jam puasanya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, yakni kurang lebih 13 jam.
Ramadhan di Jepang sama seperti hari lainnya. Tidak ada libur Ramadhan dan tidak ada pengurangan jam kerja seperti di Indonesia, dimana beberapa perusahaan mungkin memperpendek jam kerja. Teman-teman Jepang kami akan terus makan dan minum di depan kami seperti biasa. Namun, saya mendapati bahwa momen-momen ini telah memperkuat afinitas dan rasa memiliki terhadap keyakinan saya.
Menikmati buka puasa di bawah pohon sakura yang sedang mekar merupakan sebuah pengalaman khas Jepang bagi saya. Ini menambahkan lapisan ketenangan dan keindahan pada refleksi Ramadhan saya, dengan menyatu dalam kontemplasi spiritual dengan kenikmatan estetika musim sakura (bunga sakura).
























