• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Politik Cinta Bahasa Lewat Permainan

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
November 20, 2022
in Feature
0
Politik Cinta Bahasa Lewat Permainan

Foto: dok. Katla

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Mohamad Jokomono

Jakarta – Entri “politik” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V memiliki salah satu arti, yaitu “cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah)”. Adapun masalah yang kita hadapi dewasa ini, tidak terlalu banyak warga bangsa ini yang memberikan kepedulian secara maksimal terhadap bahasa Indonesia.

Ketidakpedulian itu antara lain terekspresikan lewat cara pandang bahwa berbahasa cukuplah memadai hanya sekadar memenuhi tuntutan asal komunikatif. Asal berada dalam rengkuh pemahaman mereka yang terlibat dalam proses komunikasi semata.

Tidak peduli apakah konten komunikasinya kurang sesuai dengan logika bahasa. Tidak peduli apakah pengalimatannya terlalu bertele-tele dan tidak fokus pada maksud yang hendak disampaikan. Terlebih-lebih, tidak peduli apakah struktur penulisan kata-kata yang tersusun relatif bersih atau tidak dari standar baku.

Katla sebagai bagian dari politik cinta bahasa melalui permainan yang relatif menyenangkan lebih menyentuh pengenalan dini terhadap kata yang sesuai dengan standar baku penulisan versi KBBI. Sebab, jika kata yang dimasukkan di luar yang termuat di dalam KBBI, tentu akan muncul notasi penolakan.

Katla, menurut penuturan Fatih Kalifa sang pengembang permainan susun kata tersebut, terinspirasi dari game serupa dalam bahasa Inggris, Wordle. Adapun Wordle merupakan hasil rekayasa pria asal Wales, Josh Wardle. Permainan kata berbasis web ini diluncurkan pertama kali pada Oktober 2021. Popularitas pun menghampirinya Desember 2021.

Berdasarkan keterangan dari Wikipedia, Ensklopedia Bahasa Indonesia yang disunting sekitar lima bulan lalu, permainan susun kata ini kemudian dibeli oleh The New York Times Company pada Januari 2022. Tak lama kemudian, seiring dengan ungkitan popularitasnya, Wordle pun selanjutnya mengalami proses pengalihwahanaan ke dalam puluhan bahasa di dunia, seperti Arab, Italia, Jerman, Jepang, Rusia.

Tidak ketinggalan, salah satunya bahasa Indonesia. Dan, relevan dengan upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk merevitalisasi bahasa daerah, ternyata ada juga sejumlah versi pelokalan permainan tebak dan susun kata sejenis di Tanah Air, seperti versi bahasa Jawa (Batangan, Tlembung), bahasa Madura (Wordura), bahasa Melayu (Katapat, Katadel), bahasa Sunda (Keclap).

Begitulah Katla memulai tarikh pemberadaannya di lingkungan penutur bahasa di Indonesia. Sebagai salah satu manuver politik cinta bahasa, permainan tebak dan susun kata ini memang relatif belum mampu mengintroduksi seluruh bentukan baku dari kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Sebab, permainan ini hanya mengenalkan kata-kata yang sebatas terdiri atas lima huruf (istilah teknisnya “fonem”). Padahal, tentu saja kita semua pasti mengetahui belaka, bahwa kata-kata memiliki variasi jumlah huruf pembentuk yang sangat beragam, dari hanya dua huruf hingga belasan huruf.

Keterbatasan ini pastilah nanti bisa diupayakan penyempurnaannya oleh pihak perekayasa permainan tebak dan susun kata itu dalam perjalanan prosesnya ke depan. Dengan versi Katla yang jumlah huruf lebih dari lima, bisa jadi proses permainan akan jauh lebih kompleks dan membutuhkan pemikiran yang lebih ekstra.

Langkah Awal

Terlepas dari keterbatasan ini, Katla dengan lima huruf pun bisa dipandang sebagai langkah awal pengintroduksian kata-kata, terutama yang kadang hampir mustahil bisa kedengaran dalam realitas penggunaan bahasa sehari-hari, tetapi ada di dalam KBBI.

Coba simak kata “rakyu” (hasil pikiran manusia; ilmu), “impun” (anakan atau larva ikan); “tukul” (martil [pemukul] kecil: tukul besi; tukul kayu), “kambu” (bakul). Boleh dikatakan hampir tidak pernah muncul dalam perguliran arus lalu lintas kata-kata dalam komunikasi sehari-hari. Akan tetapi, alhamdulillah kita bisa mengenalnya melalui hasil tebakan dari permainan Katla.

Tidak hanya dari hasil akhir tebakan saja yang memungkinkan kita mengenal kata-kata yang langka dan yang baru kita sadari bahwa ia ternyata ada dalam khazanah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia, saat kita menelusurinya di dalam kamus. Dalam proses menuju ke hasil tebakan akhir pun, kita berpeluang menemukan kata langka lain.

Misalnya ketika saya mengasyiki Katla edisi #282 yang berujung pada hasil tebakan “kambu”, setelah memasukkan kata “segar” dan “kapuk” (dua kata yang relatif sering terdengar), hasilnya menunjukkan ada dua kotak berwarna hijau (posisi benar), yaitu kotak 1 (K) dan kotak 2 (A) serta kotak berwarna oranye (posisi huruf tidak tepat).

Lewat penelusuran KBBI V Daring, saya coba masukkan kata “kauli”. Kotak 1 (K) dan kotak 2 (A) hijau; kotak 3 (U) masih tetap oranye; sedangkan kotak 4 (L) dan kotak 5 (I) menunjukkan warna hitam (huruf tidak ada dalam susunan kata). Saya berani memasukkan kata “kauli” setelah meyakini kata ini di KBBI memiliki arti “ucapan atau hadis Nabi Muhammad SAW”.

Kemudian saya mencoba dengan bantuan penelusuran di Kamus, kata “kaomu”. Hasilnya kotak 1 (K) dan 2 (A) serta 5 (U) hijau; kotak 3 (O) hitam dan kotak 4 (M) oranye. Dengan posisi ini, saya yakin huruf M pasti di kotak 3. Tinggal mencari huruf yang tepat di kotak 4.

Namun, sebelumnya perlu saya perkenalkan, kata “kaomu” berarti “golongan bangsawan yang menempati status sosial tertinggi dalam sistem pelapisan masyarakat, biasa dikenal dengan sebutan La Ode untuk laki-laki dan Wa Ode untuk perempuan yang diletakkan di awal nama”.

Sebelum memilih “kambu” saya juga menemukan kata “kamau”. Kata ini merupakan serapan dari bahasa Sentani, sebuah bahasa dari rumpun bahasa daerah Papua yang dituturkan di sekitar wilayah Danau Sentani. Artinya “pisau dari tulang binatang”.

Dari satu edisi permainan Katla itu saja, kita dapat memperoleh banyak kemungkinan mengenal kata yang sebelumnya tidak kita kenal. Tentu saja, proses ini akan lebih mudah jika kita melakukan permainan tebak dan susun kata ini dengan menggunakan KBBI Edisi V Daring.

Kata-kata (lema atau entri dengan nuansa makna masing-masing) yang relatif kurang (atau bahkan tidak) dikenal sebelumnya menjadi kemudian (sebagai masukan) sehingga dapat dikenal. Paling sedikitnya, kalaupun kata-kata itu relatif dikenal, dapat diintroduksi bentuk penulisannya yang baku.

Agaknya itulah manfaat yang bisa dipetik dari kepedulian kita mengasyiki seni memainkan kemungkinan dalam permainan Katla. Pada konstelasi politik mencintai bahasa, ini hanya merupakan bagian kecil dari dinamika berkebudayaan.

Pernah terbersit dalam pikiran saya, apa untungnya kita mempunyai banyak kata yang jarang atau hampir tidak pernah dipakai dalam kegiatan komunikasi sehari-hari. Apakah hanya cukup sekadar sebagai klaim betapa kaya khazanah perbendaharaan kosa kata bahasa kita?

Namun kemudian saya sadar, ada seni sastra yang terkadang ingin mengeksplorasi penggunaan bahasa lewat kata-kata yang keluar dari rutinitas pemakaian sehari-hari. Mungkin di sanalah letak manfaat yang bisa dipetik.

Bisa jadi, kata-kata langka itu akan menjadi acuan bagi generasi mendatang, tatkala mereka ingin merevitalisasikannya guna mencari padanan makna untuk kata-kata yang mereka adopsi dari kancah pergaulan yang kian mendunia. Bisa jadi pula, ini kelak mereka lakukan saat ada kerinduan untuk lebih memantapkan identitas kebahasaan mereka di masa mendatang.

Mohamad Jokomono, alumnus Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, Semarang.

Dikutip dari detik.com, Jumat 18 November 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Daya “Gedor” Program Kontra Radikal-Terorisme

Next Post

Kishida Dirundung Skandal Domestik Dalam Perjalanan Internasional

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
LDP Unggul Dalam Pemilihan Hari ini – Jerih Payah Abe Berbuah Pada Kemenangan LDP

Kishida Dirundung Skandal Domestik Dalam Perjalanan Internasional

Ini Profil Irjen Teddy Minahasa, Polisi Terkaya yang Ditangkap karena Narkoba, Aneh Bin Ajaib!

Baku Argumen antar Kuasa Hukum - "Teddy Minahasa Berdalih Perintahkan AKBP Dody Tukar Sabu dengan Tawas, Becanda Mengetes Anah Buah"

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist