Jakarta – Fusilatnews – Dengan diresmikannya smelter milik PT Amman Mineral International, Presiden Joko Widodo berharap suatu saat dunia akan bergantung pada berbagai produk tembaga dari Indonesia.
Smelter yang terletak di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini merupakan salah satu fasilitas pengolahan tembaga terbesar di Indonesia. Menurut Presiden Jokowi, smelter Amman ini memiliki kapasitas produksi sebesar 220.000 ton katoda tembaga per tahun, yang juga akan menghasilkan 18 ton emas, 55 ton perak, serta 850.000 ton asam sulfat sebagai produk sampingan.
Jokowi berharap proyek dengan investasi sebesar Rp 21 triliun ini akan memunculkan multiplier effect yang signifikan, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi baru. “Bapak-Ibu bisa bayangkan, kalau penambangan dan pengolahan di Sumbawa ini mampu mengolah 900 ribu ton konsentrat per tahun. Kalau selamanya kita hanya mengekspor dalam bentuk konsentrat mentah, nilai tambahnya tidak berada di kita, tetapi di negara-negara yang memiliki smelter,” ujar Jokowi.
Jokowi juga memberikan apresiasi kepada PT Amman Mineral atas keberaniannya membangun smelter di dalam negeri, yang dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah. “Keberanian dan niat baik dari PT Amman saya sangat apresiasi. Ini langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi negara kita,” tambahnya.
Perpanjangan Larangan Ekspor Tembaga Mentah
Sebagai informasi, pemerintah Indonesia sebenarnya telah menetapkan larangan ekspor tembaga dalam bentuk konsentrat dan lumpur anoda yang seharusnya efektif pada 1 Juni 2024. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 6 Tahun 2024 memutuskan untuk menunda larangan tersebut hingga 31 Desember 2024.
Penundaan ini dilakukan untuk memberikan waktu bagi perusahaan tambang besar, termasuk PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral, untuk menyelesaikan pembangunan fasilitas pemurnian mineral logam di dalam negeri. Hal ini dianggap sebagai langkah strategis agar Indonesia dapat memaksimalkan nilai tambah dari hasil tambang, sekaligus memastikan kesiapan infrastruktur industri dalam negeri.
Perpanjangan izin ekspor ini muncul setelah pertemuan Presiden Jokowi dengan beberapa pimpinan PT Freeport Indonesia pada akhir Mei 2024, di mana pembahasan fokus pada kesiapan industri tambang dalam negeri dan dampak ekonomi dari larangan ekspor tersebut. Pemerintah juga berharap bahwa dengan adanya fasilitas smelter di dalam negeri, ketergantungan pada ekspor bahan mentah bisa ditekan, dan Indonesia bisa menjadi pemain utama di pasar produk tembaga global.
Fasilitas smelter yang dibangun di Sumbawa diharapkan tidak hanya memperkuat kemandirian Indonesia dalam pengolahan sumber daya alam, tetapi juga meningkatkan daya saing produk-produk berbasis tembaga di pasar internasional.






















