Solo-Fusilatnews – Akhirnya menjadi jelas, akibat dar Presidential Threshold 20%, tak ada satu partaipun yang berani dan bisa mandiri dapat mengusung calon presidennya sendiri. Ia seperti menjadi suatu kewajiban dan harus berkoalisi dengab partai lainnya. Salah satu keuntungan lain adalah, partai-partai Gurem suara, justru menjadi pelengkap untuk partai-partai besar yang harus bergabung dengan partai lain. Lebih dari itu, ternyata sulitnya mencari cawapres, dirasakan oleh partai-partai yang sudah menentukan Capresnya sendiri.
Ketua DPP PDIP Puan Maharani menjelaskan komunikasi partainya dengan PKB. Puan menyebut kedua partai ini seperti saudara.
“Dari dulu PDIP dengan PKB itu seperti saudara. Kita selalu bersilaturahmi, mencocokkan visi dan misinya, sudah sejak dulu waktu Bung Karno lah dengan NU,” kata Puan usai menghadiri Harlah ke-25 PKB, Stadion Manahan, Solo, Minggu (23/7/2023).
Puan berharap meskipun PKB sudah memiliki koalisi dengan Gerindra. Tapi pada akhirnya bisa bersama dengan PDIP untuk mendukung Ganjar Pranowo. “Kami berharap walaupun PKB sudah berkoalisi sama Partai Gerindra, saya masih berharap insyaallah PKB bisa sama PDIP,” katanya.
Di kesempatan yang sama, Puan bertanya langsung terkait kedekatan PDIP-PKB ke Cak Imin. Cak Imin mengatakan kedua partai ini menempel.
“Nempel, bukan hanya deket, nempel. Itu takdir yang akan menentukan (peluang koalisi). Tapi, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun sama PDIP tenang,” ujar Cak Imin yang ditanggapi Puan.
“Nah, ini sinyal juga sinyal hahahaha,” pungkas Puan.





















