• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Qona’ah, Sikap Hidup Cerdas Menuju Kebahagiaan Hakiki

fusilat by fusilat
February 26, 2026
in Feature, Spiritual
0
Share on FacebookShare on Twitter

By Paman BED

Di zaman ketika notifikasi lebih sering berbunyi daripada hati yang sempat bersyukur, manusia modern seperti berlari di lintasan tanpa garis akhir. Rumah harus lebih besar. Jabatan harus lebih tinggi. Fasilitas harus lebih lengkap.
Media sosial berubah menjadi etalase kehidupan—tempat keberhasilan dipamerkan dan kebahagiaan diukur lewat perbandingan.

Tanpa disadari, rasa cukup perlahan menghilang. Kebahagiaan pun digantungkan pada apa yang dimiliki orang lain.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Islam menghadirkan satu konsep yang sederhana namun revolusioner: qona’ah.

Qona’ah adalah sikap merasa cukup atas apa yang Allah berikan. Ia bukan alasan untuk berhenti berusaha, dan bukan pula dalih untuk pasrah tanpa ikhtiar. Qona’ah adalah ketenangan batin—menerima bagian hidup dengan lapang dada, tanpa iri terhadap bagian orang lain.
Secara bahasa, qona’ah berarti “cukup” atau “merasa puas”. Namun dalam dimensi spiritual, ia adalah kemerdekaan hati.

Ketika Kaya Tidak Lagi Soal Angka

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.”
(HR. Sahih Bukhari no. 6446; Sahih Muslim no. 1051)

Hadits ini membalik logika dunia. Kekayaan tidak lagi diukur dari akumulasi, melainkan dari rasa cukup.

Al-Qur’an menguatkan prinsip ini. Allah berfirman:

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al-Hadid: 23)

Ayat ini bukan larangan untuk memiliki, melainkan penataan sikap terhadap kepemilikan: tidak larut dalam kehilangan, dan tidak mabuk oleh pencapaian.

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qona’ah dengan rezeki tersebut.”
(HR. Sunan Ibnu Majah no. 4138)

Keberuntungan dalam Islam bukan tentang seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi seberapa tenang yang dirasakan.

Ketika Jabatan Tidak Mengubah Selera

Di sebuah perusahaan besar, terdapat seorang pejabat dengan standar fasilitas hotel kelas premium. Kamar luas, ruang duduk terpisah, dan panorama kota dari lantai atas telah disiapkan.

Namun ia memilih kamar kelas standar.
Alasannya sederhana: terlalu besar untuk ditempati sendiri, mubazir bila tidak dimanfaatkan secara optimal.

Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada panggung pencitraan.

Restoran hotel berbintang tersedia untuknya. Ia memilih restoran yang representatif dan layak, dengan harga yang juga masih terjangkau bagi karyawan biasa. Tidak mencari kesan ekstrem dengan hidup serba minimal, namun juga tidak merasa perlu menikmati yang paling mewah hanya karena ia berhak.

Pakaiannya rapi tanpa kemewahan mencolok. Sepatu dan aksesori seperlunya. Gawai sesuai kebutuhan, bukan simbol status.

Yang paling terasa adalah sikapnya. Ia berbaur dengan karyawan tanpa sekat psikologis, namun tetap menjaga etika atasan dan bawahan. Kebijakan yang diambil mempertimbangkan dampaknya hingga level terbawah. Keputusan yang menyangkut masyarakat luas cenderung berpihak pada mereka yang paling membutuhkan—adil tanpa retorika.

Di situlah qona’ah hadir secara nyata.
Jabatan tidak mengubah standar hidupnya. Fasilitas tidak menggeser ukuran kebahagiaannya. Dunia tetap di tangan, tidak berpindah ke hati.

Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Masalahnya memang bukan pada dunia. Dunia hanyalah alat. Yang berbahaya adalah ketika ia menetap di hati.

Allah mengingatkan:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak…”
(QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini bukan ajakan membenci dunia, melainkan peringatan agar manusia tidak tertipu olehnya.

Qona’ah tidak melarang kekayaan. Ia hanya melarang ketergantungan. Ia tidak mematikan ambisi, tetapi menertibkan orientasi.

Tanpa qona’ah, keberhasilan orang lain terasa sebagai ancaman. Dengan qona’ah, keberhasilan orang lain bisa dirayakan tanpa menggerus harga diri.

Qona’ah dan Kesehatan Jiwa

Nilai qona’ah selaras dengan temuan psikologi modern tentang gratitude dan contentment. Rasa cukup dan syukur terbukti berkorelasi dengan ketenangan batin serta kepuasan hidup yang lebih stabil.

Tanpa qona’ah, manusia terjebak dalam siklus “tidak pernah cukup”. Target tercapai, standar dinaikkan. Fasilitas diperoleh, ekspektasi bertambah. Pada akhirnya, manusia lelah mengejar sesuatu yang terus menjauh.

Qona’ah menghentikan perlombaan yang tidak perlu.

Refleksi: Cukup Itu Keberanian

Dalam budaya yang memuja ambisi tanpa batas, berkata “cukup” justru membutuhkan keberanian.

Qona’ah bukan mentalitas kalah. Ia adalah kecerdasan spiritual. Orang yang qona’ah tetap bekerja keras dan berprestasi, tetapi identitasnya tidak digantungkan pada simbol dan fasilitas.

Nilai diri tidak bertambah karena kemewahan, dan tidak berkurang karena kesederhanaan.

Kesimpulan

Qona’ah adalah sikap hidup cerdas yang menjadikan kecukupan sebagai fondasi kebahagiaan. Ia melahirkan ketenangan, membangun empati, dan menjaga integritas.

Kisah pejabat tadi menunjukkan bahwa qona’ah bukan teori di atas kertas. Ia hidup dalam pilihan-pilihan sederhana, dalam kebijakan yang adil, dan dalam keberanian untuk tidak memaksimalkan semua hak hanya karena tersedia.

Kekayaan sejati bukan pada apa yang dinikmati, tetapi pada apa yang tidak lagi dibutuhkan untuk merasa berarti.

Saran

  • Latih diri membedakan kebutuhan dan gengsi.
  • Gunakan fasilitas secara proporsional dan bertanggung jawab.
  • Perbanyak syukur harian agar hati terlatih merasa cukup.
  • Bangun empati lintas level sosial agar keputusan lebih adil.
  • Jadikan ambisi sebagai sarana ibadah, bukan alat pembuktian diri.

Mungkin kebahagiaan bukan tentang menaikkan standar kemewahan,
melainkan tentang menurunkan standar keserakahan.
Di situlah qona’ah menemukan maknanya.

Referensi

  • Al-Qur’an, QS. Al-Hadid: 20 & 23
  • Sahih Bukhari no. 6446
  • Sahih Muslim no. 1051
  • Sunan Ibnu Majah no. 4138
  • Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (pembahasan zuhud dan qona’ah)

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kapolri Harus Mundur – Bukan Minta Maaf

Next Post

Bela Diri atau Distorsi Fakta? Kritik-Analisis Pernyataan Yaqut Cholil Qoumas

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH
Economy

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026
Feature

Apakah Identitas Selalu Menjadi Faktor Penyelamat?

February 26, 2026
Next Post
Bela Diri atau Distorsi Fakta?  Kritik-Analisis Pernyataan Yaqut Cholil Qoumas

Bela Diri atau Distorsi Fakta? Kritik-Analisis Pernyataan Yaqut Cholil Qoumas

Jokowi Cawe-cawe, Prabowo Terima Kasih

Presiden Bodoh, Bajingan Tolol, dan Negara yang Gagap Mendengar Kritik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian
Feature

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

by Karyudi Sutajah Putra
February 25, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar...

Read more
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Badut-badut Politik

Badut-badut Politik

February 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026

Apakah Identitas Selalu Menjadi Faktor Penyelamat?

February 26, 2026
Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

February 26, 2026
Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando

Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando

February 26, 2026

Surat Kaleng dan Harga Sebuah Nama Baik

February 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...