By Paman BED
Di zaman ketika notifikasi lebih sering berbunyi daripada hati yang sempat bersyukur, manusia modern seperti berlari di lintasan tanpa garis akhir. Rumah harus lebih besar. Jabatan harus lebih tinggi. Fasilitas harus lebih lengkap.
Media sosial berubah menjadi etalase kehidupan—tempat keberhasilan dipamerkan dan kebahagiaan diukur lewat perbandingan.
Tanpa disadari, rasa cukup perlahan menghilang. Kebahagiaan pun digantungkan pada apa yang dimiliki orang lain.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Islam menghadirkan satu konsep yang sederhana namun revolusioner: qona’ah.
Qona’ah adalah sikap merasa cukup atas apa yang Allah berikan. Ia bukan alasan untuk berhenti berusaha, dan bukan pula dalih untuk pasrah tanpa ikhtiar. Qona’ah adalah ketenangan batin—menerima bagian hidup dengan lapang dada, tanpa iri terhadap bagian orang lain.
Secara bahasa, qona’ah berarti “cukup” atau “merasa puas”. Namun dalam dimensi spiritual, ia adalah kemerdekaan hati.
Ketika Kaya Tidak Lagi Soal Angka
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.”
(HR. Sahih Bukhari no. 6446; Sahih Muslim no. 1051)
Hadits ini membalik logika dunia. Kekayaan tidak lagi diukur dari akumulasi, melainkan dari rasa cukup.
Al-Qur’an menguatkan prinsip ini. Allah berfirman:
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al-Hadid: 23)
Ayat ini bukan larangan untuk memiliki, melainkan penataan sikap terhadap kepemilikan: tidak larut dalam kehilangan, dan tidak mabuk oleh pencapaian.
Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qona’ah dengan rezeki tersebut.”
(HR. Sunan Ibnu Majah no. 4138)
Keberuntungan dalam Islam bukan tentang seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi seberapa tenang yang dirasakan.
Ketika Jabatan Tidak Mengubah Selera
Di sebuah perusahaan besar, terdapat seorang pejabat dengan standar fasilitas hotel kelas premium. Kamar luas, ruang duduk terpisah, dan panorama kota dari lantai atas telah disiapkan.
Namun ia memilih kamar kelas standar.
Alasannya sederhana: terlalu besar untuk ditempati sendiri, mubazir bila tidak dimanfaatkan secara optimal.
Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada panggung pencitraan.
Restoran hotel berbintang tersedia untuknya. Ia memilih restoran yang representatif dan layak, dengan harga yang juga masih terjangkau bagi karyawan biasa. Tidak mencari kesan ekstrem dengan hidup serba minimal, namun juga tidak merasa perlu menikmati yang paling mewah hanya karena ia berhak.
Pakaiannya rapi tanpa kemewahan mencolok. Sepatu dan aksesori seperlunya. Gawai sesuai kebutuhan, bukan simbol status.
Yang paling terasa adalah sikapnya. Ia berbaur dengan karyawan tanpa sekat psikologis, namun tetap menjaga etika atasan dan bawahan. Kebijakan yang diambil mempertimbangkan dampaknya hingga level terbawah. Keputusan yang menyangkut masyarakat luas cenderung berpihak pada mereka yang paling membutuhkan—adil tanpa retorika.
Di situlah qona’ah hadir secara nyata.
Jabatan tidak mengubah standar hidupnya. Fasilitas tidak menggeser ukuran kebahagiaannya. Dunia tetap di tangan, tidak berpindah ke hati.
Dunia di Tangan, Bukan di Hati
Masalahnya memang bukan pada dunia. Dunia hanyalah alat. Yang berbahaya adalah ketika ia menetap di hati.
Allah mengingatkan:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan ajakan membenci dunia, melainkan peringatan agar manusia tidak tertipu olehnya.
Qona’ah tidak melarang kekayaan. Ia hanya melarang ketergantungan. Ia tidak mematikan ambisi, tetapi menertibkan orientasi.
Tanpa qona’ah, keberhasilan orang lain terasa sebagai ancaman. Dengan qona’ah, keberhasilan orang lain bisa dirayakan tanpa menggerus harga diri.
Qona’ah dan Kesehatan Jiwa
Nilai qona’ah selaras dengan temuan psikologi modern tentang gratitude dan contentment. Rasa cukup dan syukur terbukti berkorelasi dengan ketenangan batin serta kepuasan hidup yang lebih stabil.
Tanpa qona’ah, manusia terjebak dalam siklus “tidak pernah cukup”. Target tercapai, standar dinaikkan. Fasilitas diperoleh, ekspektasi bertambah. Pada akhirnya, manusia lelah mengejar sesuatu yang terus menjauh.
Qona’ah menghentikan perlombaan yang tidak perlu.
Refleksi: Cukup Itu Keberanian
Dalam budaya yang memuja ambisi tanpa batas, berkata “cukup” justru membutuhkan keberanian.
Qona’ah bukan mentalitas kalah. Ia adalah kecerdasan spiritual. Orang yang qona’ah tetap bekerja keras dan berprestasi, tetapi identitasnya tidak digantungkan pada simbol dan fasilitas.
Nilai diri tidak bertambah karena kemewahan, dan tidak berkurang karena kesederhanaan.
Kesimpulan
Qona’ah adalah sikap hidup cerdas yang menjadikan kecukupan sebagai fondasi kebahagiaan. Ia melahirkan ketenangan, membangun empati, dan menjaga integritas.
Kisah pejabat tadi menunjukkan bahwa qona’ah bukan teori di atas kertas. Ia hidup dalam pilihan-pilihan sederhana, dalam kebijakan yang adil, dan dalam keberanian untuk tidak memaksimalkan semua hak hanya karena tersedia.
Kekayaan sejati bukan pada apa yang dinikmati, tetapi pada apa yang tidak lagi dibutuhkan untuk merasa berarti.
Saran
- Latih diri membedakan kebutuhan dan gengsi.
- Gunakan fasilitas secara proporsional dan bertanggung jawab.
- Perbanyak syukur harian agar hati terlatih merasa cukup.
- Bangun empati lintas level sosial agar keputusan lebih adil.
- Jadikan ambisi sebagai sarana ibadah, bukan alat pembuktian diri.
Mungkin kebahagiaan bukan tentang menaikkan standar kemewahan,
melainkan tentang menurunkan standar keserakahan.
Di situlah qona’ah menemukan maknanya.
Referensi
- Al-Qur’an, QS. Al-Hadid: 20 & 23
- Sahih Bukhari no. 6446
- Sahih Muslim no. 1051
- Sunan Ibnu Majah no. 4138
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (pembahasan zuhud dan qona’ah)
By Paman BED



















