Oleh : Team Fusilatnews
Arab Saudi akhirnya bersuara. Tapi alih-alih mengecam kejahatan perang Israel atau membela Palestina, Kerajaan malah mengutuk Iran—yang baru saja menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar. Sikap ini kontan memicu gelombang kemarahan, termasuk dari rakyat Indonesia, negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang selama ini menaruh hormat pada dua tanah suci: Mekkah dan Madinah.
Namun kali ini, rasa hormat itu seperti runtuh. Rakyat tidak hanya kecewa—mereka murka. Bagi mereka, pernyataan Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman itu adalah bentuk nyata dari ketundukan pada kekuasaan global yang selama ini menyakiti umat Islam. “Boneka Amerika,” tulis seorang warganet. “Banci penakut,” seru yang lain. Di berbagai linimasa media sosial, kemarahan ini menyeruak tanpa sensor dan tanpa jeda.
Apa yang membuat mereka begitu marah?
Bukan Sekadar Diplomasi, Ini Soal Keberpihakan
Dalam kacamata masyarakat biasa, apa yang terjadi bukan lagi urusan geopolitik rumit yang hanya bisa dibaca diplomat. Ini tentang siapa yang berani berdiri di pihak yang dizalimi. Dan ketika Iran—meski selama ini dicurigai karena mazhabnya—meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS, banyak umat Muslim justru melihatnya sebagai bentuk keberanian yang langka.
Sebaliknya, Arab Saudi tampil seperti negara penakut. Bahkan lebih buruk lagi: negara yang membela penindas. Di tengah suara-suara internasional yang makin kencang mengkritik pembantaian di Gaza, Saudi justru memilih mengecam Iran—bukan Amerika, bukan Israel.
Kemarahan rakyat Indonesia bukan datang dari ruang kosong. Sudah lama Saudi dicurigai terlalu dekat dengan Washington. Normalisasi hubungan dengan Israel, investasi dengan keluarga Kushner, dan pembangunan kota futuristik Neom yang penuh kontroversi membuat kesan itu semakin tebal. Ketika Palestina dibombardir, Saudi hanya mengeluarkan pernyataan normatif. Tapi begitu pangkalan AS diserang, suara mereka lantang dan penuh emosi.
Simbolisme yang Terkhianati
Bagi umat Islam Indonesia, Saudi adalah simbol. Ka’bah di sana. Masjid Nabawi ada di sana. Tetapi simbol keislaman itu kehilangan makna ketika negara pelindungnya justru terkesan lebih mementingkan aliansi strategis dengan Zionis dan Amerika ketimbang nasib sesama Muslim.
Inilah yang membuat rakyat kecil merasa dikhianati. Mereka yang tiap Jumat mendoakan Palestina. Yang menyisihkan uang warung untuk Gaza. Yang menahan marah saat melihat gambar anak-anak mati tertimbun reruntuhan di Rafah. Mereka bertanya: “Di mana suara Raja Salman?”
Mereka juga menagih konsistensi. Mengapa Saudi bisa cepat mengecam Iran, tapi tidak pernah punya keberanian menyebut nama Israel sebagai penjajah? Bukankah yang menyerang warga sipil adalah Tel Aviv, bukan Teheran?
Umat yang Kini Bersikap
Indonesia adalah negeri yang religius sekaligus sensitif terhadap keadilan. Dalam sejarah panjangnya, dari Boedi Oetomo hingga Reformasi, rakyat negeri ini selalu bangkit jika nurani mereka dilukai. Dan kali ini, luka itu datang dari tempat yang tak pernah mereka duga: Saudi Arabia.
Citra “pelayan dua tanah suci” kini retak. Rakyat bertanya: apakah itu hanya julukan seremonial, atau masih ada ruh Islam di balik gelar mulia itu?
Pernyataan Saudi terhadap Iran bukan hanya salah alamat, tapi salah tafsir terhadap perasaan umat. Mereka mengira rakyat Muslim akan diam dan manut seperti dulu. Padahal zaman telah berubah. Umat kini membaca sendiri, menyaksikan langsung, dan bersuara tanpa perantara.
Dalam sorotan rakyat, Raja Salman dan Muhammad bin Salman tidak sekadar memilih diam atas kejahatan Israel. Mereka memilih berdiri bersama kekuatan yang menindas. Dan untuk umat Islam Indonesia yang memegang teguh nilai keadilan, itu adalah bentuk pengkhianatan.
Kami Tidak Butuh Simpati yang Netral
Ketika seorang raja memilih netral dalam konflik antara penjajah dan yang dijajah, maka netralitas itu adalah keberpihakan. Dan rakyat Indonesia sudah cukup kenyang dengan sikap semu macam itu.
Kami tidak butuh simpati netral. Kami butuh suara tegas dari pemimpin dunia Islam—bukan suara yang sekadar menjaga hubungan dagang dan stabilitas investasi.
Karena dalam perang antara keadilan dan kekuasaan, diam berarti memihak. Dan kami tidak akan lupa siapa yang memilih berdiri di sisi yang salah dari sejarah.
























