Oleh: Entang Sastaatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Rakyat jelata adalah istilah yang merujuk pada orang kebanyakan—warga biasa yang tidak termasuk dalam golongan bangsawan atau kelompok elite. Dalam terminologi bahasa Inggris, mereka dikenal sebagai commoners, yakni individu yang tidak dilahirkan dalam kedudukan sosial yang tinggi.
Dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di negeri ini, rakyat jelata kerap diidentikkan dengan kelompok yang hidup dalam keterbatasan. Mereka berjuang sekadar untuk menyambung hidup hari demi hari. Tak sedikit yang menyebut mereka sebagai anak bangsa yang menjadi korban dari kebijakan yang tak berpihak.
Figur rakyat jelata—yang sering kali luput dari perhatian kekuasaan—sebenarnya tersebar luas di seluruh penjuru negeri. Di pelosok desa, kita mengenal petani gurem dan buruh tani. Di pesisir, hadir para nelayan tradisional dan nelayan buruh. Di perkebunan dan hutan, mereka hadir sebagai buruh yang mengandalkan otot dan keringat demi sesuap nasi.
Mereka hidup di antara kita. Dalam keheningan, mereka merenung: mengapa setelah 79 tahun merdeka, kehidupan mereka nyaris tak berubah? Mengapa kemiskinan tetap menjadi sahabat akrab mereka? Apakah kemerdekaan hanya milik segelintir orang?
Sebagai warga negara, mereka pun punya hak untuk hidup sejahtera. Maka wajar bila rakyat jelata menuntut pemerintah agar menjalankan kewajibannya mewujudkan kesejahteraan seperti yang dijanjikan dalam cita-cita kemerdekaan.
Di sisi lain, kita perlu bertanya: bagaimana rakyat jelata memandang geliat pembangunan hari ini? Apakah pembangunan yang marak digelar telah memberi ruang bahagia di hati mereka? Bagi rakyat jelata, kemegahan infrastruktur dan proyek-proyek raksasa tak berarti apa-apa jika perut mereka tetap lapar dan hidup mereka tetap nelangsa.
Mereka tidak akan mengagumi para taipan atau “9 Naga” yang meraup kekayaan melalui jalan culas. Sebaliknya, mereka justru lebih menghormati tukang parkir yang jujur dan ikhlas mengais rezeki dari jalan halal. Karena bagi mereka, kehormatan tak diukur dari jumlah kekayaan, melainkan dari kejujuran dan ketulusan hidup.
Pembelaan negara terhadap rakyat jelata seharusnya bukan sekadar wacana manis yang dikumandangkan di atas podium. Ia harus hadir nyata—berwujud kebijakan yang menolong dan memihak. Program seperti bantuan langsung beras tentu mereka sambut dengan syukur. Namun, yang lebih penting adalah kebijakan struktural yang menjadikan rakyat sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek penderita.
Rakyat jelata juga mendambakan kesungguhan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. Tapi lebih dari sekadar produksi melimpah, mereka ingin melihat petani yang sejahtera, bukan justru terpinggirkan oleh industrialisasi pangan yang dikuasai korporasi besar.
Selama ini, mereka belum layak disebut sebagai “penikmat pembangunan.” Justru lebih tepat bila mereka disebut “korban pembangunan”—tersingkir dari kampung halaman demi proyek kawasan elite atau kawasan industri yang tak memberi ruang bagi hidup mereka.
Rakyat jelata adalah potret sebagian warga negara yang kurang beruntung dalam panggung besar pembangunan. Mereka hanya jadi penonton dari megahnya proyek-proyek negara, sementara konglomerat hidup dalam kelimpahan. Bagi rakyat jelata, kemewahan adalah barang asing. Mereka belum tentu pernah mencicipi indahnya pantai Pataya di Thailand atau naik ke puncak Menara Eiffel di Paris. Paling jauh, mereka hanya bisa berjalan-jalan di pematang sawah.
Kini saatnya kita merenung lebih dalam: mengapa pembangunan yang kita rancang sejak awal kemerdekaan justru melahirkan ketimpangan yang begitu lebar? Mengapa hanya segelintir yang menikmati buahnya, sementara mayoritas rakyat masih berkubang dalam kemiskinan?
Pembangunan, sebagai wujud dari idealisme kemerdekaan, semestinya membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia—bukan hanya untuk mereka yang duduk di lingkaran kekuasaan dan kapital.
Suara rakyat jelata patut kita dengar dan resapi. Mereka pun berhak atas kehidupan yang layak, sejahtera, dan bermartabat—di atas tanah yang katanya telah merdeka ini.
























