Fusilatnews – Ada semacam kesepakatan diam-diam di antara para pemegang kuasa di dunia Islam: bahwa melawan Israel adalah ide bagus, selama itu tidak sungguhan. Kata-kata keras dilontarkan dari podium-podium konferensi, doa-doa berkobar dari mimbar-mimbar masjid, tapi tangan yang mencengkeram senjata atau menggetarkan pusat kekuatan Zionisme—nyaris tak pernah benar-benar datang dari Riyadh, dari Kairo, apalagi dari Ankara. Ironisnya, yang justru terus berdiri dalam posisi frontal terhadap Israel adalah negara yang paling sering dituduh sebagai “bukan Islam”: Iran.
Iran, negeri Syiah yang sejak Revolusi 1979 menjadi antitesis dari ortodoksi Sunni politik Arab, telah lama dituding sebagai bid’ah ideologis, bahkan oleh sesama Muslim. Ulama-ulama di Timur Tengah menyebutnya sesat. Pemimpin-pemimpin Sunni mencurigainya sebagai penyusup dalam dunia Islam. Tapi justru dari Tehran, perlawanan terhadap Zionisme tidak hanya menjadi jargon, melainkan kebijakan negara. Kata menjadi senjata, dan senjata menjadi sikap.
Serangan besar-besaran baru-baru ini ke wilayah Israel, melalui tangan-tangan seperti Hizbullah, Houthi, atau kelompok perlawanan Palestina yang dekat secara ideologis dengan Teheran, memperlihatkan satu hal: bahwa bagi Iran, pembelaan terhadap Palestina bukanlah retorika, tapi takdir sejarah. Dan sejarah, seperti yang kita tahu, jarang berbelas kasih pada mereka yang memilih diam.
Ada yang menganggap tindakan Iran ini sebagai gila, destruktif, bahkan teroris. Tapi mari kita bertanya dengan jujur: apa definisi kejahatan jika diletakkan di bawah bayang-bayang penjajahan yang berlangsung lebih dari tujuh dekade? Apakah membalas penindasan adalah teror, sementara diam menyaksikan pembantaian adalah kebajikan? Dunia telah lama menjungkirbalikkan moralitas; dan Iran, dengan segala kontroversinya, memilih untuk tidak tunduk pada kebisuan yang diatur PBB dan disetujui Washington.
Memang, Iran bukan tanpa cela. Rezimnya otoriter, sensor merajalela, kebebasan individu dicekik. Tapi dalam dunia yang kini dikuasai oleh politik basa-basi, di mana negara-negara Muslim berebut menjilat kaki AS dan menggenggam erat tangan Tel Aviv dengan senyum dagang, Iran adalah satu-satunya yang menolak kompromi. Mereka memilih musuh daripada kehormatan palsu. Dan kadang-kadang, sejarah berpihak pada orang-orang yang berani kalah.
Di Indonesia, sebagian kalangan malah sibuk menyoal “keislaman” Iran. Dikatakan, Syiah adalah aliran sesat. Mereka bukan ahlussunnah, bahkan bukan Islam sejati. Maka, segala tindakan heroik Iran dianggap cacat dari awal, karena dilahirkan dari rahim teologi yang berbeda. Tapi sesungguhnya, tuduhan itu lebih banyak dilandasi ketakutan daripada kebenaran. Ketakutan bahwa keberanian Iran akan menyingkap kemunafikan umat Islam lainnya.
Bukankah agama, pada akhirnya, diukur bukan dari seberapa fasih kita mengutuk musuh dalam khutbah, tapi seberapa teguh kita berdiri melawan ketidakadilan? Dan siapa yang berdiri, hari ini? Apakah Mesir, yang telah lama berdamai dengan Israel? Ataukah Arab Saudi, yang kini diam-diam menjalin normalisasi? Ataukah Turki, yang meski keras dalam kata, tak lebih dari pemain catur yang terlalu banyak berkalkulasi?
Jawabannya hanya satu: Iran.
Menulis adalah upaya untuk tidak ikut serta dalam kebisuan. Maka, mungkin dengan esai ini saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada satu bangsa yang tidak memilih bisu. Iran, dengan segala kompleksitasnya, telah meletakkan keberpihakan di tempat yang tegas: bersama Palestina. Dan jika hari ini kita masih ingin bicara tentang keadilan, tentang Islam yang membela yang tertindas, maka kita tak bisa menyingkirkan Iran hanya karena kita tidak menyukai caranya berdoa.
Karena kadang, doa yang paling didengar bukan yang dilantunkan dengan indah, tapi yang disampaikan dengan darah.

























