Fusilatnews – Dunia hari ini ibarat panggung wayang yang kehilangan lakon bijaknya. Pertunjukan berlangsung, lakon berganti, tapi sabetan tetap kasar, menakutkan, dan kadang membosankan. Dalam deretan tokoh yang membikin gaduh jagat politik internasional, dua nama tampil mencolok bagai barisan depan dalam pementasan teater dunia: Benjamin Netanyahu dan Donald Trump.
Apa jadinya jika keduanya tak pernah ada di muka bumi ini?
Tentu kita tidak sedang berkhayal ala anak-anak sekolah dasar yang muak pada guru killer, lalu berharap gurunya tiba-tiba pindah tugas. Tidak. Kita mencoba menyusun kembali peta sejarah dengan satu asumsi kecil: bagaimana jika dua gumpalan besar egoisme politik itu tak pernah lahir atau eksis dalam panggung dunia?
Netanyahu bukan sekadar pemimpin Israel. Ia adalah simbol dari kekuasaan yang dibalut paranoia sejarah. Di tangannya, tanah Palestina menjadi panggung uji coba senjata dan politik pengusiran yang diselimuti retorika keamanan nasional. Dengan mulut manis dan tangan besi, ia membungkus agresi dengan bahasa pertahanan.
Bayangkan jika tokoh semacam itu tak pernah muncul. Mungkin, tak akan ada perang berkepanjangan di Gaza. Mungkin, rakyat Palestina bisa menghirup udara merdeka tanpa perlu menengok langit yang saban saat mengancam menurunkan bom. Mungkin pula, generasi muda Yahudi dan Arab bisa duduk berdialog, bukannya saling membenturkan kepala dengan batu dan peluru.
Tapi dunia bukan hanya milik Netanyahu. Ia hanya satu simpul dari kekuasaan yang terlalu lama nyaman hidup dalam ketakutan yang dipelihara. Karena itu, hilangnya Netanyahu belum tentu menjamin datangnya Isa Al-Masih atau Al-Mahdi. Dunia tetap dunia.
Begitu pula Donald Trump. Ia bukan sekadar Presiden Amerika Serikat. Ia adalah manifestasi dari amarah kelas menengah kulit putih yang takut kehilangan privilese. Ia tampil dengan rambut pirang, mulut penuh janji, dan gaya bicara yang menyentuh sisi terburuk manusia: rasisme, egoisme, dan ketakutan terhadap yang lain.
Seandainya ia tak pernah ada, dunia mungkin tak harus menyaksikan penarikan AS dari Kesepakatan Paris. Iran mungkin masih duduk di meja diplomasi. Gedung Capitol tidak akan menjadi tontonan murahan penuh kekacauan. Dan demokrasi Amerika tak akan seperti rumah tua yang keropos dimakan rayap populisme.
Trump memperlihatkan pada dunia bahwa kebodohan bisa terpilih, asal dikemas dengan kepercayaan diri dan dukungan modal. Ia membuktikan bahwa fakta bisa dikalahkan oleh tweet, dan bahwa kebenaran bisa ditekuk dengan teriakan.
Tapi mari kita jujur. Dunia tanpa Netanyahu dan Trump belum tentu menjadi surga. Mungkin kita akan punya versi lain dari mereka—dengan gaya yang lebih halus, senyum yang lebih hangat, tapi ambisi yang sama bengisnya. Dunia tidak menciptakan Trump dan Netanyahu dari ruang hampa. Mereka adalah hasil dari sistem, dari ketakutan kolektif, dari kebencian yang dibudidayakan dengan penuh gairah.
Mereka adalah gejala. Dan seperti semua gejala, ia akan terus datang kembali jika penyakit utamanya tak diobati.
Jadi, andaikan keduanya lenyap dari panggung dunia, barangkali dunia akan bernafas sedikit lebih lega. Tapi jangan cepat-cepat berharap fajar menyingsing. Karena matahari hanya terbit bagi mereka yang bangun lebih dulu, menanam benih, dan menyiraminya dengan kesadaran.
Dan hari ini, kesadaran adalah barang yang langka di pasar peradaban.
























