Oleh:
Di sebuah lapangan hijau di Windsor, seorang pria terjatuh. Ia bukan siapa-siapa bagi kebanyakan orang, tetapi bagi dunia—ia adalah segalanya: kaya, terkenal, berdarah biru kapital. Sunjay Kapoor, miliarder dari India, ahli waris kerajaan bisnis otomotif, seorang yang—dalam istilah lama yang banal—telah memiliki segala-galanya: uang, kekuasaan, cinta yang cantik.
Dan lalu: seekor lebah.
Bukan granat, bukan sabotase, bukan konspirasi bisnis. Seekor lebah. Makhluk kecil bersayap bening yang pada suatu siang musim panas menyelinap masuk ke mulut seseorang yang sedang bermain polo, dan dunia seorang pria yang pernah mencium bintang Bollywood itu lenyap seketika. Ia tidak mati di atas ranjang rumah sakit termewah. Tidak mati dalam pelukan istri, atau dikelilingi keluarga. Ia mati, begitu saja. Di lapangan. Di antara para penonton elit dan semilir angin Inggris.
Tapi kisah ini bukan tentang Sunjay Kapoor. Seperti sajak-sajak terbaik Chairil Anwar, ia hanya perantara. Ia adalah wajah dari kita semua. Atau lebih tepatnya: bayangan tentang apa yang akan terjadi pada kita semua.
Sebab pada akhirnya, kematian tak mengenal privilege. Ia tidak mengenakan jas formal ketika datang. Ia tak pernah membuat janji. Ia bisa menyamar sebagai lebah, atau dingin sebagai angka statistik. Ia datang tanpa peringatan. Atau justru terlalu banyak mengirim sinyal yang kita abaikan. Ia tidak peduli siapa yang kita peluk, apa yang kita tonton, seberapa sering kita muncul di berita utama.
Apakah hidup kita benar-benar milik kita, jika kita tak tahu kapan ia akan diambil?
Para filsuf Yunani—yang menua tanpa asuransi—sering berkata: manusia adalah satu-satunya makhluk yang tahu bahwa ia akan mati, tetapi satu-satunya pula yang hidup seakan ia akan abadi. Kita menabung, membuat rencana pensiun, membeli rumah, memilih asuransi jiwa, dan memasang pagar tinggi. Tapi kita tak pernah benar-benar siap untuk pertanyaan mendasar: kalau hari ini adalah hari terakhir, apa yang tersisa dari kita selain nama dan tagihan listrik?
Seekor lebah mengingatkan kita pada satu hal yang terlupa dalam segala gegap gempita pembangunan, pencapaian, dan kursi jabatan: bahwa hidup tidak linear. Ia bukan tangga, melainkan titik-titik. Sebagian bercahaya, sebagian beku, sebagian lainnya hancur sebelum sempat kita beri makna.
Lebah itu mungkin tidak tahu siapa yang ia bunuh. Tapi barangkali, justru karena itulah ia memberi kita pelajaran yang tak bisa dibeli bahkan oleh jet pribadi.
Sebab hidup, pada akhirnya, bukan tentang berapa panjang ia berlangsung. Tapi tentang berapa dalam ia dijalani.
Dan jika esok adalah giliran kita—siapa tahu—apa yang ingin kita wariskan? Bisnis? Foto keluarga di Instagram? Atau satu kata yang membuat seseorang tak jadi menyerah?
Tak ada jawaban yang pasti. Hanya pengingat sunyi: bahwa kita semua sedang dalam antrean.
Dan seekor lebah, mungkin sudah mengepakkan sayapnya.

























