• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Setelah Gatal-Gatal, Munculah Ruam Ruam – Lanjut Ada flu logika Atau Diare Integritas.

Ali Syarief by Ali Syarief
June 17, 2025
in Feature, Tokoh
0
Sindrom Bar Eskrim dan Budaya Buzzerisasi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews  – Orang bijak bilang: kebenaran itu seperti nasi panas—tak bisa dikunyah buru-buru, apalagi ditelan mentah-mentah. Tapi bangsa ini sudah terlanjur doyan makan nasi setengah matang, asal diberi bumbu “harapan masa depan cerah”, disajikan dengan lauk “pemimpin merakyat”, dan diseruput sambal “kerja, kerja, kerja!”

Baru-baru ini, keluar sebuah “getah” dari batang waktu yang sudah kering. Namanya Kasmujo, orang kampus, bukan orang kampung. Gelarnya akademisi, asalnya dari Universitas Gadjah Mada. Institusi yang dulunya tempat menimba ilmu, kini pelan-pelan berubah jadi tempat menimba dusta. Kasmujo bukan siapa-siapa bagi sebagian besar rakyat Indonesia, kecuali bagi satu nama yang katanya presiden hasil dari meritokrasi akademik: Joko Widodo. Atau lebih dikenal dengan nama panggilan sayangnya: Jokowi.

Sudah bertahun-tahun nama Kasmujo disebut-sebut sebagai pembimbing skripsi Jokowi. Digadang-gadang sebagai saksi hidup perjalanan akademik Sang Presiden. Tiba-tiba—seperti petir di siang bolong yang tak pernah tanya izin PLN—Pak Kasmujo bicara. Dalam sebuah wawancara, ia menyangkal segala peran monumental yang selama ini dilekatkan padanya. Katanya: “Saya bukan dosen pembimbing Jokowi. Saya cuma asisten dosen.” Katanya lagi, saat 1985, masa yang disebut sebagai tahun kelulusan Jokowi, dia bahkan belum jadi dosen tetap. Hanya semacam pekerja magang, atau kalau dalam dunia wayang disebut punakawan—muncul hanya untuk menghidupkan lakon.

Maka di sinilah kita sekarang. Dalam fase baru. Setelah gatal-gatal karena tak tahan melihat silsilah akademik pemimpin negara yang kabur seperti wajah mantan yang dipaksakan lupa, sekarang kita mulai demam. Muncul panas-dingin pertanyaan: Jika pembimbing skripsi saja tak jelas, bagaimana bisa kita percaya pada isi kepala dan kredensial kepemimpinan seseorang?

Sungguh, ini bukan hanya soal skripsi. Ini soal jati diri. Tentang negeri yang terlalu sering disuruh percaya pada narasi, bukan pada bukti. Negeri yang suka menutup borok dengan wallpaper kata-kata manis. Negeri yang alergi pada pertanyaan, tapi rakus pada pujian. Dan ironisnya, negeri ini suka menyebut skeptisisme sebagai hoaks, seolah berpikir kritis itu dosa besar di republik demokrasi.

Bila ini hanya gatal-gatal, maka bersiaplah untuk ruam-ruam berikutnya. Mungkin nanti akan terkuak siapa sebenarnya yang menulis skripsi itu. Atau, jangan-jangan kita malah akan menemukan bahwa tak ada skripsi sama sekali. Jangan-jangan Jokowi lulus bukan karena skripsi, tapi karena semangat. Lalu semangat pun dinaikkan pangkatnya jadi “prestasi akademik”. Seperti cerita rakyat yang naik kelas jadi sejarah resmi.

Tentu, kita tak boleh sembarangan menuduh. Tapi kita juga tak boleh sembarangan percaya. Di negeri yang presidennya bisa lahir dari cerita-cerita heroik tanpa dokumen yang lengkap, rakyatnya hanya diberi dua pilihan: percaya atau diam. Bertanya dianggap makar, meragukan dianggap kriminal. Maka kita hanya bisa berujar lirih di antara detak waktu dan kabar hoaks dari istana: setelah gatal-gatal ini, penyakit apa lagi yang akan terasa?

Mungkin nanti ada flu logika. Atau diare integritas. Bisa jadi radang sejarah. Tapi yang paling mengkhawatirkan: mati rasa terhadap kebohongan. Ketika rakyat sudah tak peduli lagi mana yang benar dan mana yang palsu, maka penguasa bisa menyulap apa saja: ijazah bisa jadi emas, dan dusta bisa jadi dekorasi istana.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Trio Tak Berkawan – Sedang Menulis Bab Yg Sama Tentang Jokowi

Next Post

PECINYA SUCI, TANGANNYA KOTOR : Kader Terbaik PBNU

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
PECINYA SUCI, TANGANNYA KOTOR : Kader Terbaik PBNU

PECINYA SUCI, TANGANNYA KOTOR : Kader Terbaik PBNU

Orang Bodoh Itu Sulit Diduga Mau Pergi Kemana?

Orang Bodoh Itu Sulit Diduga Mau Pergi Kemana?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist