Isu siapa pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 pelan-pelan mulai bergerak dari gosip warung kopi menjadi percakapan serius di lingkaran elite. Nama Gibran Rakabuming Raka—yang selama ini diasosiasikan dengan “jalur kekuasaan Jokowi”—justru makin jarang disebut. Sebaliknya, dua nama lain menguat secara senyap namun konsisten: Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad.
Persaingan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bukan lagi rahasia di kalangan politikus. Ini bukan persaingan terbuka, melainkan duel senyap dua poros kekuasaan yang sama-sama dekat dengan Prabowo, namun berasal dari dunia yang berbeda: militer dan politik sipil.
Ketegangan itu bahkan disebut-sebut ikut mewarnai situasi nasional ketika pecah kerusuhan dalam demonstrasi Agustus 2025. Di tengah kekacauan publik, berembus kabar adanya gesekan diam-diam antara tentara dan polisi—gesekan yang oleh sebagian elite dibaca bukan semata soal teknis pengamanan, melainkan refleksi dari kontestasi pengaruh di sekitar pusat kekuasaan Prabowo.
Sebagai purnawirawan jenderal, Sjafrie Sjamsoeddin memiliki jaringan yang kuat dan organik di tubuh TNI. Relasinya dengan Prabowo bukan relasi transaksional, melainkan relasi historis. Keduanya adalah kawan sekelas di Akademi Militer—ikatan yang dalam kultur militer sering kali lebih kokoh daripada kontrak politik mana pun. Posisi Sjafrie di Kementerian Pertahanan memperkuat kesan bahwa ia bukan sekadar pembantu presiden, melainkan bagian dari inti kekuasaan itu sendiri.
Di sisi lain, Sufmi Dasco Ahmad adalah wajah lain dari kedekatan dengan Prabowo: politisi sipil yang tumbuh dan dipercaya sepenuhnya dalam rahim Partai Gerindra. Dasco dikenal piawai membaca medan politik, lincah membangun komunikasi lintas partai, dan—yang paling penting—memiliki akses kuat ke kepolisian. Dalam lanskap politik Indonesia, kedekatan dengan Polri bukan sekadar bonus, melainkan modal strategis.
Jika Sjafrie merepresentasikan stabilitas dan loyalitas militer, maka Dasco mewakili kelincahan politik dan penguasaan parlemen. Keduanya sama-sama menawarkan “jaminan kekuasaan” bagi Prabowo, namun dengan pendekatan yang berbeda. Di sinilah dilema Prabowo 2029 bermula.
Berbeda dengan Gibran yang lebih dilihat sebagai simbol kesinambungan dinasti Jokowi, Sjafrie dan Dasco menawarkan kesinambungan kekuasaan Prabowo itu sendiri. Ini penting. Prabowo bukan Jokowi. Ia lahir dari tradisi militer, besar dalam konflik elite, dan memahami kekuasaan sebagai soal keseimbangan paksa antar-institusi negara.
Dalam konteks itu, memilih pendamping bukan soal elektabilitas semata, melainkan soal siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan antara tentara, polisi, parlemen, dan partai. Dan sejauh ini, justru Sjafrie dan Dasco yang memenuhi syarat itu—bukan Gibran.
Maka wajar jika arah angin politik mulai berbisik: pendamping Prabowo 2029 hampir pasti bukan Gibran. Pertarungan sesungguhnya ada di lingkar dalam, antara jenderal tua yang setia dan politisi licin yang cerdas. Bukan soal siapa paling populer di publik, melainkan siapa paling menjamin kelangsungan kekuasaan di balik layar.
Dan seperti biasa dalam politik Indonesia, keputusan akhir mungkin baru diumumkan di menit terakhir—saat semua orang merasa sudah tahu jawabannya, padahal justru sedang dikelabui.























