• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Sumpah Pemuda Gibran & Kaesang; Mau Bicara Apa – Dekadensi Nilai Nasionalisme di Era Politik Dinasti

Ali Syarief by Ali Syarief
October 27, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Mendukung RIKA Meraih Jakarta 1: Mempermudah Target Jokowi-Kaesang-Gibran
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Sumpah Pemuda lahir dari semangat zaman ketika idealisme adalah napas dan pengorbanan adalah harga yang wajar untuk sebuah cita-cita besar bernama Indonesia. Pemuda 1928 bersepakat untuk menanggalkan identitas kedaerahan demi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Mereka menatap jauh melampaui kepentingan pribadi, apalagi keluarga. Kini, hampir seabad kemudian, semangat itu seolah menguap di tengah generasi yang hidup di bawah bayang-bayang politik dinasti dan mentalitas patronase yang makin menebal.

Kita hidup dalam masa ketika nasionalisme kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi menjadi kompas moral, melainkan sekadar dekorasi retorik di panggung seremonial negara. Di tangan elite, kata “persatuan” menjelma alat legitimasi untuk menutupi kerakusan kekuasaan. Generasi muda menyaksikan bagaimana jabatan publik diwariskan, bukan karena kapasitas, tetapi karena garis darah. Dalam lanskap seperti itu, apa yang bisa diteladani? Sumpah Pemuda menjadi slogan kosong, sebab keadilan sosial tak lagi menjadi cita bersama, melainkan privilese keluarga tertentu.

Sementara itu, di level akar rumput, rasa percaya terhadap institusi negara terus menipis. Anak muda tumbuh dengan kesadaran baru: bahwa meritokrasi adalah mitos, bahwa perjuangan tak selalu berbuah hasil. Mereka yang idealis sering kali dikalahkan oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan. Ketika kesetiaan lebih dihargai daripada kecakapan, maka lahirlah generasi yang pragmatis, bukan patriotik. Nasionalisme mereka menjadi cair, tak lagi mengikat pada tanah air, melainkan pada peluang yang paling menguntungkan.

Ironisnya, banyak politisi kini bersembunyi di balik jargon “regenerasi” untuk melanggengkan dinasti. Mereka menampilkan wajah-wajah muda di panggung politik, seolah itu tanda kemajuan. Padahal, yang muda bukan berarti baru; yang muda bukan berarti membawa nilai. Ketika darah muda dipakai sekadar untuk menutupi bau anyir kekuasaan lama, maka generasi baru itu hanyalah cermin dari kemunduran yang disulap tampak segar.

Sumpah Pemuda seharusnya menjadi pengingat bahwa bangsa ini lahir dari keberanian untuk melawan patronase dan feodalisme. Namun kini, justru di tangan para pemimpin yang mengklaim diri sebagai “penerus perjuangan,” semangat itu diluruhkan perlahan-lahan. Indonesia yang dulu dijanjikan untuk semua, kini terasa semakin sempit, dikuasai oleh segelintir nama yang sama dari generasi ke generasi.

Pertanyaannya, di mana posisi pemuda hari ini? Apakah mereka masih memiliki keberanian untuk berkata “tidak” terhadap ketidakadilan yang disamarkan dengan dalih stabilitas? Ataukah mereka telah menjadi penonton pasif dari panggung kekuasaan yang semakin sempit, di mana semua peran utama telah ditentukan sejak awal?

Sumpah Pemuda bukan hanya deklarasi masa lalu. Ia seharusnya menjadi kompas bagi arah masa depan. Jika nasionalisme hari ini terasa hampa, maka barangkali kita sedang menyaksikan pengkhianatan paling halus: ketika cinta tanah air digantikan oleh cinta kekuasaan. Dan di tengah semua kebisingan itu, Indonesia membutuhkan lagi semangat yang dulu membuat para pemuda berani melawan arus—bukan untuk menjadi pewaris takhta, melainkan penjaga nurani bangsa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Swasta Diberikan 110 Persen Impor BBM – Bahlil Tak Mengerti Bekerja Membangun Ekonomi

Next Post

Bangga Berbahasa Indonesia

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Bangga Berbahasa Indonesia

Bangga Berbahasa Indonesia

Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Hendardi: Fadli Zon Jangan Cari Sensasi

Hendardi : Gelar Pahlawan Soeharto Khianati Reformasi 1998 dan Bertentangan dengan Hukum

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist