JAKARTA-FusilatNews — Peringatan Hari Penyiaran Nasional ke-93 diwarnai dorongan kolaborasi antara dunia penyiaran, perbankan syariah, dan pelestarian budaya lokal. Seminar yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia Daerah DKI Jakarta menghadirkan gagasan tak biasa: menabung emas mulai Rp50 ribu sebagai bagian dari gerakan ekonomi berbasis budaya.
Kegiatan bertema “Hidupkan Konten Budaya Lokal, Tanggung Jawab Siapa?” ini berlangsung di Kampus Universitas Islam As-Syafi’iyah, Jalan Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta Timur. Seminar dibuka oleh Rektor UIA, Masduki Ahmad.
Pimpinan Cabang Bank Syariah Indonesia, Abdullah Najib, yang menjadi sponsor acara, menekankan pentingnya membangun kesadaran finansial berbasis syariah sekaligus mendukung budaya lokal.
“Dengan hanya Rp50 ribu, masyarakat sudah bisa mulai menabung emas di BSI. Ini bukan sekadar investasi, tapi bagian dari membangun kemandirian ekonomi keluarga sekaligus mendukung ekosistem budaya lokal,” ujarnya di hadapan mahasiswa dan peserta seminar.
Ia juga menyinggung pentingnya kolaborasi antara BSI dan UIA agar tidak terjadi paradoks sosial-ekonomi, yang diibaratkannya sebagai “tikus mati di lumbung padi”—memiliki potensi besar namun tidak dimanfaatkan.
Ketua KPID DKI Jakarta, Ahmad Sulhy, menegaskan bahwa kualitas siaran menjadi kunci dalam menghidupkan identitas Jakarta sebagai kota budaya.
Mengusung slogan “Siaran Terjaga, Jakarta Menyala”, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bertanggung jawab terhadap konten lokal, khususnya budaya Betawi.
Panelis seminar, Beky Mardani, menyampaikan bahwa budaya Betawi memiliki daya tarik tinggi jika dikemas dengan baik. Ia mencontohkan kesuksesan sejumlah tayangan seperti Si Doel Anak Sekolahan, Bajaj Bajuri, hingga Tukang Bubur Naik Haji.
“Tidak ada alasan media menolak konten lokal. Justru terbukti memiliki rating tinggi dan menguntungkan. Tapi seniman juga harus mampu menghadirkan karya yang menarik,” tegasnya.
Menurut Beky, budaya Betawi memiliki kekayaan yang tidak akan habis untuk dieksplorasi, selama ada keseriusan dalam pengembangan konten.
Diskusi juga menghadirkan akademisi Nanda Khairiyah dan praktisi komunikasi Regina N.S., dengan moderator Siti Rafiningsih.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya perwakilan Pusat Studi Betawi, PJMI, serta anggota KPID DKI seperti Luli Barlini dan sejumlah akademisi.
Seminar ini menegaskan satu hal: pelestarian budaya tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan dukungan media, keberanian seniman, dan bahkan inovasi ekonomi—termasuk dari sektor perbankan.
Di tengah arus globalisasi, gagasan sederhana seperti menabung emas Rp50 ribu justru dimunculkan sebagai simbol perlawanan: membangun kekuatan dari bawah, sambil menjaga identitas lokal tetap menyala.


























