Fusiltanews – Ada yang janggal pada sebuah panggung reuni. Bukan pada dekorasinya, bukan pula pada daftar undangan yang terlalu panjang, tapi pada atmosfer yang seolah kehilangan keseimbangan antara intelektualitas dan kepantasan. Rektor Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia, berdiri di podium, menyampaikan pidato yang semestinya menjadi representasi kebijaksanaan seorang ilmuwan, namun justru memunculkan kesan yang sulit dicerna: genit, ganjen, dan kehilangan wibawa. Begitu kira-kira penilaian lugas yang diutarakan oleh dokter Tifa dalam akun X-nya.
Dalam dunia akademik, bahasa tubuh adalah perpanjangan dari akal sehat. Seorang rektor bukan hanya berbicara dengan kata-kata, tapi juga dengan tatapan, gestur, dan sikap tubuh yang mencerminkan karakter universitas yang dipimpinnya. Namun pada momen itu, sesuatu tampak tidak sinkron. Seakan ada kekuatan bawah sadar yang membuat Bu Rektor kehilangan kendali atas dirinya, dan sorotan matanya mengarah pada sosok yang—ironisnya—tidak memahami sepenuhnya untuk apa ia hadir di acara itu.
Sosok itu hadir seperti stuntman yang lupa digambari tahi lalatnya: peran pengganti yang kehilangan identitas aslinya. Sebuah simbol dari kepalsuan yang ingin disamarkan, tapi justru menjadi semakin kentara karena ketidaksempurnaannya. Tahi lalat yang hilang itu bukan sekadar detail fisik—ia adalah metafora bagi keaslian yang lenyap, sebuah tanda otentisitas yang tak bisa dipalsukan oleh kostum, sertifikat, atau panggung kehormatan.
Ketika seseorang hadir di ruang akademik dengan ijazah yang diragukan, ia tak hanya membawa kebohongan administratif, tetapi juga merusak etika pengetahuan. Reuni yang semestinya menjadi ruang nostalgia justru berubah menjadi panggung absurditas, tempat kebenaran intelektual menunduk di bawah bayang-bayang kekuasaan.
Dalam konteks ini, pidato Bu Rektor bukan sekadar persoalan gaya atau perilaku personal, melainkan refleksi dari bagaimana universitas—sebagai lembaga penjaga rasionalitas—bisa tergelincir menjadi alat legitimasi bagi kepalsuan. Ketika intelektual tunduk pada simbol kuasa yang kosong, ketika bahasa tubuh akademisi lebih sibuk menatap penguasa daripada menatap kebenaran, maka tahi lalat yang hilang itu menjadi penanda: bahwa otentisitas bangsa ini sedang dihapus sedikit demi sedikit, diganti oleh kepura-puraan yang difasilitasi oleh seremonial dan tepuk tangan.
Barangkali, seperti yang disindir Dr. Tifa, bukan hanya rektor yang kehilangan kendali diri, tapi seluruh institusi yang pernah kita banggakan itu kini sedang kehilangan roh kejujuran intelektualnya.
























